Pdt. Weinata Sairin: “Umat Beragama: Hidup Tiada Takut”

0
209

 

“Death is not the biggest fear we have; our biggest fear is taking the risk to be alive – the risk to be alive and express what we really are” (Miguel Angel Ruiz)

 

Hidup manusia dalam beberapa waktu terakhir ini diancam dengan berbagai ketakutan. Hidup tidak lagi tenang dan ‘bahagia’; hidup tidak lagi nyaman dan menggairahkan. Hidup dipenuhi dengan rasa cemas, anxietas yang merasuki seluruh kedirian dan hidup menjadi mendebarkan. Bahkan jika kondisi semakin parah hidup dijalani dengan ketergantungan obat terutama obat-obat anti-depresan mulai dari obat dengan dosis rendah hingga obat dengan dosis tinggi.

 

Menurut literatur psikologi takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup yang terjadi sebagai respons terhadap suatu perilaku tertentu seperti rasa sakit atau bahaya. Akhir-akhir ini memang begitu beragam yang menjadi sumber ketakutan manusia baik pada aras lokal, regional, nasional maupun global. Bahkan yang mengerikan sekarang ini pola pola kejahatan pada aras global, misalnya terorisme, terjadi juga pada aras lokal bahkan para pembuatnya adalah warga domestik yang mampu merakit bom melalui petunjuk internet atau karena pernah di latih di manca negara.

 

Ada banyak orang yang takut keluar rumah pada waktu-waktu terakhir ini karena kuatir akan ada bom yang meledak, ada rampok, begal, penculik anak, penjahat yang membobol ATM kita, kejahatan seksual, perdagangan orang, penipuan dan beragam tindak kriminal lainnya yang menambah daftar ketakutan. Dalam beberapa minggu terakhir masyarakat juga di cekam ketakutan karena adanya badai siklon Cempaka, Dahlia, erupsi Gunung Agung sehingga ketidaknyamanan hidup benar-benar terganggu dan rasa takut menghantui banyak warga masyarakat.

Baca juga  DALAM KELEMAHAN KITA, KUASA TUHAN MENJADI SEMPURNA 

 

Rasa takut tentu memiliki

kualitas dan bobot sendiri-sendiri, mengacu kepada pribadi seseorang dan berdasar pada sesuatu yang menimbulkan ketakutan itu sendiri. Ketakutan seseorang terhadap kegagalan studinya di S2 akan berbeda dengan ketakutan seseorang yang sedang berada dimeja operasi untuk diambil tindakan dalam mengatasi penyakit jantung koroner yang ia derita. Ketakutan seseorang bahwa dirinya tidak akan terpilih menjadi pimpinan parpol, akan berbeda dengan ketakutan seseorang kalau-kalau ia nanti terkena OTT oleh lembaga anti rasuah. Keragaman ‘jenis’ dan bobot ketakutan itu secara psikologis tetap saja memberi beban berat bagi setiap orang, walaupun rasa takut itu sendiri adalah sesuatu yang manusiawi.

 

Ada sahabat yang memberi tips bagaimana sebaiknya menundukkan rasa takut yang menghampiri diri. Kita harus mengetahui dan memahami ketakutan yang ada dalam diri kita. Apa yang ditakuti, benda atau peristiwa apa. Lalu kita mesti melawan rasa takut itu dengan mengendalikan emosi dan mental serta meningkatkan rasa percaya diri. Bisa juga kita alihkan pikiran kita ke obyek lain atau kita lakukan kegiatan lain. Kita ubah rasa takut dengan melakukan relaksasi, yakin terhadap diri sendiri, lakukan meditasi atau yoga. Bisa juga kita share rasa takut itu kepada orang lain dan kita mendiskusikannya.

 

Ada orang bijak yang berucap bahwa rasa takut itu bukan penghambat untuk bergerak tetapi justru pemicu lahirnya sebuah pergerakan!

 

Agama-agama mengajarkan umatnya untuk mewujudkan sikap yang berani. “Berani karena benar, takut karena salah” itu ungkapan peribahasa dari zaman baheula yang amat jelas dan tidak memerlukan lagi sebuah tafsir. Jika kita merasa benar kita hadapi orang atau lembaga, tak usah kita lari kesana kemari. Atau kita ikuti proses hukum yang standar dan baku, hukum yang independen akan menyatakan apakah kita salah atau benar. Para penegak hukum yang beragama dan menjunjung tinggi moral dan etika akan memproses semua dengan prosedur standar;  dan undang-undang menyatakan bahwa setiap orang berkedudukan sama didepan hukum. Janganlah kita takut. Kita hanya boleh *takut* kepada Tuhan Yang Maha Esa yang kuasaNya mengatasi segala sesuatu.

Baca juga  Perumpamaan Menabur Benih

 

Kita sebagai umat beragama, yakin dan percaya bahwa Tuhan akan selalu melindungi kita. Ada beragam kejahatan dan tindak kriminal yang menyekitari kehidupan kita, kita harus terus berdoa memohon perlindunganNya agar kita selamat, damai dan srjahtera. Pepatah yang dikutip dibagian awal menyatakan bahwa kematian bukanlah ketakutan terbesar yang kita hadapi. Ketakutan kita justru tatkala kita berani mengambil resiko untuk hidup dan berani mengungkapkan kesiapaan kita, ditengah turbulensi yang mengguncang bumi kita.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here