Hidup dalam Pendamaian Kristus

0
5168

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Kolose 1:15-23

(15) Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, (16) karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (17) Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. (18) Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. (19) Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, (20) dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, (22) sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (23) Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

 

Damai itu indah. Damai itu baik. Itulah tulisan atau bunyi slogan dan semboyan yang biasanya kita jumpai, ketika kita berjalan di jalan raya. Kalimat itu sederhana. Kalimat itu singkat. Tapi, mengandung arti yang sangat dalam. Ketika damai itu ada dan terjadi dalam kehidupan kita, maka segala-galanya akan baik, akan lancar-lancar saja, bahkan kesejahteraan dan sukacita pun akan terlihat dan terasa dalam hidup ini. Namun, seringkali itu hanya berupa slogan atau semboyan belaka yang ditemukan di jalan-jalan. Tapi, ketika kita berada dalam rumah, dalam masyarakat, bahkan dalam gereja sendiri, damai itu bagaikan angin lalu yang terdengar sebentar lalu kemudian hilang begitu saja. Damai hanya bisa diucapkan oleh manusia, tapi belum dimaknai dan dihayati dengan benar.

Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, mencoba mengingatkan mereka di sana, bahwa Kristus adalah sumber damai yang sejati dalam kehidupan ini. Yesus Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan dan yang sulung. Didalam Yesus berdiam seluruh kepenuhan Allah. Artinya, Allah yang kudus dan suci, tidak mempertahankan eksistensi-Nya atau keberadaan-Nya sebagai Allah yang hanya menciptakan, melihat dan memberi perintah. Tapi, Allah juga mau menyelamatkan dan memperdamaikan diri-Nya dengan manusia, melalui Yesus. Kalau dipikir dan direnungkan, banyaklah sudah dosa dan kesalahan yang manusia perbuat. Begitu besarnya dosa itu sehingga tidak ada lagi pengampunan yang pantas atau layak diberikan atas kehidupan manusia. Tapi, kasih Allah begitu besar (Yoh. 3:16) sehingga Ia mau berdamai dengan manusia.

Oleh karena itu, menurut Paulus setelah menerima kasih-Nya yang begitu besar, setelah menerima pendamaian yang begitu agung dan indah, maka setiap orang percaya harus memperhatikan tanggung jawab dan kegiatannya dalam hidup ini supaya pada akhirnya mereka dapat berdiri di hadapan Kristus dengan “kudus dan tak bercela dan tak bercacat”. Kita harus 1) “bertekun dalam iman”, yaitu memelihara iman yang tabah pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat; 2) “tetap teguh dan tidak bergoncang” dalam setiap pengajaran yang sudah Yesus berikan; dan, 3) “jangan mau digeser dari pengharapan injil,” yaitu kita tidak boleh kembali ke keadaan lama kita yang tanpa harapan dengan segala perbuatan jahatnya yang membinasakan jiwa itu (Kol. 3:5-11; Ibr. 10:38).

Damai yang sudah diberikan oleh Yesus bagi masing-masing kita, haruslah menjadi modal utama untuk kita hidup dengan orang lain. Damai yang dianugerahkan itu harus “digandakan” dalam kehidupan ini (bnd. Mat. 18:21-35). Dimana saja, selama manusia itu hidup pasti ada perbedaan, pasti ada orang yang lain, tapi perbedaan itu janganlah menjadi kendala apalagi penghancur perkutuan. Sebaliknya, biarlah itu menjadi kekayaan besar untuk membangun persekutuan yang indah di dalam Tuhan.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut Anak-anak Allah (Mat. 5:9). Inilah hal yang harus kita bawa dan nyatakan di mana pun kita berada. Sebab, dengan melakukan hal demikian kita akan tetap disebut sebagai anak-anak Allah. Jangan mau hak kita sebagai anak Allah terkoyak hanya karena emosi yang tinggi, amarah yang besar, atau dendam yang membara. Ingatlah Efesus 4:26-27, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. Dan janganlah beri kesempatan kepada iblis”.  Camkanlah dan lakukanlah semua itu sebab itulah modal dan jaminan kita untuk disebut sebagai anak-anak Allah dan manusia baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here