Menceritakan Perbuatan Tuhan

0
3679

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

Mazmur 9:2-11

(2) Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; (3) aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, (4) sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu.

9:5 Sebab Engkau membela perkaraku dan hakku, sebagai Hakim yang adil Engkau duduk di atas takhta. (6) Engkau telah menghardik bangsa-bangsa, telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya; (7) musuh telah habis binasa, menjadi timbunan puing senantiasa: kota-kota telah Kauruntuhkan; lenyaplah ingatan kepadanya. (8) Tetapi TUHAN bersemayam untuk selama-lamanya, takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman. (9) Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran. (10) Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan. (11) Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.

 

“Aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib”, demikian keinginan Daud di hadapan Tuhan. Apa alasan keinginannya ini? Hati yang bersyukur. Hati yang bersyukur adalah hati yang berterima kasih. Tuhan telah berbuat, maka saya patut berterima kasih. Tidak menceritakan berarti tidak berterima kasih. Inilah dasarnya mengapa ada ibadah syukur, yakni ibadah untuk berterima kasih kepada Tuhan. Tuan rumah biasa menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami dari Tuhan.

Perbuatan Tuhan mana yang diceritakan? Menurut pemazmur, perbuatan Tuhan yang ajaib. Ajaib di sini maksudnya, datangnya tindakan Tuhan disaat kita tidak bisa menolong diri kita sendiri. Hanya Tuhan yang dapat melakukannya. Misalnya, kita berterima kasih karena Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya. Kita tahu bahwa kita tidak bisa menolong diri kita pada waktu itu. Pada hari ulang tahun kita berterima kasih, karena kita tidak mungkin memanjangkan umur kita walau sedetik saja. Kita berterima kasih atas keberhasilan, karena kita percaya tanpa campur tangan Tuhan semua itu tidak mungkin kita alami. Ajaib, karena kita tahu bahwa diri kita tidak bisa mengusahakannya namun Tuhan melakukannya. Ajaib tidak hanya terbatas pada hal-hal besar tapi juga pada hal-hal kecil dan yang kelihatannya biasa-bisa saja. Kita hidup hari ini, dapat makan, bertemu orang lain, selamat dalam perjalanan pun harus disyukuri karena Tuhan memperkenankan kita untuk itu. Jadi sebenarnya, kita harus bersyukur setiap saat karena dalam setiap detik ada perbuatan Tuhan yang ajaib. Selain itu, kita juga patut bersukur dalam kesusahan dan penderitaan ada tindakan Tuhan untuk kebaikan kita di sana (ay. 10).

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Mengapa syukur atau rasa terima kasih, kemudian, harus dinyatakan dengan menceritakan perbuatan Tuhan? Karena hati yang berterima kasih selalu berorientasi ke situ. Inilah inti kekuatan pemberitaan gereja di mana-mana: menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan. “…beritakanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” (Maz 9:12). Perbuatan Tuhan, dalam segala bentuknya, selalu berakibat baik dan orang yang menerimanya akan berbahagia. Kebahagiaan ini biasanya tidak terbendung, orang ingin meluapkannya melalui doa, pujian, air mata bahagia dan seruan. Tetapi ternyata ini tidak cukup, kebahagiaan itu ingin keluar melalui kesaksian, melalui kata-kata lisan atau pun tulisan agar orang lain tahu. Alkitab penuh dengan kesaksian-kesaksian orang yang menerima perbuatan Tuhan. Gereja-gereja diwarnai dengan kesaksian seperti ini.

Dorongan ini jugalah yang bergelora di dada pemazmur sehingga dia berseru, “Aku mau bersyukur kepada Tuhan …aku mau menceritakan perbuatan-Mu yang ajaib.” Ia tidak dapat menahan rasa bahagianya untuk ‘konsumsi’ sendiri melainkan meluapkan itu dalam kata-kata sehingga orang lain pun tahu. Andaikan dia tidak menyatakan kesaksiannya, kita tentu tidak tahu bagaimana Allah bertindak membela perkaranya, melindunginya dari orang fasik. Kita juga mungkin tidak tahu betapa kuat keyakinannya pada Tuhan. Tapi dari kesaksiannya itu kita boleh mendengar lagi tentang kebaikan Tuhan.

Salah satu motto gereja adalah bersaksi. Apa yang kita saksikan? Yang kita saksikan bukanlah keluarga kita, pekerjaan kita, jabatan kita atau diri kita, melainkan perbuatan Tuhan! Perbuatan Tuhan dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kehidupan anak-anak dan dalam diri kita. Tapi sayang kesaksian gereja semakin redup saja, kadang-kadang terkesan malu-malu kucing. Ataukah Tuhan tidak lagi bertindak bagi kita? Ah, yang benar saja. Rasanya Tuhan terus bertindak, kog. Cuma tidak terungkap sehingga kita tidak tahu. Kenapa? Karena kita enggan menceritakan perbuatan-Nya. Jikalau kita mampu mematahkan rasa enggan ini, maka “ruang-ruang kesaksian” tidak akan sepi atau kekurangan orang yang bersaksi karena banyak orang rindu menguraikan ceritanya tentang perbuatan Tuhan. Waktu-waktu latihan paduan suara akan dipenuhi oleh banyak orang yang ingin memuji Tuhan karena perbuatan-perbuatan-Nya. Ibadah komisi dan jemaat tidak akan menjadi gersang karena hanya mendengar suara momolog pendetanya yang berkhotbah. Tetapi sebaliknya, kita akan mendengar suara-suara yang lain juga. Keluarga-keluarga akan menahan diri utuk menghadiahkan 1001 macam permainan kepada anak-anaknya sebelum jiwa mereka akrab dengan cerita-cerita perbuatan-perbuatan Tuhan. Jemaat akan menjadi jemaat yang rajin berdoa mensyukuri hari-hari hidupnya yang penuh dengan perbuatan Tuhan. Tempat-tempat ibadah akan dicari oleh orang yang ingin sujud di hadapan Tuhan, Allah yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya, dan seterusnya. Camkanlah: mutu persekutuan kita tidak dimulai dari kelembagaanya melainkan dimulai dari tugas kesaksian kita. Lembaga gereja adalah ‘alat’ untuk mengoptimalkan tugas ini. Kalau kesaksian kristiani merosot hanya karena kita direpotkan dengan segala tetek bengek urusan kelembagaan maka kita harus berpikir ulang.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Ceritakanlah perbuatan Tuhan. Jangan dikurangi dan jangan dilebih-lebihkan! Bukankah sering terjadi bahwa orang suka mengurangi atau menambah apa yang dilakukan Tuhan? Kita kurangi atau tambahi supaya ceritanya semakin seru dan menakjubkan. Terkadang terselip harapan supaya kita dikagumi? Atau, supaya perbuatan Tuhan itu tidak terkesan menghantam kita pada hal memang Tuhan sedang menghantam kita. Ceritakanlah apa adanya sesuai yang kita lihat dan rasakan.

Ceritakanlah perbuatan Tuhan di mana pun kita berada. Menceritakan perbuatan Tuhan tidak selalu harus dengan kata-kata. Kita juga dapat menceritakannya melalui tubuh kita, tindak-tanduk kita. Kita adalah ‘surat’ Kristus yang akan di baca oleh dunia ini. Bisa jadi Tuhan sedang melakukan perbuatan-Nya yang ajaib melalui diri dan perbuatan kita. Dengan menolong orang miskin dan menderita, dengan menjadi pelopor kasih dan keadilan orang lain akan membaca perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Perbuatan-perbuatan yang baik selalu berhubungan dengan Tuhan. Sementara perbuatan-perbuatan manusia selalu bersifat kedagingan, cenderung mementingkan diri sendiri. Menceritakan perbuatan Tuhan melalui diri kita akan terlihat dalam sikap mau menolong, sikap berpolitik yang berintikan kasih, cara kita menegakkan hukum, moral kita dalam menjalankan amanat pekerjaan dan lain sebagainya. Bertindak seperti ini sulit, tetapi jika kita mau, akan menimbulkan kekaguman dan orang pun akan bertanya atas dasar apa mereka bersikap seperti itu?

Seorang pemuda gereja lulus tes masuk kemiliteran. Ia ikut pendidikan dan latihan bersama prajurit lainnya. Suatu hari sersan pelatih mau menguji mental prajurit-prajuritnya. Sersan mendekati mereka waktu latihan dan tiba-tiba melemparkan sebuah granat yang tidak aktif ke tengah-tengah mereka. Para prajurit lari berpencar, cepat-cepat mencari tempat perlindungan. Si pemuda gereja tadi buru-buru menjatuhkan dirinya ke atas granat agar ledakannya tidak mencederai kawan-kawannya. Ia rela berkorban demi yang lainnya. Melihat sikapnya itu, sang sersan pelatih kagum dan memberinya penghargaan atas keberaniannya.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Maukah kita menjadi alat Tuhan dalam menceritakan, sekaligus mempraktekkan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here