Segala Sesuatu adalah dari Dia

0
3625

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Roma 11:25-36

(25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. (26) Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. (27) Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.” (28) Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. (29) Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. (30) Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, (31) demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. (32) Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. (33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (35) Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? (36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

 

Dunia sedang mengalami perubahan-perubahan besar, baik secara teknologi maupun secara ekonomi. Bahkan, alam pun mengalami banyak perubahan besar. Perubahan-perubahan dunia saat ini tidak selalu menghasilkan kebaikan bagi manusia, karena kemajuan (yang menandai perubahan itu) seringkali malah membahayakan kehidupan manusia itu sendiri.

Contohnya pembangunan kota, seringkali mendatangkan bencana bagi masyarakat karena berdampak pada perusakkan sumber-sumber air. Penebangan pohon-pohon di “kawasan hijau” telah mengakibatkan erosi, banjir dan sebagainya.

Lalu kita mulai berpikir apakah Tuhan menghendaki supaya bumi ini menjadi binasa, padahal kita sendiri tahu dalam kitab Kejadian Dia memberikan mandat penuh kepada manusia untuk mengelolah bumi dan isinya. Kalau begitu, di mana letak kesalahannya? Jangan cepat-cepat menuding Allah sebagai sumber masalah kita. Coba lihat Roma 11, di sana dengan jelas dinyatakan bahwa manusia hidup dalam ketidaktaatan. Ketidaktaan manusia kepada Penciptanya itu telah membawa bencana bagi manusia.

Sebabnya adalah manusia bekerja dengan mengandalkan kemampuannya sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada keangkuhan manusia ketika membangun menara Babel yang canggih, namun gagal karena kesombongannya.

Kita harus memahami bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita peroleh di dunia ini adalah milik Tuhan. Kita diberikan kesempatan untuk mengelolahnya dengan penuh tanggung jawab bahkan mengupayakannya bagi kebaikan bumi ini. Terkait dengan itu, kita juga dituntut untuk memberi rasa aman dalam kehidupan masyarakat, dengan demikian kita mengakui kemahakuasaan Allah seperti pengakuan Paulus (yang dikutipnya dari Yesaya): “Siapakah yang dapat mengetahui pikiran Tuhan, atau siapakah yang pernah menjadi penasehat-Nya, atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya sehingga Ia harus menggantikannya? (Roma 11:34-35; bnd. Yesaya 40:13).

Paulus mengakui bahwa manusia adalah manusia yang punya keterbatasan, ia tidak mungkin melawan kehendak Allah, sebab Allah adalah Sang Pencipta yang berkuasa mengatur hidup manusia.

Karena itu marilah kita taat kepada-Nya dan bertanggung jawab terhadap anugerah dan pemberian-Nya. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia; bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here