Tuhan Meneguhkan KeselamatanNya atas Mereka yang Bertobat

0
867

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

1 Petrus 2:1-5

(1) Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. (2) Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, (3) jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. (4) Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. (5) Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

 

Pada awal pembacaan ini, kita dinasihati untuk membuang segala bentuk kejahatan, lalu hidup secara baru laksana bayi yang baru lahir. Bagaimana kondisi bayi yang baru lahir? Serba bergantung! Orang yang sudah bertobat, menurut Paulus, harus seperti bayi. Ia harus serba bergantung. Bergantung kepada siapa? Kepada Tuhan. Serba bergantung adalah keadaan dimana kita berserah sepenuhnya pada Tuhan. Dalam kehidupan rumah tangganya, pekerjaannya dll, semua dijalani dalam penyerahan kepada Tuhan. Ia tidak lagi hidup dalam iman “senin-kamis” atau iman “kapal selam”, karena hidup berserah selalu ditandai dengan kepatuhan yang berlangsung terus menerus.

Bayi juga sangat membutuhkan air susu yang murni atau yang sejati. Air susu yang murni sangat bermanfaat bagi bayi dalam tahap awal pertumbuhannya. Selain itu, ia juga membutuhkan aspek rohani, yaitu belaian kasih sayang untuk ketentraman hati dan jiwanya. Lagi, menurut Paulus, orang bertobat harus menerima sesuatu yang sejati dalam hidupnya. Apakah unsur paling sejati dalam hidup ini? Firman! Di luar firman tidak ada yang sejati, semuanya fana. Sebuah pertobatan tanpa keterbukaan pada firman tidak akan membawa seseorang pada keselamatan. Oleh karena itu, ia harus bergaul dengan firman. Ia harus rajin membaca Alkitab. Orang bertobat bukan hanya terbuka pada firman, tetapi juga harus memelihara kehidupan rohaninya. Kehidupan rohani tidak dapat dilepaskan dari ibadah dan doa. Oleh karena itu ia harus rajin beribadah, rajin berdoa dan bahkan rajin bersekutu (misalnya, hidup berjemaat). Kehidupan rohani yang mengabaikan persekutuan akan mencipatakan suatu kehidupan rohani yang egoistis. Orang Kristen tidak boleh mengembangkan kehidupan rohani yang egoistis, karena dia adalah bagian dari Tubuh Kristus.

Baca juga  JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN TUHAN

Kehidupan pertobatan yang dijalani laksana bayi di atas akan memungkinkan seseorang bertumbuh dan beroleh keselamatan dalam Kristus Yesus. Keselamatan akan diteguhkan dalam dirinya. Yang menarik, menurut Paulus juga, hendaklah pertobatan dan pertumbuhan di atas terjadi pada mereka yang benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. Siapakah di antara kita yang tidak mengecap kebaikan Tuhan? Rasanya tidak ada. Semua orang telah dan akan menerima kebaikan Tuhan. Oleh karenanya, kita harus bertobat dan hidup dalam penyerahan diri kepada Tuhan!

Selanjutnya kita diajak untuk menjadi ‘batu yang hidup’ untuk pembangunan rumah rohani. Di sini Paulus sedang berbicara mengenai pembangunan Tubuh Kristus di mana setiap orang percaya adalah unsur penting dalam pembangunannya. ‘Batu yang hidup’ menjelaskan kualitas percaya (iman) kita yang juga hidup di hadapan Tuhan. Rumah rohani (Tubuh Kristus) tidak dibangun dari unsur-unsur mati, melainkan unsur-unsur yang hidup dan berkembang. Unsur-unsur itu adalah manusia yang hidup dalam percayanya. Jika manusia tidak lagi hidup dalam percayanya, apakah Tubuh Kristus akan mati? Oh tidak, karena yang mati akan digantikan oleh yang hidup. Selalu ada yang baru, yang dihidupkan Tuhan untuk menggantikan yang iman yang “mati”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here