Bahan PA GMKI: Dialog yang dimulai dengan Belas Kasihan

0
920

Oleh: Binsar Jonathan Pakpahan

Matius 9:35-38

Para abad 21 ini, kita memiliki banyak sekali keunggulan teknologi informasi dibandingkan sebelumnya. Kemajuan media penyebaran informasi membuka kebebasan seluas-luasnya bagi orang dalam mengeluarkan pendapat dan opini mereka. Generasi sekarang mungkin akan dikenal sebagai generasi jempol. Sayangnya, orang tidak hanya memenuhi internet dengan komentar positif, atau membangun. Banyak komentar diberi hanya karena mereka ingin memberi komentar dan mengeluarkan kebencian mereka. Orang ingin pendapatnya didengar orang, atau dalam hal ini dibaca orang, tanpa keinginan untuk mendengarkan yang lain.

Beberapa forum yang saya ikuti memiliki tendensi seperti ini, baik dalam facebook, atau komentar-komentar berita yang ada di Internet. Topik seperti apapun akan segera dikomentari dengan pendapat sampah yang banyak kita temui di internet. Menurut sebuah penelitian, kebebasan berpendapat dan tidak adanya keterikatan tempat dan waktu dari yang membuat komentar terhadap hal yang dikomentarinya, membuat orang cenderung mengeluarkan pendapat “sesuka hatinya.”

Keterputusan hubungan personal kita dengan manusia lain, yang muncul sebagai efek lain dari kemajuan teknologi, membuat kita tidak bisa merasakan atau menempatkan diri kita di posisi mereka. Hal ini membuat kita bisa membuat komentar penuh emosi, meskipun kita sendiri tidak merasakannya, misalnya tanda 🙂 sementara kita cemberut, atau menuliskan hahahaha…. Atau wkwkwkwk … tapi kita sendiri termenung. Sifat anonimus dan keterlepasan dari manusia yang lain, membuat kita lepas kontrol dalam berpendapat. Lempar komentar sembunyi HP/komputer. Ini membuat kita tidak lagi berdialog dengan baik dan tidak menganggap lawan bicara kita sebagai seorang manusia yang juga punya perasaan dan pendapat.

Selepas menyampaikan khotbah di atas bukit, Yesus berkeliling ke semua kota dan desa dan mulai melakukan karya-karya ajaib. Dengan mengunjungi langsung orang-orang, Yesus mengetahui langsung kebutuhan orang di situ. Tuhan Yesus menjadi betul-betul berhadapan dengan fakta bahwa banyak sekali manusia yang membutuhkan pertolongan. Dia keliling dan menemui mereka yang sakit, orang yang lumpuh, kerasukan setan, dan lain sebagainya. Seseorang tidak bisa mengetahui apa masalah yang dihadapinya tanpa terjun langsung ke lapangan. Laporan yang disampaikan mengenai kemiskinan di satu daerah, di atas kertas, berbeda dengan pengalaman berjumpa langsung dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Karena pertemuan langsung ini, dia berbelas kasihan kepada mereka.

Baca juga  SUKACITA DI SORGA

Belas kasihan (compassion = ἐσπλαγχνίσθη) (to be moved in the inward parts, i.e. to feel compassion). Hati Yesus tergerak melihat orang-orang yang seperti domba yang tidak bergembala, mencari pegangan dalam hidup, mencoba mencari tuntunan yang baik untuk hidup mereka. Banyak sekali tangan orang yang ingin menyentuh dan disentuh Yesus, sementara Dia hanya memiliki dua tangan. Karena itu Yesus berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” banyak orang yang membutuhkan pertolongan, rohani dan jasmani, sementara orang yang mengerjakannya hanya sedikit.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita lihat dari firman Tuhan hari ini.

Pertama, belas kasihan datang dari perjumpaan personal. Dialog sesungguhnya diperlukan melalui perjumpaan yang tulus. Pelajaran ini bisa kita lihat dari Kristus, yang tidak duduk dan menunggu supaya orang datang kepada-Nya, Dia pergi mendatangi orang lain. Perjumpaan adalah suatu hal yang manusiawi. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh untuk berinteraksi dengan orang lain. Tidak peduli siapa pun orangnya, manusia merindukan perjumpaan personal yang jujur dan apa adanya, bukan ada apa-apanya.

Kedua, cobalah pahami sudut pandang orang lain sehingga belas kasihan bisa muncul. Dari perjumpaan personal, kita bisa menempatkan diri kita di posisi orang lain, sehingga belas kasih/compassion muncul. Tuhan Yesus sudah merasakan apa yang dibutuhkan dan dirasakan manusia. Dia mengambil rupa manusia. Dalam perjumpaannya, dia tahu betul apa yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya. Dia merasakan apa yang kita rasakan. Salah satu kunci untuk memahami orang lain dan untuk menghindari konflik adalah dengan mencoba berpikir seperti orang lain.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

Pertanyaan refleksi

Apa yang menghambat anda untuk bisa menjalin komunikasi dan dialog yang sungguh-sungguh berdasarkan perjumpaan, dan bagaimana cara anda mengatasinya?

Apa peran GMKI dalam menjalin dialog dengan pemuda lintas organisasi dan lintas iman dengan penuh belas kasih?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here