Pdt. Weinata Sairin:”He who knows that enough is enough will always have enough” (Lao -Tzu)

0
451

 

 

Kata cukup, “enough” amat sering digunakan dalam percakapan kita sehari-hari, dalam konteks dan konotasi yang beragam. Pada waktu kita masih kecil kata “cukup” digunakan oleh orang tua kita, lebih pada aspek ekonomi, pada penghematan. Misalnya ibu kita berpesan pada waktu kita akan makan : “Ambillah nasi yang cukup, jangan berlebihan. Jika kurang kan bisa ditambah. Jangan sampai nanti ada nasi tersisa dan dibuang”. Aspek ekonomis amat kental pada nasihat ini. Jangan kita mengambil yang berlebihan yang pada akhirnya terbuang. Pada hal ada banyak orang yang bahkan mati kelaparan. Bagi umat Kristiani, ada doa “standar” yang diajarkan Yesus kepada umat yaitu ‘Doa Bapa Kami’ yang setiap saat digunakan oleh umat.

 

Dalam Doa Bapa Kami, ada untaian permohonan yang berbunyi  “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang *secukupnya*” (Matius 5 : 11). Narasi ini amat jelas bahwa umat memohon kepada Tuhan agar Ia menganugerahkan makanan pada hari ini yang cukup. Bukan yang berlebih, atau berlimpah; bukan untuk seminggu tetapi untuk hari ini. Esok umat akan berdoa dan meminta hal yang sama. Kata *hari ini* dan kata *makanan kami yang secukupnya* dalam Doa Bapa Kami adalah kata kunci yang amat penting.

 

Kata cukup yang berarti ‘sesuai dengan kebutuhan’, ‘pas’, ‘tidak berlebihan’ tidak hanya berkonotasi ekonomi. Kata ‘cukup’ bisa digunakan untuk menutup atau mengakhiri sebuah percakapan/diskusi ceramah atau untuk menyatakan bahwa pendapat yang dikemukakan itu sudah selesai dan tidak ditambah lagi. Alur pikir seperti itu cukup jelas dalam contoh kalimat berikut. “Uraian saya cukup sampai disini, saya silakan jika ada yang ingin bertanya”. Atau pada kalimat berikut. “Apakah anda ingin menambah atau mengelaborasi gagasan anda tadi?” Jawabnya : “Cukup, gagasan saya tadi sudah cukup jelas”.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

 

Dari pengalaman praktis, ternyata yang disebut ‘cukup’ itu relatif. Setiap orang dari latarbelakang yang berbeda, tidak sama pemahamannya tentang ‘cukup’. Si A menganggap  bahwa gaji yang ia terima dikantor tempat ia bekerja itu sudah cukup bahkan lebih dari cukup. Ia menerima take home pay yang besar, belum lagi jaminan kesehatan dan dana untuk cuti. Bagi si B gaji sebesar itu belumlah mencukupi dan dianggap tidak sesuai dengan kompetensi yang ia miliki. Titik pandang A dan B dalam memahami sesuatu yang ‘cukup’ itu tidak sama. Cukup dihubungkan dengan kebutuhan real, cukup dikaitkan dengan kompetensi dan profesionalisme. Kata ‘cukup’ difahami secara relatif tidak hanya dalam hubungan dengan penghasilan seseorang, tetapi juga pada aspek-aspek lainnya.

 

Sebenarnya sejak dulu kita telah diberikan pemahaman yang standar oleh orang tua kita tentang apa yang dimaksud dengan “cukup”. Cukup itu tidak berlebihan, apalagi mewah. Cukup itu mampu mengcover kebutuhan utama. Sebagian dari kita memiliki ukuran dan standar yang ‘tinggi’ tentang kehidupan. Standar itu mereka ambil dari film, televisi dan berbagai  media yang menampilkan gaya hidup modern, yang glamour, dan wah yang menuntut high cost. Dengan referensi dari gaya hidup modern maka banyak orang merasa bahwa penghasilan mereka berada dibawah standar.

 

Terkadang ‘cukup’ itu tidak melulu soal benda yang diterima atau benda yang dimiliki. ‘Cukup’ tidak melulu soal berapa, soal numerik, soal jumlah, soal angka-angka. Cukup juga berada pada wilayah perasaan, ya *perasaan*. Seseorang yang punya penghasilan besar, punya aset banyak sekali, tetapi perasaannya masih tetap merasa tidak cukup.

 

Oleh karena masih merasa tidak cukup itu banyak orang yang terdidik dan tokoh ikut berkorupsi, selebihnya melakukan berbagai tindak pidana, membegal, merampok, cyber crime dan sebagainya untuk “mencukupi”syahwat ketamakannya. Pepatah yang diungkap oleh Lao-Tzu mengingatkan kita agar kita memahami makna cukup dengan baik. Cukup itu cukup. Dan kita harus selalu beryukur kepada Tuhan karena Ia setia mencukupkan segala kekurangan kita.

Baca juga  SUKACITA DI SORGA

 

Selamat berjuang. God bless.

 

Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here