Segeralah Berdamai

0
356

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Matius 5:1-26
(1) Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. (2) Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: (3) “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (4) Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. (5) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. (6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. (7) Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. (8) Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. (9) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (10) Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (11) Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. (12) Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (13) “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (17) “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (20) Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (21) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. (23) Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, (24) tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (25) Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (26) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Mari kita belajar untuk hidup bijaksana melalui beberapa prinsip hidup berikut ini.
Pertama: Perhatikan yang penting, pinggirkan yang tetek bengek. Hal-hal kecil memang bisa amat mengganggu. Bisa membuat kita lupa pada hal-hal penting. Tetapi usahakan agar jangan terpana dan tersandera oleh yang kecil-kecil, sehingga kita tak mampu lagi melihat yang lebih utama.

Salah satu hukum sukses kehidupan yang terpenting adalah: perlakukan hal-hal kecil sebagai kecil, dan yang besar sebagai besar. Jangan terbalik: yang kecil dipandang besar dan yang besar dipandang kecil. Batu besar hanya bisa diangkat dengan tenaga yang besar. Batu kecil memerlukan tenaga yang kecil. Jangan urusan batu kecil menguras tenaga yang besar. Lalu ketika menghadapi batu besar kita tinggal memiliki sedikit tenaga. Sayang.

Kedua: Jangan mudah tersinggung. Orang yang mudah tersinggung, biasanya digolongkan ke kelompok “orang-orang sulit”. Orang-orang seperti ini bukan cuma tidak disukai banyak orang lain, melainkan juga menyiksa diri sendiri. Orang tidak bermaksud apa-apa, dia merasa diejek atau dihina. Menurut para ahli, orang-orang yang mudah tersinggung sebenarnya adalah orang-orang yang tidak yakin diri. Selalu bicara harga diri, karena merasa dirinya kerdil. Jadi, jangan mudah tersinggung. Kita harus “tahan banting”, sebab orang seperti inilah yang memiliki kehormatan.

Ketiga: Belajar mendahulukan kewajiban ketimbang hak. Atau paling tidak, seimbang dalam keduanya. Betapa runyamnya suasana hidup persekutuan bila anggota-anggotanya cuma berlomba-lomba menuntut hak tapi mengabaikan kewajiban. Bahwa kita ingin supaya gereja melakukan hal-hal terbaiknya bagi kita, ini adalah keinginan yang wajar. Tapi mari kita bertanya pada diri masing-masing: sudahkah kita memenuhi kewajiban kita dengan sebaik-baiknya?

Keempat: Hadapilah dan selesaikanlah masalah sebelum keburu dingin dan kedaluwarsa. Menyimpan dan menimbun masalah di dalam ingatan dan perasaan adalah bagaikan menimbun sampah di kamar tidur. Kita tidak akan merasa nyaman. Otak dan hati terbeban. Yang perlu kita lakukan adalah: segera keluarkan hal-hal yang tidak perlu dari hati dan otak kita, supaya tersedia ruang bagi hal-hal penting yang perlu diutamakan untuk diberi perhatian.

Jalan kebijaksanaan juga dapat kita pelajari dari ucapan-ucapan Yesus tentang kebahagiaan dalam periskop bacaan kita kali ini. Tetapi satu di antaranya, dan ini akan menjadi point kelima, Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan. Kita tidak akan pernah tenang dalam hidup ini selama hubungan kita dengan sesama belum diperbaiki. Kita akan selalu berbenturan, dalam banyak hal. Itulah sebabnya, Tuhan menyuruh kita: segeralah berdamai …………

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here