Pdt. Weinata Sairin:”If you can’t feed a hundred people, then feed just one” (Bunda Theresa)

0
562

Manusia sosok fana yang sedang terengah-engah menoreh karya di kekinian sejarah, adalah makhluk sosial. Ia tak betah hidup sendiri dan menyendiri ditengah dunia. Manusia hidup dalam interaksi dengan sesamanya dan dengan pihak-pihak lainnya; manusia hidup dalam komunitasnya masing-masing.

Manusia acap disebut makhluk sosial, makhluk yang hidup dalam mata rantai dan ikatan-ikatan sosial. Dimanapun ia ada dan hidup maka ikatan-ikatan itu terbentuk karena ikatan seperti itu adalah bagian dari dirinya. Salah satu aspek yang berkembang dalam hidup manusia yang hidup dalam ikatan sosial adalah aktivitas “memberi”, aktivitas ” berbagi”. Nilai-nilai agama menyatakan bahwa “terlebih berbahagia memberi dari pada menerima”.

“Memberi” dalam bentuk apapun dan seberapapun jumlahnya, jika bisa digunakan ukuran, adalah sesuatu yang membahagiakan. Apalagi jika kita memberi bukan dari kelebihan kita, tetapi dari kekurangan dan dari keterbatasan kita, itu sangat membahagiakan. Memberi adalah menginvestasikan kebajikan kita bagi “masa depan”. Sejatinya ‘memberi’ itu dilakukan dengan tulus, ikhlas dan rasa syukur kepada Tuhan.

Ada ungkapan yang cukup terkenal dari zaman baheula “do ut des”, aku memberi supaya kamu memberi. Di zaman dahulu tatkala manusia masih percaya kepada kuasa-kuasa lain yang bukan Allah, manusia memberikan sesajen di pohon-pohon besar. Manusia memberikan sesajen itu kepada pohon besar, agar penguasa yang dipercaya ada dipohon itu memberikan rasa aman kepada manusia disekitarnya. Itulah skema berfikir *do ut des*. Kita memberi tidak dalam skema ‘do ut des’, artinya agar nanti orang yang kita beri itu memberi lagi kepada kita. Kita memberi dengan tulus dan ikhlas dan penuh rasa syukur kepada Tuhan.

Memberi dalam konteks kemanusiaan tidak pernah memperhitungkan aspek “sara”. Kita memberi sesuatu kepada orang lain pertama-pertama karena orang itu membutuhkan pertolongan dan karena ia adalah _manusia_ yang adalah sesama kita. Kita mesti menjadi orang Indonesia yang murah hati yang memberi pertolongan kepada kepada seseorang yang misalnya menjadi korban dari begal. Begal itu sesudah mengambil semua barang korban, memukulinya dan meninggalkannya dalam kondisi setengah pingsan ditepi jalan.

Sebagai orang Indonesia yang murah hati, yang beragama, yang berPancasila, maka ketika kita melihat korban seperti itu, kita wajib menolongnya. Tak usah diinvestigasi dia dari suku apa, agama apa, anggota parpol mana, aliran atau denominasi apa, apa ada kartu BPJS disakunya atau tidak. Kita segera membawa dia ke Puskesmas terdekat dan memberi pertolongan optimal, hingga dia siuman, dan kita membayar biaya yang diperlukan untuk itu bahkan membantunya agar dia bisa pulang kerumahnya. Ini adalah memberi pertolongan yang standar yang ilmunya sudah diajarkan kepada kita oleh orangtua atau komunitas kita. Kita memberi pertolongan karena dia sesama manusia dan karena agama kita dan nilai Pancasila yang kita banggakan itu, mengajarkannya kepada kita.

Kita memberi kepada pihak yang lain itu sesuai dengan kemampuan dan rezeki yang ada pada kita. Kualitas dan nilai bantuan itu tidak pertama-tama terletak pada _jumlah_ atau _jenis_ bantuan yang kita berikan tetapi pada kepedulian, kecepatan kita dalam memberi bantuan itu. Jika kita bisa membantu banyak tentu lebih baik sehingga banyak orang yang bisa tertolong. Tetapi jika hanya bisa memberi bantuan sedikit ya tidak apa-apa. Jangan menunda dan atau menggagalkan bantuan hanya karena kita tidak bisa memberikan yang banyak.

Menarik sekali ungkapan Bunda Teresa dibagian awal tulisan ini. Ia berkata jika kita tidak bisa memberi makan 100 orang ya berikanlah kepada 1 orang. Pikiran cerdas dan praktis ini amat menolong kita untuk memahami ulang hakikat ‘memberi’ sebagai ciri kemanusiaan. Kita wajib memberi, tanpa harus menunggu jumlah yang besar. Kita harus menolong walau hanya bisa satu orang.

Bunda Teresa melalui kehidupannya meneladankan sikap memberi yang amat luar biasa. Ia memberi inspirasi kuat bagi kita untuk memberi dan memberi. Bahkan dalam perspektif yang lebih luas kita harus berupaya mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah karena Allah telah lebih dulu memberikan cinta kasihNya bagi manusia.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here