Memuji Tuhan dengan Segenap Hati

0
4216

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Efesus 5:18-21
(18) Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, (19) dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. (20) Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita (21) dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Memuji Tuhan adalah sikap iman yang amat penting dalam kehidupan orang Kristen. Dengan pujian, orang Kristen mengungkapkan imannya. Karena itu, hidup orang Kristen selalu diwarnai dengan nyanyian atau lagu-lagu pujian. Dalam segala situasi orang Kristen selalu memuji Tuhan. Tak hanya ketika berulang tahun, kelimpahan berkat, kenaikan pangkat, kelulusan dan peristiwa “syukur” lainnya. Dalam situasi berduka dan menderita pun, orang Kristen tetap tampil memuji Tuhan. Bagi orang lain ini mungkin aneh. Lagi kesusahan, mereka kok menyanyi.
Memang aneh, tapi di situlah letak ‘kekuatan’ kita dalam menghadapi situasi sulit. Lihatlah, banyak orang Kristen dalam keadaan kritisnya tetap bernyanyi menyambut ajalnya. Wajah mereka bahagia sebab hatinya terus memuji Tuhan. Ini menggambarkan iman yang tangguh, tetap bernyanyi walau situasi yang dihadapi cukup berat.

Dalam ayat 19-20 pembacaan kita kali ini, Paulus berkata: “Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Tampaklah bagi kita bahwa orang beriman harus memuji Tuhan dalam hidupnya. Ya, dalam seluruh hidupnya ia harus bersyukur.

Jadi jangan heran kalau dalam ibadah-ibadah Kristen, bagian terbesarnya adalah bernyanyi. Jemaat diundang bernyanyi dan bersorak terus bagi Tuhan. Tapi ingat, kita diundang tidak sekedar bernyanyi. Seperti Paulus katakan, kita harus bernyanyi (memuji Tuhan) dengan segenap hati.

Bagaimana menyanyi (memuji Tuhan) dengan sepenuh hati?

Pertama, bernyanyilah dengan semangat dan penuh gairah. Maksudnya, kita bernyanyi dengan sungguh-sungguh di mana tubuh, jiwa dan roh kita terlibat, bukan hanya mulut. Baik untuk nyanyian yang bernada ‘gembira’, penyesalan ataupun kerelaan bertindak. Bersemangat dan bergairah tidak harus selalu diartikan melompat-lompat, bergoyang-goyang dan bertepuk tangan. Walaupun ini tidak salah, tapi ini bukan satu-satunya ukuran untuk bernyanyi dengan penuh semangat dan kegairahan. Kesungguh-sungguhan bernyanyi itulah yang terutama.

Kedua, bernyanyilah dengan penuh penghayatan. Yang terutama di sini adalah bagaimana kita menghayati diri kita dalam relasi dengan Tuhan. Kita datang kepada Tuhan yang Mahakuasa. Hanya dia yang patut disembah, karena itu kita hadir dengan rasa gentar di hadapan-Nya. Selain itu, kita menyadari diri kita sebagai ‘hamba’ yang berdosa dan tidak layak. Kita bernyanyi dengan kerendahan hati.

Semua lagu, baik Kidung Jemaat, NKB ataupun lagu-lagu persekutuan, jika dinyanyikan dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan akan menolong kita menyembah Tuhan dengan sepenuh hati. Juga akan menolong kita untuk menyadari siapa diri kita dan apa tugas kita dalam dunia ini.

Tidak ada lagu pujian yang tidak baik. Semuanya baik, asal dinyanyikan dengan hati beriman. Kekeliruan terbesar adalah ketika kita menganggap bahwa lagu-lagu dalam ‘tradisi’ kekristenan tertentu sajalah yang patut dinyanyikan sebagai lagu pujian. Lalu kita hanya menyanyikan lagu itu-itu saja dalam ibadah-ibadah kita. Pada hal lagu-lagu dari ‘tradisi’ kekristenan lainnya dapat menolong kita memuji Tuhan.

Semua lagu baik, asal dinyanyikan dengan sepenuh hati. Lagu menjadi sesuatu yang gak enak dinyanyikan ketika kita menyanyi dengan setengah hati. Bukan lagunya yang salah, tapi cara kitalah yang salah. Kita kurang berserah dalam menyanyikannya.

Bernyanyilah dan pujilah Tuhan dengan segenap hati. Anda akan merasakan bedanya menyanyikan suatu lagu sepenuh hati dengan menyanyikannya setengah hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here