Pdt. Weinata Sairin:”Men are disturbed not by things that happen, but at their opinion of the things that happen” (Epictetus)

0
405

Manusia hidup ditengah sejarah, dengan begitu banyak peristiwa yang hadir didalamnya. Manusia ikut mencipta sejarah, mengarahkan dan mengubah sejarah sesuai dengan kapasitasnya masing–masing.

Ada banyak catatan historis tentang apa yang dilakukan seseorang dalam penampilannya dipentas sejarah. Penampilan itu bisa saja amat positif, tetapi bisa juga sebaliknya, sangat negatif bahkan kontra produktif pada zamannnya. Orang sejenis Nelson Mandela, tentu akan berbeda penampilanmya dengan berbagai tokoh lainnya misalnya Thomas Jefferson, John Naisbitt, Benyamin Disraeli, Tun Razak.

Karya yang diukir dan ditorehkan oleh banyak figur dalam kehidupannya diruang-ruang kehidupan sebagian besar diwarnai oleh nilai-nilai agama yang dianutnya, selain juga oleh ‘local wisdom’ dan nilai-nilai budaya yang ada dan berkembang disuatu wilayah.

Ajaran agama tak bisa disangkal memberi pengaruh kuat bagi para penganutnya sehingga dalam berbagai peran dan kontribusi ditengah masyarakat, nilai agama menjadi unsur pemicu dan pemacu. Dalam konteks itu pembinaan dibidang keagamaan dan internalisasi nilai-nilai agama menjadi amat penting dilakukan oleh lembaga keagamaan.

Tokoh-tokoh besar zaman baheula cukup jelas sikapnya dengan menempatkan agama sebagai bagian integral dari kedirian mereka. Para tokoh besar itu menunjukkan sikap respek terhadap agama. Adalah tokoh besar bernama Napoleon. Sebagai manusia ia tentu memiliki banyak kesalahan, namun ia amat menghormati agama. Ketika Madam Campan menerima jadwal sekolah perempuan yang diberikan kepadanya ia membaca berbagai peraturan. Ia tertarik pada sebuah peraturan yang berbunyi : “Gadis-gadis muda harus hadir untuk berdoa dua kali dalam seminggu”.

Napoleon membaca dengan kritis peraturan itu. Ia lalu mengambil penanya dan menghapus kata “dua kali dalam seminggu” dan menggantinya dengan kata “setiap hari dalam seminggu”.

Ajaran agama memang harus benar-benar diinternalisasi dalam pribadi seseorang. Dalam kondisi ajaran agama seperti itu maka setiap orang akan memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi turbulensi hidup, yang tahan terhadap berbagai godaan yang menggiurkan orang.

Selain internalisasi ajaran agama, memahami dengan baik local wisdom, memiliki kearifan adalah hal penting dalam melayari kehidupan menuju akhir sejarah. Apakah itu kearifan? Menurut Herbert Hoover kearifan itu tidak terdiri dari seberapa banyak kita mengetahui apa yang terakhir akan kita lakukan, melainkan mengetahui apa yang akan kita lakukan selanjutnya.

Manusia hidup ditengah tumpukan dan aliran peristiwa yang tiap saat lewat dalam ruang waktu bahkan peristiwa itu terkadang berkaitan dengan hidup kita, menyentuh sisi-sisi kehidupan kita. Kita sering memberi makna dan menafsir setiap peristiwa dalam angle alegori atau juga metafora, dan yang terkadang tidak sepenuhnya kita mampu merumuskan makna.

Pepatah kita dengan bijak mengingatkan kita bahwa kita tidak begitu terganggu atas peristiwa yang terjadi, tetapi oleh tafsir mereka terhadap peristiwa itu. Mari hadapi setiap peristiwa yang hadir dalam pentas kehidupan kita dengan wajar. Tak usah terpengaruh oleh opini atau tafsir terhadap peristiwa itu sendiri apalagi tafsir yang bersifat mistis, magis dan atau eskatologis yang datang dari orang lain.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here