Pdt. Weinata Sairin:”A mistake doesn’t become a mistake until you refuse to correct it” (O.A.Batista)

0
558

Hidup manusia berlumur dengan kesalahan, dosa dan berbagai kelemahan dalam berbagai bentuk dan bobot. Kesemuanya itu nyaris dianggap sesuatu yang normal, wajar dan biasa terjadi pada figur yang disebut *manusia*. Itulah sebabnya dalam pidato, atau dokumen tertulis ada semacam kebiasaan untuk memohon maaf atas kemungkinan terjadinya kesalahan. Pada hari raya keagamaan, pada silaturahim akhir tahun atau awal tahun permohonan maaf lahir batin telah menjadi bagian dari kultur masyarakat kita. Tentu saja ungkapan permohonan maaf apalagi jika itu lahir dari kedalaman nurani dan bukan sekadar basa-basi mesti diapresiasi secara positif.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan. Bisa oleh karena faktor “keterbacaan”. Seorang pasien salah dalam membaca etiket obat yang melekat dan ditempelkan pada botol/tempat obat. Seharusnya obat itu diminum bersama sama dengan atau pada saat ia makan. Tetapi ia meminumnya _sebelum_ makan. Tentu saja ada dampak pada tubuhnya karena waktu meminum obat yang tidak sesuai dengan resep dokter. Memang ada obat yang waktu meminumnya berbeda-beda: ada yang sebelum makan, sesudah makan, ada juga yang diminum pada saat kita makan (makan siang atau makan malam). Dari pengalaman ternyata pasien-pasien dengan keluhan pada _lambung_ ada obat yang mesti diminum pada saat makan. Itu soal keterbacaan, bagaimana kita memahami dengan baik petunjuk pemakaian obat yang tertulis pada etiket obat. Biasanya juga apoteker secara lisan memberitahukan kepada pasien kapan dan bagaimana obat itu diminum. Hal itu dilakukan pada saat penyerahan obat kepada pasien. Ada kemungkinan juga terjadi penulisan pada etiket obat itu tidak begitu jelas.

Berdasarkan pengalaman kita juga mendengar tentang kesalahan yang terjadi akibat aspek keterbacaan ini. Para teknisi kita yang bekerja di perusahaan asing tidak bisa bahkan sering melakukan kesalahan dalam mengoperasikan mesin-mesin tertentu karena panduan operasional mesin itu tertulis dalam bahasa asing (non-Inggris) yang tidak dimengerti dengan baik oleh para teknisi kita.

Selain faktor keterbacaan ada banyak faktor lain yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas. Ada soal pengetahuan, skill, kecermatan, ketekunan, konsentrasi kesemuanya itu sesuai dengan karakter pekerjaan masing-masing akan cukup berpotensi dalam hal terjadinya kesalahan. Jenis pekerjaan juga membutuhkan berbagai “pendekatan” dalam mengelolanya. Ada jenis pekerjaan yang lebih memerlukan intelektualitas, ada yang lebih berat pada aspek skill, ada juga yang berdasarkan pengalaman praktis.

Di percetakan Lembaga Alkitab Indonesia di Bogor sebagai contoh, ada bagian-bagian yang memang membutuhkan orang-orang dengan _skill_ tertentu karena tidak semua mesin yang ada mampu menangani semua hal, dalam hubungan dengan pencetakan *Alkitab* (Kitab Suci umat Kristen dan Katolik).

Para karyawan yang adalah warga sekitar, puluhan tahun bekerja di percetakan itu, ada yang pegawai tetap, ada yang tenaga kontrak. Mereka dengan skill dan pengalaman yang sudah lama teruji berdedikasi di percetakan itu, membuat index Alkitab. Kita bisa bayangkan tanpa dedikasi dan ketekunan yang kuat tak mungkin Alkitab dengan index yang tepat dan tampilan yang amat bagus bisa diproduksi hingga kini oleh lembaga nirlaba seperti LAI. Dalam sebuah perusahaan percetakan seperti LAI sesuai dengan standar ada bagian Quality Control yang selalu berupaya nemperkecil tingkat kesalahan. Dengan cara itu akan terjamin kepuasan pelanggan dan ‘keamanan’ pengguna dalam membaca kitab suci produk LAI.

Manusia terus menerus hidupnya diwarnai, dikerumuni oleh berbagai kesalahan ditempat manapun ia bekerja dan menjalankan tugas. Hal yang mesti digarisbawahi adalah sebuah kesalahan itu mesti difahami sebagai bagian dari proses pembelajaran. Itulah sebabnya kita tak boleh mengulangi kesalahan; kita tak boleh jatuh pada lubang yang sama. Kita harus mengoreksi diri, membarui mindset dan paradigma berfikir sehingga kita bisa berpindah dari sebuah kesalahan menuju keberhasilan optimal. Pepatah yang dikutip diawal bagian ini mengingatkan kita bahwa kesalahan tak akan melahirkan kesalahan jika kita mau belajar dan mengoreksi kesalahan yang lalu.

Mari kita bangkit secara baru, koreksi setiap kesalahan yang pernah ada, jangan jadikan kesalahan sebagai execuse dari kedirian kita sebagai manusia.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here