Sikap Iman Seorang Pemimpin

0
827

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah diseberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! (Yosua 24:15)

Seorang yang disebut Pemimpin, pemimpin di bidang apapun, pada level atau aras apapun harus mempunyai *sikap*. Pemimpin _wajib_ hukumnya memiliki sikap. Pemimpin tak bisa ambigu. Pemimpin tak bisa abstain. Pemimpin tak bisa bersikap abu-abu. Pemimpin harus *jelas* sikapnya, dan *clear* dalam arti sikap dan ucapannya tidak menimbulkan multi tafsir, atau beda antara apa yang ia ucapkan dengan apa yang ia lakukan. Pikiran, perkataan, sikap dan tindakan mesti satu dan utuh.

Pemimpin harus jelas sikap ideologisnya; artinya jika pemimpin itu nafas dan darahnya adalah Pancasila maka ia harus membuktikan itu tidak saja secara tekstual, dimuat dalam AD ART, ada secara implisit dan eksplisit dalam rumusan visi misi, dalam renstra, dalam program lima tahunan dst, tetapi juga dalam praksis, dalam program kerja, dalam sikap, ucap dan tindak sang pemimpin.

Pemimpin tidak boleh mengidap sejenis schizo phrenia. Ia mesti sebuah pribadi yang utuh, integritas yang teruji dan terpuji. Jabatan, fasilitas, fulus dan barang-barang dunia fana tidak boleh membuat pemimpin dan bahkan umat dalam posisi yang ‘abu-abu’. Pemimpin politik, pemimpin agama, pemimpin apapun harus jelas sikapnya. Pemimpin sesuatu agama ia harus menghargai seluruh agama yang ada, tapi ia tak boleh jatuh menjadi pemimpin agama yang sinkretistik, yang menyatakan semua agama _sama saja_ memandu manusia mencapai surga.

Sikap teologis, sikap iman yang jelas dan tegas mesti dimiliki setiap pemimpin. Pemimpin tak bisa dalam posisi menyelubungi agamanya demi kenyamanan orang yang dipimpin atau demi “kelanggengan” kepemimpinannya. Dalam kapasitas seorang pemimpin masyarakat yang agamanya beragam, seorang pemimpin secara standar memberitahu tentang agamanya tanpa juga bersikap seakan-akan mendemonstrasikan apalagi melakukan semacam “syiar agama”.

Apalagi pemimpin agama, khususnya pemimpin Gereja; sikap imannya dan juga sikap idelogisnya harus amat jelas karena akan menjadi referensi dan role model dari umat. Bahkan Pemimpin Gereja mesti memandu umatnya dalam memberi sikap terhadap berbagai aliran teologi/aliran keagamaan yang tengah berkembang dalam masyarakat.

Pemimpin Gereja bisa saja mengembangkan relasi dengan pimpinan berbagai agama, pimpinan organisasi politik dan dengan pemimpin manapun. Namun harus dengan cerdas dikaji, tatkala relasi itu membawa kita ke dunia politik praktis dengan spirit yang transaksional dan memenjara gereja pada sebuah ghetto politik tertentu maka pada saat itu kita harus nengatakan “tidak”, “stop” atau “moratorium” terhadap relasi itu.

Kita semua sebagai Gereja dan Pemimpin Gereja sudah memiliki banyak pengalaman dalam berhubungan dengan dunia politik praktis dengan tawaran yang menggiurkan. Kita sebagai Gereja dan Pemimpin Gereja harus mempunyai posisi yang jelas, tak bisa ambigu dan ambivalen. Gereja (dan Pemimpin Gereja) tak bisa dikooptasi oleh kekuasaan. Gereja harus menjaga jarak dengan kekuasaan, dan tidak boleh mengerdilkan diri menjadi instrumen kekuasaan.

Ucapan yang diungkapkan Yosua dalam Yosua 24:15 ini menampilkan sikap pemimpin yang jelas, clear dan penuh integritas. Yosua, bahasa Ibrani Yehosyua=Tuhan adalah pertolongan, berkotbah didepan Umat Israel yang berhimpun di Sikhem sebelum ajal merenggut hidupnya. Sebagai Pemimpin ia meneguhkan dan meyakinkan umat tentang dahsyatnya tindakan Tuhan dalam sejarah Israel sebab itu ia mengingatkan agar Israel tetap teguh beriman kepada Tuhan. Hal yang sangat penting dari ayat 15 ini adalah bahwa Yosua memberi ruang bagi umat untuk memilih kepada siapa mereka akan beribadah : “allah di seberang sungai Efrat” atau “allah orang Amori”. Percaya kepada Allah adalah keputusan eksistensial, keputusan pribadi berdasar pengalaman spiritual, bukan atas ancaman atau tekanan; bukan iming-iming jabatan atau dana. Secara demokratis Yosua membuka ruang itu pada zamannya agar umat dalam kesadarannya memilih!

Namun sebelum umat menetapkan pilihannya, Yosua sudah mendahului sikap umat dengan menyatakan “tetapi aku dan seisi rumahku..” Kata “tetapi” disini menjadi penting untuk menandakan adanya sikap berbeda/kontradiktif antara apa yang ditawarkan Yosua untuk dipilih oleh umat, dengan pilihan Yosua sendiri. Yang menarik disini adalah bahwa Yosua secara cepat menyatakan sikapnya, agar umat tidak terlalu lama menentukan sikap dan umat memiliki referensi yang kuat. Yosua juga menyatakan bukan hanya ia pribadi yang akan beribadah kepada Tuhan tetapi “aku dan seisi rumahku”.

Makna penting Yosua 24 : 15 ini dalam konteks kehidupan kita di era sekarang ini pertama adalah inspirasi tentang Pemimpin yang berintegritas. Di zaman ini kita membutuhkan pemimpin yang tinggi integritasnya. Pemimpin Gereja yang mandiri, kuat kepribadiannya, steril dari dunia politik praktis amat dibutuhkan menyongsong era pilkada serentak, pilpres 2018-2019. Pemimpin yang memiliki sikap iman, sikap teologis seperti Yosua amat diperlukan dihari-hari mendatang.

Mampukah kita seperti Yosua menyatakan “tetapi aku dan seisi rumahku, sebagai warga Gereja tidak ikut/tidak mendukung….”

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here