Pdt. Weinata Sairin:”Bonus animus in malare dimidium est mali. Berbesar hati dalam kesengsaraan membuat kesengsaraan itu terasa separuh lebih ringan”.

0
457

Ungkapan “berbesar hati” sudah sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari bahkan mungkin kita sering menggunakannya. Ada beberapa arti yang dijelaskan Kamus Bahasa Indonesia tentang ungkapan “berbesar hati”. Ungkapan itu menurut kamus berarti : ‘sombong’, ‘bangga, girang, gembira’ atau juga “tabah, lapang dada dalam menerima musibah”.

Itu berarti untuk memahami ungkapan secara tepat maka kita harus secara cermat membaca dan memahami kalimatnya secara utuh. Dari pengalaman praktis ternyata ungkapan “berbesar hati” dalam arti “sombong” agak jarang digunakan sehingga jarang ditemukan. Dalam sebuah buku dicontohkan kalimat yang mengandung arti “sombong” dengan menggunakan ungkapan “berbesar hati”. Contoh kalimatnya sebagai berikut : “Sejak ia mengalami kenaikan golongan, ia berbesar hati tidak mau lagi ikut makan siang bersama”.

Sepanjang yang sempat kita dengar dari percakapan sehari-hari ungkapan “berbesar hati” banyak digunakan dalam pengertian “tabah” atau “lapang dada”. Misalnya orang tua menasihati anaknya: “Walau gajimu kecil bekerja di kantor itu, namun tetap berbesar hati karena iklim kerjanya sangat baik”.

Hidup kita sebagai seseorang yang hidup di dunia modern tidak selalu dalam kondisi yang aman dan nyaman. Ada saat dimana kita berhadapan dengan berbagai permasalahan yang mengganggu perjalanan hidup kita.

Permasalahan itu bisa berkaitan dengan pekerjaan kita, lingkungan kita, keluarga kita, diri kita pribadi bahkan keluarga besar kita. Kondisi itu acapkali membuat hidup jadi tak nyaman, bahkan membawa kita pada sikap yang sensitif dan amat emosional.

Sikap “berbesar hati” adalah sikap yang optimis dalam menghadapi kesulitan hidup. Bukan sikap yang apatis, “nrimo” lalu menyusuri lorong-lorong kehidupan dengan menggerutu, complain, cari kambing hitam atau menyusun ‘execuse’. Kesengsaraan dan atau kesulitan hidup tidak bisa dihadapi dengan mengembangkan hal-hal tersebut. Optimisme, berbesar hati, bergantung kepada Tuhan, itulah jawabnya!

Optimisme membuat derita tidak terasa mendera. Optimisme membuat awan hitam legam menampilkan keindahan yang ekklusif. Optimisme menjadikan dukacita sebagai simfoni kehidupan yang menyajikan cinta kasih. Optimisme mengubah mindset dan paradigma berfikir. Optimisme dan berbesar hati menjadikan kematian bukan kata yang menyimpan rasa takut. Suatu saat Garibaldi terlibat dalam sebuah pertempuran, dan ia tertembak pada lehernya. Timah panas menembus urat lehernya. Ia terbaring dengan pendarahan yang hebat. Seorang sahabatnya datang dan membungkuk bertanya apakah ia ingin mengucapkan kata terakhir untuk ibunya. “Ya !” kata Garibaldi. “Katakan pada ibuku bahwa aku akan hidup sampai umur 76 tahun!”

Pepatah yang dikutip di bagian awal tulisan ini mengingatkan bahwa “berbesar hati membuat kesengsaraan itu separuh lebih ringan”. Hidup kita pada berapa waktu terakhir ini tidak lagi nyaman dan indah. Kita mengalami sengsara pada level tertentu. Kita harus berbesar hati menghadapi dan menghidupi hari-hari sengsara.

Selamat Berjuang. God bless.

Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here