Tuhan Telah Memberikan Keahlian Kepada Kita

0
2487

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Keluaran 31:1-11

(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (2) “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, (3) dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, (4) untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; (5) untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan. (6) Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu: (7) Kemah Pertemuan, tabut untuk hukum, tutup pendamaian yang terletak di atasnya, dan segala perabotan kemah itu, (8) yakni meja dengan perkakasnya, kandil dari emas murni dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, (9) mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya, (10) pakaian jabatan, baik pakaian kudus kepunyaan imam Harun, maupun pakaian anak-anaknya, untuk memegang jabatan imam, (11) minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian untuk tempat kudus; tepat seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu haruslah mereka membuat semuanya.”

 

Dapatkah kita mengatakan bahwa orang yang berjualan gado-gado juga melayani Tuhan? Ah, mana mungkin mereka melayani Tuhan? Mereka kan bekerja untuk memenuhi nafkahnya. Masak iya berjualan gado-gado disebut melayani Tuhan?

Berjualan gado-gado adalah termasuk kegiatan melayani Tuhan. Ya, sejauh itu dilakukan sebagai kegiatan yang penuh komitmen spiritual dan jalan memanifestasikan imannya! Melayani Tuhan tidak terbatas di mimbar saja. Orang dapat melayani Tuhan di dapurnya, ketika memasak. Melalui kemampuan abang becak, ketika mengayu becaknya. Melalui ketekunan mengepel, ketika pembantu sedang membersihkan lantai. Melalui usaha keras, ketika pengusaha, karyawan dan pegawai melaksanakan pekerjaannya.

Semua bidang pekerjaan dapat kita pakai sebagai jalan melayani Tuhan ketika kita melakukan semua itu dalam ‘kekudusan’ hati seorang pelayan Tuhan. Dengan kata lain, kita bekerja tidak menurut cara-cara dunia ini, tetapi sebaliknya bertindak dengan penuh kasih. Untuk sebuah pekerjaan, kita tidak mudah mengeluh tapi selalu bersyukur. Untuk sebuah usaha, kita tetap senang walau meraup untung lebih sedikit tapi halal. Daripada dapat untung banyak dengan cara ‘haram’, jiwa terancam masuk neraka.

Bidang pekerjaan apa pun yang kita geluti dalam dunia dapat mempunyai makna rohani. Seperti roti dan anggur Perjamuan Kudus, ia tetap benda biasa, tapi menjadi sakral ketika kekudusan Tuhan hadir di dalamnya. Demikianlah bidang pekerjaan kita, dapat menjadi sakral (bermakna rohani) ketika iman kita bekerja di dalamnya. Pekerjaan di dalam iman kepada Kristus, akan melahirkan kekudusan Tuhan. Dengan cara ini semua kegiatan kita akan menjadi tanda pelayanan bagi Tuhan.

Perahu yang dimiliki petrus hanyalah perahu biasa. Tetapi perahu itu menjadi istimewa ketika Petrus meminjamkannya bagi Yesus sebagai mimbar pemberitaan-Nya. Kita boleh mengundang Yesus dalam bidang pekerjaan kita. Yakinlah, Dia akan bersedia memakainya untuk pelayanan dan pekerjaan kasih-Nya.

Dalam ayat 1-3, Tuhan berfirman kepada Musa: “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan….” Selanjutnya dalam ayat 6b, Tuhan juga berkata: “… dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu…”

Nah, jelas, orang-orang diberi keahlian oleh Tuhan dengan tujuan melakukan perintah-Nya. Anda diberi keahlian apa oleh Tuhan? Kita manfaatkan untuk apa keahlian itu selama ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here