Spiritualitas dan Vitalitas Hidup

0
946

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Yesaya 30:15-16

(15) Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, (16) kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

 

Pembacaan kita kali ini memperlihatkan orang yang begitu serius dengan tujuan hidupnya. Mereka tidak mau buang-buang waktu, termasuk ‘membuang’ waktu urusan imannya. Waktu adalah uang, lebih cepat mencapai tujuan lebih baik lagi. Jangan buang-buang waktu, kerahkan seluruh tenaga untuk apa yang ingin diraih, begitulah prinsipnya.

Di tengah kecenderungan manusia seperti itu, Tuhan datang dengan firman-Nya yang memberitahukan bahwa jaminan kekuatan manusia untuk menjalani dan meraih tujuan hidupnya bukan bersumber dari dirinya sendiri. Kata Tuhan: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”

Tapi anehnya, manusia tidak mau peduli dengan firman ini. Mereka tidak mau peduli dengan soal pertobatan dan keselamatan. Mereka berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat, kami mau mengendarai kuda yang tangkas. Lalu Tuhan berfirman lagi: Okey, kalau begitu maumu. Kamu memang dapat berlari tapi kamu akan lenyap. Kamu dapat mengandalkan kudamu yang tangkas, tapi pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

Saudara-saudara, semangat hidup itu penting. Serius dalam cita-cita itu perlu. Tapi semuanya itu akan sia-sia jika kita melupakan Tuhan di dalamnya. Perlu keseimbangan hidup antara kerja dan iman. Bahkan keduanya memiliki dan berada dalam hubungan timbal balik. Dunia kerja adalah dunia di mana kita menunjukkan vitalitas hidup. Dunia iman adalah dunia di mana kita hidup dalam spiritualitas. Vitalitas tanpa spiritualitas akan membuat hidup kita akan menjadi hambar. Serajin-rajinnya kita, sehebat-hebatnya kita, tanpa spiritualitas hidup ini akan menjadi tawar. Sebaliknya, spiritualitas tanpa vitalitas akan menjadikan kehidupan beriman tanpa makna. Spiritualitas yang benar harus menhasilkan gairah dan semangat kerja yang tinggi.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

Untuk memahami dengan baik hubungan spiritualitas dan vitalitas hidup, baiklah kita kembali melihat maksud dan proses penciptaan manusia dalam Kejadian 2:4-7. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa bumi diciptakan oleh Allah untuk diolah dan dikerjakan manusia. Untuk maksud itu Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Dalam bahasa Ibrani tanah disebut adama dan manusia disebut adam. Tampak dengan jelas bahwa tanah dan manusia mempunyai hubungan yang erat. Tanah (bumi) ada untuk manusia, dan manusia ada untuk mengolah bumi. Manusia adalah makhluk yang harus bekerja, harus memiliki semangat dan vitalitas hidup. Tapi yang menarik adalah, kata ‘bekerja’ menggunakan kata abudah, di mana kata ini mempunyai hubungan erat dengan kata ibadah. Jadi bekerja bagi manusia merupakan ibadah kepada Tuhan.

Kalau bekerja itu adalah ibadah, bagaimana mungkin kita melupakan Tuhan dalam kesibukkan dan pekerjaan kita? Spiritualitas dan vitalitas hidup itu memang dan sungguh saling berhubungan! Jangan sampai kita mengabaikan ibadah dalam kesibukan kita! Ini adalah kekejian bagi Tuhan.

Pesan utama dari firman Tuhan kali ini adalah: hidup itu harus seimbang (antara kerja dan ibadah). Kita mempunyai tanggung jawab untuk bekerja dan tanggung jawab untuk beribadah. Jangan timpang! Jangan karena kita terlalu sibuk dengan urusan gereja, kita lupa bekerja, kita lupa studi, kita lupa tanggung jawab kita bagi keluarga (terkecuali pendeta, pastor, dll, yang memang dipanggil khusus untuk pelayanan gereja, dengan catatan: jaminan hidupnya dan keluarganya ditanggung oleh gereja). Tapi juga sebaliknya, jangan karena kita terlalu getol kerja, kita lupa gereja, kita lupa beribadah dan melayani.

Kalau dikatakan seimbang, itu tidak berarti bahwa 50 persen hidup saya untuk gereja dan 50 persen lagi untuk kerja. Tanggung jawab kita untuk gereja dan kerja (tanggung jawab kerja sudah termasuk keluarga) adalah sama: 100 persen! 100 persen di sini bukan 100 persen waktu, tapi 100 persen dalam hal tanggung jawab kita. Mungkin waktu kita untuk urusan gereja tidak banyak, tapi kita mengisinya sepenuhnya hati. Mungkin dana yang kita sumbangkan ke gereja hanya sekian persen dan dana yang dibutuhkan oleh keluarga, tapi kita memberikannya sebagai persembahan yang terbaik. Ingat: Tuhan tidak menuntut lebih dari yang kita punya. Tapi kita memberikannya (baik waktu ataupun materi) dengan ikhlas, dengan tanggung jawab yang tinggi. Tidak dengan setengah-setengah hati atau karena paksaan. Jadi yang dimaksud dengan 100 persen adalah kepenuhan hati kita.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here