Hidup Dalam Rencana Allah

0
2341

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Yunus 3:4-10

(4) Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” (5) Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. (6) Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (7) Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. (8) Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. (9) Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” (10) Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.

 

Banyak orang berpikir bahwa hidupnya bergantung kepada nasib. Kalau dia kaya itu berarti nasibnya memang baik. Kalau dia miskin itu berarti nasibnya buruk. Soal keselamatan pun dipikirkan seperti itu. Kalau saya masuk sorga itu berarti nasib baik. Kalau saya masuk neraka itu berarti nasib saya malang. Akibatnya kita pasrah saja. Semuanya sudah ditentukan dari sononya. Sudah diatur oleh Tuhan.

Hidup orang beriman tidak bergantung pada nasib. Yang terpenting dalam iman adalah: bagaimana kita hidup dan apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Roma 14:12 mengatakan: “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”

Hidup berdasarkan nasib berarti hidup dalam sebuah ‘skenario’ yang sudah ditentukan dari sononya. Kita tinggal menjalaninya. Kalau kaya ya kaya, kalau miskin ya miskin. Hidup seperti ini membuat manusia tidak memiliki kekuatan untuk mengubah hidupnya. Padahal, sejak awal, manusia diciptakan dengan kebebasan untuk memilih dan mengambil keputusan. Karena itu manusia diberi kemampuan dalam menentukan keadaan hidupnya. Jika rajin dan tekun ia akan berhasil, tapi jika malas ia akan gagal. Jika taat (beriman) ia akan selamat, tapi jika tidak taat hidupnya akan binasa. Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memilih: jika taat pada larangan Tuhan mereka hidup bahagia di Taman Eden, jika melanggar mereka akan binasa. Ternyata mereka melanggar larangan Tuhan sehingga mereka diusir dari Taman Eden.

Dalam rencana-Nya Allah memang menentukan (menetapkan) orang yang percaya kepada-Nya akan selamat. Tapi ini tidak berarti bahwa dengan percaya saja kita selamat. Allah menghendaki kita untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai kepercayaan itu. Dia mengamati dan menilai apa yang kita lakukan. Pada waktu kedatangan-Nya kembali Ia akan menghakimi kita berdasarkan perbuatan-perbuatan kita. Dalam Pengakuan Iman hal ini selalu kita ucapkan pada setiap kali Ibadah Minggu. Maksudnya, supaya kita tidak lupa akan tanggung jawab kita selaku orang beriman.

Kata kunci dalam hidup dalam rencana Allah adalah pertobatan dan kesetiaan. Dalam bacaan kita kali ini diceritakan bagaimana Tuhan berencana untuk menghukum orang Niniwe karena besarnya kejahatan mereka. Dalam 40 hari mereka akan ditunggangbalikan. Rencana Tuhan ini tidak lain adalah untuk melenyapkan orang-orang jahat (mereka yang tidak takut lagi kepada Tuhan), supaya sesudah itu muncul angkatan baru yang percaya kepada-Nya dan hidup dalam rencana keselamatan-Nya. Tapi, Puji Tuhan! Mereka bertobat. Mereka sungguh-sungguh bertobat dan mau berbalik dari segala kejahatannya. Mereka memohon agar Tuhan mengampuni mereka. Hati Allah yang penuh kasih tergerak dan Ia mengubah keputusan-Nya. Ia tidak jadi menghukum mereka.

Allah kita adalah Allah yang pengasih. Kita patut bersyukur memiliki Allah yang seperti ini. Allah yang selalu mau menyambut siapa pun yang percaya kepada-Nya. Allah yang selalu mewujudkan rencana yang baik bagi kita. Dalam Yeremia 29:11 Allah berkata: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Lihatlah betapa indahnya rencana Tuhan bagi kita. Tapi ingatlah bahwa rencana Tuhan yang baik itu harus direspon secara positif di mana kita harus melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Jika kita hanya berpangku tangan, tidak setia pada tugas dan tanggung jawab kita, dan selalu lari dari panggilan-Nya, maka sia-sialah kepercayaan kita. Karena pada akhirnya kita akan menerima penghukuman-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here