Pdt. Weinata Sairin: “Happines is not something ready made. It comes from your own actions” (Dalai Lama)

0
316

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari kata ‘bahagia’, ‘kebahagiaan’ acap kita dengar. Pada saat ada acara pernikahan, para tamu senantiasa menyampaikan ucapan ‘selamat menempuh hidup baru, semoga mengalami kebahagiaan’ kepada kedua mempelai. Tentu saja kata ‘bahagia’ memiliki definisi yang agak beragam dari banyak orang.

 

Ada orang yang memberi definisi atau tafsir bahagia yaitu ketika ia telah dapat memenuhi kewajibannya kepada istri dan anak-anaknya secara penuh. Ia telah memberi nafkah bagi keluarga dengan berkecukupan, ia telah menyekolahkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan terbaik di kotanya. Dan disitulah ia sebagai suami merasakan kebahagiaan yang sempurna.

 

Kamus Bahasa Indonesia memang memberikan begitu banyak arti tentang kata “bahagia”. “Bahagia” dimaknai dengan kesenangan, keberuntungan, ketenteraman hidup, kemujuran, kenikmatan, kepuasan. Namun harus dicatat bahwa istilah _bahagia_ atau _kebahagiaan_ lebih banyak dipergunakan dalam konteks relasi lelaki dan perempuan, relasi suami istri dalam institusi pernikahan. Itulah sebabnya orang berbicara tentang Pernikahan yang bahagia atau Rumah Tangga yang bahagia.

 

Ada perbedaan pemaknaan tentang “bahagia” jika dilihat dalam perspektif seorang pedagang, komposer, novelis, filsuf, politisi, psikolog. Menarik untuk menghayati resep seorang Goethe dalam mencapai kebahagiaan. Ia nyatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu minimal ada 3 hal yang perlu digarisbawahi. Seorang harus cukup berdoa untuk mengakui segala dosa dan meninggalkan dosa itu; cukup cinta agar dirimu tergerak untuk berguna dan bermanfaat bagi orang lain; cukup meyakini akan keberadaan Tuhan.

 

Seligman, seorang profesor psikologi menyatakan ada 3 hal yang mesti dilakukan oleh seseorang untuk mengalami kebahagiaan. *Kesatu, Have a pleasant life*. Seseorang harus memiliki hidup yang menyenangkan. *Kedua, Have a good life*. Terlibatlah dalam pekerjaan, enjoy dalam pekerjaan. *Ketiga, Have a meaningful life (life of contribution)*. Hidup dalam semangat melayani, hidup yang bermakna.

 

Goethe, Seligman bisa sangat membantu horison pemikiran dan cakrawala pandang kita untuk memahami makna kata “bahagia” dan bagaimana mencapainya. “Bahagia” memang sangat relatif. Seorang X menyatakan bahwa ia sudah berada pada tingkat berbahagia. Tapi seorang Y menyatakan bahwa pada tahap seperti itu ia _belum_ mencapai kebahagiaan sejati. Bahagia memang sangat relatif walaupun demikian tetap ada sebuah standar yang berlaku umum.

 

Apa yang dinyatakan Dalai Lama dalam pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini cukup menarik. Kebahagiaan itu bukan sebuah barang jadi, kata Dalai Lama. Kebahagiaan itu datang dari tindakan kita sendiri, dari upaya kita sendiri, dan tidak jatuh dari langit.

 

Mari dengan doa dan kerja keras kita berusaha untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Bagi umat beragama ukuran kebahagiaan kita terletak pada kesetiaan kita dalam menjalani perintah agama. Kita bahagia jika kita tetap berjalan pada jalan lurus, jalan yang Tuhan telah tetapkan.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here