Cara Menghadapi Ketakutan

0
2457

Oleh: Pdt. Andreas Loanka

 

 

Firman Tuhan dari 2Taw. 20:1-21:1

 

Ketakutan bisa datang pada seseorang ketika harus berhadapan dengan tantangan yang berat atau lawan yang jauh lebih besar. Ketakutan itu bisa membuat orang melarikan diri, atau hanya berdiam diri menerima “nasib,” atau malah nekad melawan tanpa perhitungan.

 

Raja Yosafat menjadi takut pada saat diberitahu bahwa suatu laskar yang besar jumlahnya datang menyerangnya. Laskar itu merupakan gabungan pasukan bani Moab, bani Amon dan orang-orang Meumin.  Tetapi ketakutan itu tidak membuatnya melarikan diri, berdiam diri, ataupun nekad melawan tanpa perhitungan. Alkitab mencatat: “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan” (2Taw. 20:3a).

 

Yosafat mengatasi ketakutan dengan jalan mencari Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda untuk berpuasa dan berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota dinYehuda untuk mencari Tuhan.

 

Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah Tuhan, seraya memanjatkan doa untuk memohon pertolongan-Nya. Tuhan mendengar seruan doa Yosafat dan umat Yehuda.  Dengan perantaraan Yahaziel bin Zakharia, seorang Lewi dari bani Asaf, Allah berfirman: “Janganlah takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (2Taw. 20:15). Yosafat beserta seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya. Kemudian orang-orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian kepada Allah.

 

Ketakutan berganti dengan nyanyian syukur karena iman percaya kepada Tuhan. Yosafat percaya kepada Tuhan dan meneguhkan umat agar tetap percaya kepada-Nya. Setelah berunding dengan rakyat, ia mengangkat para penyanyi untuk ditempatkan di barisan depan, di muka pasukan yang bersenjata, untuk menyanyikan nyanyian syukur bagi Tuhan. Musuh masih ada di hadapan mereka, tetapi mereka dapat menyanyikan nyanyian syukur karena mereka percaya bahwa ada Tuhan yang berjalan di depan mereka.

Baca juga  Yang Diperkenan Allah

 

Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat TUHANlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab serta orang-orang pegunungan Seir. Pasukan-pasukan lawan itu menjadi kacau sehingga saling berperang dan saling bunuh-membunuh. Pada saat Yosafat dan pasukannya tiba, yang mereka temukan hanya mayat-mayat musuh yang berhantaran di tanah. Mereka tidak usah berperang, melainkan pulang dengan membawa banyak ternak, harta milik, pakaian dan barang-barang berharga.

 

Marilah kita belajar dari Yosafat. Pada saat kita menjadi takut, ambillah keputusan untuk mencari Tuhan. Bersujudlah kepada Tuhan dan mohonkan pertolongan-Nya. Percayalah kepada Tuhan dan naikkanlah pujian syukur kepada-Nya. Bersandarlah kepada-Nya di dalam menghadapi persoalan hidup. Sebab Ia sanggup mengubah kekalahan menjadi kemenangan, mengubah krisis menjadi kesempatan untuk beroleh berkat.

 

 

Salam dan doa dari Pdt. Andreas Loanka. GKI Gading Serpong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here