Pdt. Weinata Sairin: “Ubi peccat aetas maior, male discit minor. Ketika yang lebih tua melakukan kejahatan maka yang lebih muda akan belajar dalam kejahatan itu”.

0
532

 

 

Acapkali usia yang ada pada diri seseorang itu menghadirkan ‘keterbatasan-keterbatasan’ tertentu, bahkan bisa menjadi penanda dari seserorang. Kondisi seperti itu seringkali tidak disadari dengan baik oleh tiap-tiap orang sehingga bisa menimbulkan dampak. Misalnya dalam hal menu makanan. Orang yang berusia lanjut sudah harus membatasi diri untuk tidak menikmati daging secara berlebihan apalagi yang berlemak. Untuk kasus-kasus tertentu mereka yang berusia lanjut mengkonsumsi nasi, dan gula dengan takaran tertentu sehingga kesehatan mereka terjaga.

 

Pada orang berusia muda hal seperti ini tidak berlaku; mereka bisa dengan lebih bebas menikmati makanan kecuali memang mereka menderita penyakit tertentu. Jenis makanan dan jumlahnya masih bisa dengan leluasa para orang muda menikmatinya. Bukan saja dalam hal makanan, tetapi juga pada pemilihan kata, terdapat keberbedaan.yang amat jelas antara orang muda dengan mereka yang sudah masuk kategori ‘usia lanjut’. Tatkala orang-orang tua dalam percakapannya dengan sesama orang tua menggunakan kata-kata dari’bahasa gaul’ yang biasa digunakan oleh para remaja dan pemuda maka dilingkup komunitas orang tua tidak semua mereka faham apa arti bahasa gaul itu. Disitu bisa terjadi distorsi yang pada ujungnya melahirkan kebuntuan diskusi. Pilihan-pilihan kata yang tidak tepat dan tidak sejalan dengan tingkat perkembangan usia bisa menghadirkan tafsir tertentu terhadap seorang yang berusia lanjut yang bisa kontraproduktif dalam hidup kebersamaan.

 

Dalam kehidupan masyarakat kita, orang yang berusia lanjut memiliki posisi yang terhormat. Mereka dianggap sesepuh, senior, yang ucapan, tindakan bahkan seluruh kediriannya menjadi teladan dan referensi bagi sebuah komunitas. Para usia lanjut memberi edukasi bagi generasi yang lebih muda dalam ucapan, tindakan dan sikap hidup.

 

Salah satu sikap yang penting diteladankan orang tua adalah sikap *pemaaf* yaitu kesediaan untuk memberi maaf kepada orang lain yang pernah bersalah kepadanya. Ini ada 2 cerita tentang sikap pemaaf yang bisa memberi inspirasi.

 

Seorang teman Clara Barton, pendiri Palang Merah Amerika pada suatu ketika mengingatkannya mengenai perlakuan jahat yang sudah ia lakukan pada Clara beberapa tahun yang lampau. Tetapi nampaknya Barton tidak mengingat hal itu.

“Tidakkah kau ingat?” tanya sahabatnya itu.

“Tidak” jawabnya. “Yang kuingat dengan jelas adalah _melupakannya_

 

Ketika Julius Caesar menemukan koleksi surat-surat yang ditulis oleh musuhnya untuk Pompey, ia membakar semua surat itu tanpa membacanya. Hal itu dilakukannya karena nenurut Julius “meskipun aku bisa menahan amarahku tetapi jauh lebih aman bila kulenyapkan penyebabnya”.

Sikap orang tua, senior adalah meneladankan sikap yang memberi maaf. Baik pada Clara Barton mapun pada Julius Caesar memaafkan adalah *melupakan* segala sesuatu yang berkaitan dengan sebuah kasus yang membawanya pada suasana marah.

Teladan perbuatan baik dari seorang yang lebih tua memberi makna yang amat positif bagi generasi muda. Perbuatan baik dari generasi tua adalah sebuah pembelajaran yang baik bagi generasi muda. Jika generasi yang

lebih tua mempertontonkan nafsu korupsi yang amat kuat, nafsu membunuh, mendiskriminasi, menghujat orang yang berbeda keyakinan, mengumbar ujaran kebencian, melakukan berbagai tindakan melawan hukum dsb, maka generasi muda akan belajar hal-hal negatif seperti itu dengan

lebih mudah.

 

Pepatah yang dikutip diatas mengingatkan kita  semua pentingnya generasi tua mewariskan teladan yang positif bagi generasi muda sejalan dengan itu generasi.muda juga mestinya berjuang terus mewujudkan kehidupan yang berbasis ajaran agama.

 

Selamat Berjuang God Bless.

 

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here