Tuhan Marah Kepada Manusia Yang Bertindak Keji

0
926

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Yehezkiel 8:1-18

(1) Pada tahun keenam, dalam bulan yang keenam, pada tanggal lima bulan itu, waktu aku duduk di rumahku berhadap-hadapan dengan para tua-tua Yehuda, kekuasaan Tuhan ALLAH meliputi aku di sana, (2) dan aku menerima penglihatan: Sungguh, ada kelihatan yang menyerupai seorang laki-laki, dari yang menyerupai pinggangnya sampai ke bawah kelihatan seperti api dan dari pinggangnya ke atas kelihatan seperti cahaya, seperti suasa mengkilat. (3) Dia mengulurkan sesuatu yang berbentuk tangan dan dipegang-Nya jambul kepalaku. Lalu Roh itu mengangkat aku ke antara langit dan bumi dan membawa aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke Yerusalem dekat pintu gerbang pelataran dalam yang menghadap ke utara, di mana terdapat berhala cemburuan, yang menimbulkan cemburu itu. (4) Lihat, di sana tampak kemuliaan Allah Israel, seperti penglihatan yang kulihat di lembah itu. (5) Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, lihatlah ke utara!” Aku melihat ke utara, sungguh, di sebelah utara gerbang mezbah, dekat jalan masuk, terdapat berhala cemburuan tadi. (6) Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, kaulihatkah apa yang mereka perbuat, yaitu perbuatan-perbuatan kekejian yang besar-besar, yang dilakukan oleh kaum Israel di sini, sehingga Aku harus menjauhkan diri dari tempat kudus-Ku? Engkau masih akan melihat perbuatan-perbuatan kekejian yang lebih besar lagi.” (7) Dan dibawa-Nya aku ke pintu pelataran, aku melihat, sungguh, ada sebuah lobang di dalam temboknya. (8) Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, perbesarlah lobang yang di tembok itu!” Sesudah aku memperbesar lobang itu, lihat, ada sebuah pintu. (9) Firman-Nya kepadaku: “Masuklah dan lihatlah perbuatan-perbuatan kekejian yang jahat, yang mereka lakukan di sini.” (10) Lalu aku masuk dan melihat, sungguh, segala gambar-gambar binatang melata dan binatang-binatang lain yang menjijikkan dan segala berhala-berhala kaum Israel terukir pada tembok sekelilingnya. (11) Dan di hadapannya berdiri tujuh puluh orang tua-tua kaum Israel, dengan Yaazanya bin Safan di tengah-tengah mereka dan masing-masing memegang bokor ukupannya di tangannya, dan keharuman dari asap ukupan itu naik ke atas. (12) Firman-Nya kepadaku: “Kaulihatkah, hai anak manusia, apa yang dilakukan oleh tua-tua kaum Israel di dalam kegelapan, masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka? Sebab mereka berkata: TUHAN tidak melihat kita; TUHAN sudah meninggalkan tanah ini.” (13) Ditambahkan-Nya lagi: “Engkau masih akan melihat perbuatan-perbuatan kekejian yang lebih besar lagi yang mereka lakukan.” (14) Lalu dibawa-Nya aku dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah utara, sungguh, di sana ada perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus. (15) Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, kaulihatkah apa yang mereka perbuat? Engkau masih akan melihat perbuatan-perbuatan kekejian yang lebih besar lagi dari pada ini.” (16) Kemudian dibawa-Nya aku ke pelataran dalam rumah TUHAN; sungguh, dekat jalan masuk ke bait TUHAN, di antara balai Bait Suci dan mezbah ada kira-kira dua puluh lima orang laki-laki, yang membelakangi bait TUHAN dan menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada matahari di sebelah timur. (17) Lalu firman-Nya kepadaku: “Kaulihatkah itu, hai anak manusia? Perkara kecilkah itu bagi kaum Yehuda untuk melakukan perbuatan-perbuatan kekejian yang mereka lakukan di sini, bahwa mereka memenuhi tanah ini dengan kekerasan dan dengan itu terus menyakiti hati-Ku? Sungguh, mereka berkelakuan tak senonoh di hadapan-Ku. (18) Oleh karena itu Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku. Aku tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Dan kalaupun mereka berseru-seru kepada-Ku dengan suara yang nyaring, Aku tidak akan mendengarkan mereka.”

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

 

Berulang-ulang kali Tuhan menyebut perbuatan keji yang dilakukan Israel. Karena perbuatan itu tetap nyata, maka akhirnya Tuhan menyampaikan hukuman-Nya atas bangsa ini. Perikop kita kali ini mengungkapkan penyembahan berhala yang dilakukan di dalam Bait Suci oleh umat Tuhan sendiri. Memang, apa yang mereka lakukan ini tidak tampak bagi banyak orang. Tetapi Roh Allah membuka mata Yehezkiel untuk melihat secara jelas segala bentuk kekejian yang dilakukan oleh umat Allah di sekitar Bait Suci Yerusalem.

Yehezkiel, oleh penyingkapan Roh Allah, melihat betapa kekejian itu telah menguasai kehidupan seluruh umat Tuhan. Bukan hanya di tempat umum, di tempat tersembunyi pun Yehezkiel dapat melihat penyembahan berhala yang selama ini ditutup-tutupi (ay. 10). Tindakan ini, secara langsung maupun tidak, telah mencemarkan Bait Suci dan membuat mereka membelakangi Allah.

Anehnya, perbuatan keji itu dianggap biasa. Mereka melakukannya tanpa merasa bersalah, baik oleh pemimpin agama maupun oleh umat biasa. Karena itu Tuhan berfirman kepada Yehezkiel, “Kaulihatkah itu, hai anak manusia? Perkara kecilkah itu bagi kaum Yehuda untuk melakukan perbuatan-perbuatan kekejian yang mereka lakukan di sini, bahwa mereka memenuhi tanah ini dengan kekerasan dan dengan itu terus menyakiti hati-Ku? Sungguh, mereka berkelakuan tak senonoh di hadapan-Ku” (ay. 17).

Tuhan tidak mungkin membiarkan keadaan itu. Ia berkata, “Oleh karena itu Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku. Aku tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Dan kalaupun mereka berseru-seru kepada-Ku dengan suara yang nyaring, Aku tidak akan mendengarkan mereka” (ay. 18).

Sekarang ini kita dapat melihat perbuatan-perbuatan kekejian dalam bentuknya yang makin beragam dan makin canggih. Semua itu termanifestasi dalam merosotnya kepedulian terhadap sesama, keluarga, hukum bahkan Tuhan. Martabat manusia begitu direndahkan, sampai-sampai hak untuk hidup begitu mudahnya dirampas dan dicabut oleh sesamanya. Kondisi ini makin diperburuk oleh perilaku sebagian pemimpin agama, yang menista nilai-nilai agama (moral) berangkat dari salah tafsir kitab suci ataupun karena didorong oleh keinginan menancapkan kekuasaan. Mereka terus bergerak dalam segala keinginan mereka, tanpa ada rasa takut apakah langkah mereka itu sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

Semua hal di atas patut diwaspadai, jangan sampai dianggap wajar padahal Tuhan tidak menghendakinya. Gereja, secara khusus, harus peka dan sigap untuk memberantasnya. Jangan kekejian ditutupi demi mempertahankan citra tertentu. Tuhan akan marah jika kita bertindak atau membiarkan orang bertindak keji. Ingatlah, jangan sampai gereja sendiri, sebagaimana umat Israel (dan institusi agamanya), membiarkan kekejian terus berlangsung. Apapun bentuknya, kekejian adalah kekejian. Tuhan membencinya, Dia akan marah kalau kita melakukannya tanpa rasa bersalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here