Hate the sin, love the sinner (Mahatma Gandhi)

0
1271

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

 

*Dosa* adalah istilah yang acapkali digunakan dalam ruang lingkup agama untuk menjelaskan tentang tindakan manusia yang bertentangan dengan ajaran agama dan atau melawan perintah Tuhan. Dalam teologi Kristen misalnya dosa itu mewujud dalam _pikiran, perkataan dan perbuatan_. Pemikiran itu yang setiap saat diulang dan ditekankan kepada umat bahkan dimasukkan dalam narasi *liturgi*/tata ibadah. Itu berarti yang disebut ‘dosa’ itu amat luas dan tidak semua bisa dideteksi secara tepat/persis. Jika gagasan jahat dan destruktif itu masih berada dalam _pikiran_ dan belum mengejawantah dalam perbuatan, tentu sulit untuk mendeteksinya.

 

Perbuatan dosa terwujud dalam beragam bentuk, mengikuti perkembangan zaman. Di zaman kuno wujud dosa tidak serumit di zaman modern. Ruang-ruang yang “tersedia” bagi perbuatan dosa tentu lebih banyak dan variatif di zaman modern ketimbang di zaman baheula. Dalam zaman modern kita akui juga ada perubahan dalam standar etika. Sesuatu yang dizaman baheula dianggap ‘terlarang’, di zaman modern dengan munculnya pemikiran baru, hal tersebut dianggap tidak lagi terlarang.

 

Di zaman kuno dosa korupsi tidak marak seperti di zaman modern. Di zaman modern seperti sekarang ini korupsi sudah amat menggurita. Korupsi tidak mengenal pangkat, jabatan, eselon, gender, agama, suku, fraksi. Korupsi menjadi “bintang” di negeri ini; mereka yang tertangkap tangan dan di shoot televisi terlihat enjoy saja tak nampak sedih atau menyesal. Pak TB Silalahi beberapa tahun yang lalu pernah menyatakan bahwa hanya di surga yang tak ada korupsi.

 

Dalam asumsi-asumsi teologis yang kita miliki hingga sekarang, pernyataan pak TB dapat kita benarkan. Kita prihatin bahwa di sebuah negeri yang penduduknya amat taat beragama, ternyata korupsi masih bisa tumbuh subur.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Dosa-dosa di zaman modern tidak hanya sekadar korupsi dan perbuatan sejenisnya tapi juga dosa-dosa yang termasuk dalam “white collar crime”, perampokan, pembunuhan, cyber crime, kejahatan perbankan, kekerasan seksual, dan sebagainya. Dosa-dosa itu mesti dilawan, diperangi, dibinasakan, dan orang-orangnya, para pelaku dosa mesti diselamatkan.

 

Memang antara dosa dan pendosa ada keterpautan, ada relasi. Tetapi mesti ada kejelasan distingsi antara _dosa_ dan _pendosa._ Tepat ketika Gandhi orang besar India itu berujar ‘bencilah dosa, kasihilah orang berdosa’. Mari jauhi dosa, benci dan perangi dosa apapun, tetapi kasihilah orang yang berdosa.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here