Yesus Selalu Bertindak Tepat

0
505

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Yohanes 2:1-11

(1) Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; (2) Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. (3) Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” (4) Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” (5) Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (6) Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. (7) Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. (8) Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. (9) Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu — dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya — ia memanggil mempelai laki-laki, (10) dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” (11) Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

 

Dalam bacaan ini diceritakan bagaimana Yesus mengubah air menjadi anggur dalam suatu jamuan perkawinan di Kana (Galilea). Inilah mukjizat pertama yang dilakukan-Nya. Yesus memulai debut pertama pelayanan-Nya dengan mengubah air menjadi anggur. Mengapa Yesus tidak memilih hal yang lebih spektakuler untuk debut pertama-Nya? Misalnya dengan membangkitkan orang mati, supaya pada start awal pelayanan-Nya banyak orang langsung percaya kepada-Nya? Mengapa Dia mulai dengan mengubah air menjadi anggur (berkualitas nomor satu)? Bukankah anggur akan membuat semakin banyak orang yang akan mabuk dalam pesta pernikahan itu? Tanpa minum anggur orang tidak akan mati, bukan?

Mengubah air menjadi anggur tampaknya terlalu kecil dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lainnya. Lagi pula hanya disaksikan oleh kelompok yang kecil, bahkan banyak yang tidak tahu kalau Yesus yang melakukannya. Tapi justru dari yang kecil ini Yesus memulaikan pelayanan-Nya! Dengan yang kecil ini Yesus mau menunjukan hakikat kedatangan-Nya.

Pertama, Yesus tidak meremehkan hal kecil. Bagi-Nya, yang kecil itu tetap penting. Dalam kehidupan modern ini banyak orang menyepelekan hal-hal kecil. Apalagi kalau hal itu tidak menguntungkan, akan dijauhi. Orang kini cenderung pragmatis. Menghadapi sesuatu selalu dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan: Apa gunanya bagiku? Apa untungnya bagiku? Termasuk kegiatan pelayanan, karena dianggap kecil, karena dianggap tidak menguntungkan, dihindari dan dijauhi. Coba lihat, orang-orang pergi ke gereja, umumnya berpikir: semoga saya diuntungkan dalam kebaktian, semoga saya diberkati. Kalau merasa tidak diberkati ia pun diam di rumah. Tapi apa yang kecil itu telah menolong tuan pesta dari rasa malu yang besar. Ia memang mengundang Yesus dan keluarga-Nya datang ke pesta itu. Lihatlah, Yesus memperhatikan yang kecil agar tidak merugikan orang yang mengundang-Nya. Kita pun, jika mengundang Yesus dalam hidup kita, Ia akan membuat hal kecil menjadi bermakna. Tapi bagi yang tidak mengundang Yesus dalam hidupnya, hal kecil dapat berubah menjadi perkara besar. Benar bukan? O benar sekali!

Kedua, dengan membuat air menjadi anggur, Ia melayani para undangan. Melayani adalah misi-Nya: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani” (Markus 10:45). Kepada murid-murid-Nya Ia mengajarkan hal ini: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Matius 20:26-27). Yesus tahu bahwa sifat manusia adalah mau dilayani. Suami inginnya dilayani, atasan inginnya dilayani. Mereka beranggapan dengan dilayani, citra dirinya naik. Semakin dilayani berarti semakin dihormati. Tapi tidak demikian bagi Yesus. Yang benar bagi-Nya adalah, siapa yang ingin menjadi besar dan terkemuka maka dia harus melayani sesamanya. Adakah prinsip ini hidup dalam diri kita? Ada! Benar, ada. Tapi apakah prinsip ini dipegang dengan kuat? Sudahkah kita benar-benar melayani keluarga? Sudahkah kita benar-benar melayani jemaat? Sudah cukupkah waktu yang kita berikan untuk melayani? Silahkan merenungkannya!

Ketiga, dengan mengubah air menjadi anggur Yesus menunjukan bahwa Dia datang untuk mengubah segala sesuatu secara mendasar dan radikal. Air yang tanpa rasa (tawar) diubah menjadi anggur berasa manis. Banyak orang Kristen yang hidupnya tawar dan tanpa rasa. Dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja. Tidak mau belajar untuk berubah. Pada hal di hadapan Yesus kita harus selalu baru. Juga banyak ibadah dan pelayanan kita terasa tawar. Kenapa? Karena kita tidak mau berubah! Kita tidak mau ada pembaruan! Kalau cara beribadah dan liturgy diubah dan ditambah sedikit, katanya salah. Jangan, ibadah kita harus tenang seperti di kampung! Pada hal Yesus selalu menciptakan sesuatu yang baru bagi kita. Jadi, kita harus berubah dibawah pembaruan Roh Kudus agar hidup kita punya rasa. Ingatlah kata Tuhan Yesus: “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja” (Lukas 14:34-35).

Keempat, tadinya Yesus enggan untuk mengubah air menjadi anggur. Tapi Ia tidak sampai hati, melihat para pelayan sudah menyediakan tempayan-tempayan. Ia pun mengubah air menjadi anggur. Saudara-saudara, diri dan hidup kita adalah tempayan-tempayan Tuhan. Maukah kita memberi diri kita untuk diubah oleh Tuhan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here