Korban Agung

0
485

Oleh: Oscar Wirawan

 

Ribuan tahun lalu nabi Musa & imam Harun yang mengamalkan hukum Taurat, mengajarkan kepada umat Tuhan tentang *berkorban utk menebus kesalahan dan dosa.*

 

Seperti yang tertulis “di kitab Imamat”:

 

“Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.”

 

“Haruslah ia membawa kepada imam “seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba”, yang sudah dinilai, “sebagai korban penebus salah”. Imam itu haruslah mengadakan pendamaian bagi orang itu karena perbuatan yang tidak disengajanya dan yang tidak diketahuinya itu, “sehingga ia menerima pengampunan.”

Imamat 5:17-18.

 

Hukum Taurat adalah “bayangan” dari “hukum yang sempurna” yang akan datang, yang bisa membawa setiap orang kepada “kesempurnaan/ kekudusan” yang sesungguhnya, sesuai kehendak Allah.

 

Seperti yang tertulis “di kitab Ibrani:

 

“Di dalam hukum Taurat hanya terdapat *bayangan saja dari keselamatan yang akan datang* (a shadow of the good things that are coming) dan “bukan hakekat” dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang “setiap tahun terus-menerus” dipersembahkan, “hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan” mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.” Ibrani 10:1.

 

Semua hukum, ajaran, dan aturan yg harus “dilakukan terus berulang-ulang”, hal itu menunjukkan bahwa hukum/ aturan itu “tidak bisa menyempurnakan”, tapi “hanya merawat, menjaga atau memelihara saja”. Sama seperti orang mandi lalu kotor lagi, besok mandi lagi, kotor lagi, begitu seterusnya dilakukan berulang-ulang setiap hari “supaya tetap bersih.” Hal ini dilakukan karena manusia “tidak berdaya menghilangkan “sumber kotor” nya.

 

Semua ibadah yg berulang-ulang dilakukan hanyalah “berfungsi untuk mengingatkan saja, bukan utk menyempurnakan.”

 

Seperti yg tertulis “di kitab Ibrani”:

 

“Tetapi justru “oleh korban-korban itu” setiap tahun orang “diperingatkan” akan adanya dosa.”  Ibrani 10:3.

 

“Lalu bagaimana supaya kita bisa sempurna?”

 

Prinsip dasarnya adalah:

“yang tidak sempurna”  “tidak mungkin bisa menyempurnakan” yang tidak sempurna.

 

*Manusia yang tidak sempurna, termasuk nabi-nabi dan imam-imam yg tidak sempurna,” tidak mungkin mereka semua bisa membawa kita kepada kesempurnaan. “Peran mereka hanya mengingatkan, bukan menyempurnakan.”

 

*Lalu bagaimana kita bisa sempurna?*

 

Hanya “Yang Sempurna” yang bisa menyempurnakan.

 

Dimanakah kita menemukan “Yang Sempurna”?

 

Dalam *surat Yakobus* dituliskan:

 

“Setiap pemberian “yang baik” dan setiap anugerah “yang sempurna”, datangnya “dari atas,” diturunkan dari “Bapa segala terang”; pada-Nya ” tidak ada perubahan “(fixed)” atau bayangan “(not a shadow, but the truth)” karena pertukaran “(firmed, no shifting)” Yakobus 1:17

 

Surat Yakobus menuliskan bahwa “yang sempurna” itu datangnya “dari atas, diturunkan dari “Bapa segala terang”. Semua yang telah “diterangi dari segala penjuru” akan “kelihatan aslinya, hakekatnya, tidak ada lagi bayangan,” yang ada adalah wujud aslinya.

 

*Injil Yohanes menuliskan:*

 

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya” siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. “Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.” Yohanes 3:31

 

Atas dasar kebenaran inilah kita semua yang mengharapkan “yang sempurna, yang asli, yang hakekat”, mendasarkan ” iman kepercayaan dan pengharapan” kita kepada “Dia yang berani menyatakan diri berasal dari Atas.*

 

*Yesus Kristus atau Isa Almasih” adalah satu-satunya yang berani menyatakan diri seperti ini

 

“Kamu berasal dari bawah, ‘Aku dari atas’; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Yohanes 8:23

 

“Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab *Aku keluar dan datang dari Allah*. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.” Yohanes 8:42.

 

“Yesus Kristus” yang disebut juga dengan sebutan “Isa bin Maryam atau Isa putra Maryam”, sebutan ini menunjukkan bahwa “Yesus atau Isa tidak punya ayah biologis.” Kalau Yesus lahir secara biologis dari hubungan suami istri, lazimnya Yesus akan disebut Isan bin Yusuf, karena suami Maryam adalah Yusuf.

 

Ketidak laziman ini tentu bukan terjadi tanpa maksud. Tp menunjukan “peran khusus, misi khusus, amanah khusus.” Karena Allah yang sempurna selalu punya maksud yang sempurna atas semua tindakanNya.

 

Atas dasar inilah Yesus disebut “Putra Allah yang berarti berasal dari Allah”. Tidak diperanakkan dari darah dan daging yang lahir ke dunia secara jasmani/ biologis karena keinganan laki-laki, tapi “berasal dari Roh Allah/ Roh Kudus karena keinginan/ maksud Allah” yang sempurna.

 

Kitab Ibrani menuliskan:

 

Dan karena “kehendak-Nya” inilah kita “telah dikuduskan satu kali” untuk “selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus”.  Ibrani 10:10

 

“Karena itu ” Ia (Yesus) sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna” semua orang yang  “oleh Dia datang kepada Allah.” Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

“Sebab Imam Besar” yang demikianlah (Yesus) yang kita perlukan: yaitu yang “saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga”. Ibrani 7:25-26

 

“…dan sesudah Ia (Yesus) “mencapai kesempurnaan-Nya,” Ia menjadi “pokok keselamatan (sumber keselamatan) yang abadi” bagi “semua orang yang taat kepada-Nya.” Ibrani 5:9.

 

Tuhan Yesus Memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here