Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku (Mazmur 103: 1a)

0
5013

Oleh: Pdt. Jacobus Manuputty

 

 

Memuji Tuhan dengan mulut dan bahasa tubuh lainnya itu sudah biasa, karena hal ini yang selalu dan selalu dilakukan manusia dihadapan Tuhan dan sesama. Kadang pujian yang lazim seperti ini dilakukan manusia dengan penuh kesungguhan dan ketulusan, tetapi kadang pula tersimpan motivasi terselubung yang mengarah kepada sisi penonjolan diri atau ekspresi pamer diri manusia yang tidak terlalu rohani. Ini tidak terlalu salah dan juga tidak dilarang secara hitam putih, karena Tuhan tahu itu sifat dasar kita yang kadang suka pamer diri, ingin dilihat sesama, suka dipuji dan menunjukkan eksistensi diri berlebih. Dan sifat serta sikap ini selalu terlihat didalam Ibadah-ibadah kita, baik lewat lagu-lagu pujian atau kesaksian-kesaksian kita. Sekali lagi, ini tidak salah 100% dihadapan Tuhan dan juga tidak lalu dianggap sebuah “penodaan Ibadah”. Nah judul diatas, “PUJILAH TUHAN, HAI JIWAKU”, mau mengungkapkan makna rohani yang lebih dalam dan lebih kena mengena dengan “selera Tuhan”. Sebab Tuhan lebih suka melihat hati daripada sekedar penampilan fisik. Karena itu, semua pujian kepada Tuhan harus lahir dari kedalaman jiwa serta keindahan hati nurani, bagian dari sisi-sisi terdalam “nucleus jiwa” kita, ini semua sangat disukai Tuhan. Karena itulah pemazmur dengan tepat mengungkapkan, ” PUJILAH TUHAN, HAI JIWAKU”, punya minimal 3 makna penting, antara lain :

 

1. JIWA ADALAH PRODUK ILAHI :

Jika memuji Tuhan lewat lagu yang adalah produk manusia dan belum tentu disukai Tuhan, maka memuji Tuhan dengan jiwa yang adalah produk Ilahi, pasti lebih kena mengena dengan selera Tuhan. Jadi setiap pujian kita kepada Tuhan apakah melalui lagu atau kesaksian-kesaksian didalam Ibadah-ibadah kita, harus dipertanyakan apakah sekedar pujian dari bibir mulut kita, ataukah sungguh-sungguh pujian yang keluar dari kedalaman jiwa kita. Jadi motivasi dan niat hati kita selalu dipertanyakan, murni, sungguh-sungguh atau palsu.

 

2. PUJIAN PENUH PENGHAYATAN :

Akan berbeda apabila orang memuji Tuhan dengan penghayatan penuh, daripada sekedar asal memuji. Dan memuji dengan jiwa itu selalu didasarkan atas penghayatan yang sungguh-sungguh akan Kasih Tuhan, Kuasa dan Kebaikan Tuhan. Pujian yang penuh penghayatan itu, bisa membuat “Sorga dan dunia terharu”, bisa membuat manusia dan Tuhan ikut terharu. Karena itu tidak heran kalau ada pujian kepada Tuhan yang membuat banyak orang yang terharu, terisak, menangis tetapi juga tersenyum bahagia.

 

3. PUJIAN DENGAN ROH DAN AKAL BUDI :

Pujian yang lahir dari jiwa akan menghasilkan pujian yang indah merdu, karena orang tidak hanya  memuji Tuhan dengan mulut serta akal pikirnya, tetapi mereka memuji Tuhan dengan “roh dan akal budi”

” Aku akan menyanyi dan memuji Tuhan dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku (1 Korintus 14:15c). Roh yang mencerahkan jiwa dan akal budi yang menjernihkah hati nurani. Produk pujian yang dihasilkan dari roh dan akal budi, pasti akan menghasilkan keindahan dihadapan Tuhan dan manusia. Karena itu, menyanyilah dengan hati, pujilah Tuhan dengan jiwamu.

 

Khusus untuk saudara-saudaraku terkasih di Paduan-paduan Suara!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here