Tetap Fokus Pada Iman Kepada Yesus

0
858

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Galatia 5:1-15

(1) Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. (4) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (5) Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. (6) Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. (7) Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? (8) Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu. (9) Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. (10) Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia. (11) Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi. (12) Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya! (13) Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (14) Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (15) Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

 

 

Kita telah dimerdekakan oleh Kristus, karena itu kita bukanlah lagi hamba dari Hukum Taurat. Yang membenarkan kita bukanlah Hukum Taurat (sekalipun orang Yahudi masih menganggapnya demikian), melainkan kuasa Allah yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Jadi, ‘Tuan’ kita sekarang bukan lagi Hukum Turat melainkan Kristus.

 

Jelas, jalan keselamatan kita adalah Yesus Kristus. Namun demikian, Paulus melihat masih ada orang yang berkeyakinan bahwa mereka diselamatkan oleh sunat. Bagi orang seperti ini, apalagi jika ia terus memaksakan dirinya untuk disunat, maka Paulus menyampaikan bahwa dia telah berpaling dari jalan anugerah. Baginya keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Yesus tak pernah ada.

 

Inti kekristenan bukanlah terletak pada hukum (termasuk Hukum Taurat) tetapi pada hubungan yang intim dengan Yesus Kristus. Iman Kristen tidak lagi berdasar pada “loh batu” tapi pada diri Yesus. Dan, gerakan serta pertumbuhan kekristenan tidak lagi ditentukan oleh kepatuhan pada hukum melainkan oleh kasih kita kepada Yesus.

 

Sebenarnya orang-orang Kristen Galatia telah mengetahui prinsip iman ini. Mereka juga telah mengerti bahwa keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus. Namun, mereka kembali terpengaruh oleh paham-paham ‘lama’ (Hukum Taurat). Ternyata ada kelompok yang menghasut mereka sehingga gerakan keagamaan mereka kembali bersifat legalistik. Mereka, misalnya, diwajibkan melaksanakan sunat sebagai tindakan yang harus ditempuh untuk keselamatan mereka.

 

Melihat keadaan itu, Paulus mengingatkan mereka agar waspada, “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” Paulus mendorong mereka untuk melawan kelompok itu, sebelum pengaruhnya merasuki sendi-sendi kekristenan lebih jauh. Dengan keras Paulus berkata kepada para penghasur, “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!” Paulus sesungguhnya tahu kelompok yang berusaha mempengaruhi orang-orang Kristen Galatia itu. Kepada mereka Paulus dengan tegas mengatakan, jangan cuma memberkakukan sunat, tapi sekaligus mengebirikan dirinya saja.

 

Sekalipun kita tidak lagi hidup dalam kewajiban sunat, tetapi menurut Paulus tetap ada kewajiban iman yang harus kita penuhi. Pertama, mengasihi Allah. Kasih kita kepada Allah adalah wujud dari keinginankita menjunjung pekerjaan Tuhan. Kita tidak mau menodai pekerjaan penyelamatan yang telah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus. Kedua, mengasihi sesama. Kasih kita kepada manusia adalah bukti dari kasih kita kepada Allah. Implementasi kasih tersebut seluas kasih kita pada diri sendiri. Artinya, sebagaimana kita mengasihi diri kita, begitulah kita harus mengasihi sesama.

 

Akhirnya, apa pun yang terjadi, bagaimana pun lingkungan berusaha ‘menancapkan’ pengaruhnya dalam hidup kita, tetaplah fokus kepada Yesus Kristus, sumber keselamatan kita. Ikutilah jalan-Nya. Jikalau kita meninggalkan jalan-Nya, kita akan terjerumus dalam kemelut yang tiada akhirnya. Jangan mengandalkan diri, melainkan rendahkan hati di hadapan Tuhan. Praktekkan kasih yang terarah kepada-Nya dan kepada sesama. Lakukan itu seluas-luasnya, maka hidup kita akan berlimpah kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here