Iman Perlu Ditambah Tujuh Elemen Dasar

0
944

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

 

“JUSTRU KARENA ITU KAMU HARUS DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH BERUSAHA UNTUK MENAMBAHKAN KEPADA IMANMU KEBAJIKAN, DAN KEPADA KEBAJIKAN, PENGETAHUAN, DAN KEPADA PENGETAHUAN, PENGUASAAN DIRI, KEPADA PENGUASAAN DIRI, KETEKUNAN DAN KEPADA KETEKUNAN KESALEHAN DAN KEPADA KESALEHAN KASIH AKAN SAUDARA-SAUDARA DAN KEPADA KASIH AKAN SAUDARA-SAUDARA KASIH AKAN SEMUA ORANG” ( 2 Petrus 1 : 5-7)

 

Menjadi orang Kristen itu ternyata tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Seolah seorang yang diiming-imingi sembako, atau dibantu asap dapurnya dan mendapat fasilitas standar dalam hidupnya maka ia dengan mudah dibaptis dan menjadi orang Kristen. Dan jadilah ia secara formal orang Kristen. Tahun 60 – 70an marak istilah kristenisasi dibeberapa daerah dan muncul istilah “kristen beras” atau “kristen susu”. Maksudnya adalah seorang menjadi Kristen karena mendapat sumbangan beras atau susu dari lembaga/pribadi yang bergerak dalam bidang penginjilan. Dalam masa-masa itu tatkala kemiskinan benar-benar melilit rakyat kecil, aspek ekonomi memang sering berpautan dengan perpindahan agama.

 

Pada saat penulis menjadi Pendeta Jemaat dikota kecil Cimahi sekitar tahun 74-78 beberapa kali ada orang-orang (Sunda) yang datang dari sekitar Cimahi ikut kebaktian minggu di Gereja, mereka menyatakan keinginan untuk “masuk Kristen”. Sempat dilakukan percakapan dengan mereka, dan melibatkan beberapa anggota Majelis Jemaat ; melalui percakapan itu ditangkap adanya nuansa motif ekonomis dari mereka dalam kaitan keinginan mereka untuk menjadi Kristen.

 

Petrus dalam surat yang ia kirim ke Jemaat di sekitar Asia tahun 100, ditengah berbagai derita yang dialami umat karena kekristenannya, menegaskan bahwa dalam menghadapi realitas empirik yang demikian sulit maka Iman itu tidak cukup. Dengan beriman, tercatat dalam buku register Gereja, datang dalam ibadah Minggu dan kegiatan rutin gerejawi lainnya, seolah sudah beres semua, seakan-akan seat di

surga sudah tersedia!

 

Petrus mengingatkan agar kita  dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan Iman dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, kasih akan semua orang.

 

Petrus tentu saja punya alasan spesifik dan argumentatif mengapa ia perlu menyebut secara eksplisit 7 keywords/kata kunci yang perlu ditambahkan kepada Iman sehingga Iman umat itu mampu bertahan ditengah gejolak politik kekuasaan yang saat itu mengguncang kehidupan. Petrus tahu benar karakter umat yang ia kirimi surat, bagaimana daya tahan iman mereka. Petrus faham bagamana politik licik penguasa zaman itu.yang selalu memposisikan umat Kristen sebagai kambing hitam yang melakukan pembakaran kota atau tindak kriminal lainnya. Itulah sebabnya Petrus dalam gaya pastoralnya yang bernas, cerdas dan dalam mengungkapkan hal itu dalam suratnya.

 

Tatkala kita kini hidup dan menghidupi dunia post modern dengan tingkat peradaban yang makin maju, ketika beragam informasi memasuki ruang-ruang privasi kita secara telanjang, tatkala informasi mondial hanya sebatas kemauan dan kemampuan jemari kita mengklik, kekristenan tetap tidak mendapat ruang yang sejuk dan nyaman/convenience. Kekristenan tetap ditolak oleh dunia, seperti yang Yesus katakan. Hujatan, penodaan, penistaan bahkan kriminalisasi terhadap kekristenan tak pernah surut.

 

Umat Kristiani Indonesia adalah bagian integral dari bangsa ini. Mereka bukan penumpang gelap, atau penumpang tanpa karcis di gerbong NKRI. Kita adalah pemilik sah negeri ini yang telah menyumbangkan darah, tubuh dan bentuk-bentuk pengurbanan yang lain demi tegaknya NKRI.

 

Mari terus mengukir karya terbaik di negeri ini, tambahkan kepada Iman kita 7 kata kunci penting seperti yang dinyatakan Petrus. Selamat Merayakan Hari Minggu. Selamat menghayati Minggu Prapaskah. God Bless!.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here