THERE ARE SOME PEOPLE WHO LIVE IN A DREAM WORLD AND THERE ARE SOME WHO FACE REALITY; AND THEN THERE ARE THOSE WHO TURN ONE INTO THE OTHER (Douglas Everett)

0
552

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Setiap orang memiliki pandangan dan tafsir yang berbeda serta beragam dalam hal apa makna kehidupan manusia ditengah dunia. Apakah mereka hanyalah sekadar makhluk dari planet lain yang karena ‘nasib’ lalu jatuh terlempar ke bumi seperti dongeng-dongeng zaman baheula. Atau mereka secara sengaja diutus dan ditempatkan dibumi oleh. Kuasa Transenden untuk melakukan sesuatu. Tentu saja pemaknaan itu lahir dengan dilatarbelakangi oleh banyak faktor. Bisa oleh karena faktor teologi, yaitu ajaran agama. Ajaran agama biasanya secara jelas dan cukup detil memberikan gambaran apa makna hakiki dari kehidupan manusia ditengah-tengah dunia.

Diawali dengan cerita tentang penciptaan manusia sebagaimana diceritakan di dalam Kitab Suci, kemudian diteruskan dengan narasi seputar ‘tupoksi’ manusia ditengah-tengah dunia. Manusia memiliki peran yang amat penting dan strategis didunia. Sebagai makhluk ciptaan.Allah.yang amat mulia manusia harus mengelola bumi dengan baik dan penuh tanggungjawab. Manusia harus menjaga dan merawat bumi ini berikut kekayaan alam yang dimilikinya. Itulah fungsi sentral manusia dalam konteks kehadirannya ditengah dunia.

Manusia dengan edukasi, akal budi dan pemikirannya adalah sosok potensial yang memiliki daya kreatif dan inovatif dalam mengelola bumi. Pandangan filosofis, ideologis dan kultural bisa juga turut memberi pengaruh bagi manusia dalam memahami makna kehadirannya ditengah dunia.

Agama-agama sebenarnya telah memberikan narasi yang cukup jelas tentang apa siapa manusia, apa makna kehadirannya ditengah dunia. Menurut agama-agama, manusia hidup di dunia nyata, di dunia konkret dengan aneka tantangan dan pergumulan di dalamnya. Manusia tidak hidup dalam dunia maya, dunia yang fiktif dan penuh khayal.

Manusia tidak boleh melarikan diri dari dunia nyata, menjauhi realitas dunia yang pahit, getir, ganas dan garang lalu manusia “fly” ke dunia lain. Manusia justru disuruh masuk kedalam dunia, mengelola dunia, menjadi bagian dari gumulan dunia tetapi tidak larut serta menjadi serupa drngan dunia.

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini memberi gambaran tentang tipe manusia. Sebagian besar manusia hidup dalam penjara khayal, sebagian lagi hidup dalam realita, namun ada juga yang hidup dengan mengubah khayalan menjadi kenyataan. Manusia tipe ketiga ini agaknya yang sadar bahwa hidup hanya sekali sebab itu harus berani melawan hasrat khayal dan mewujudkan khayal itu dalam realitas konkret.

Mari tinggalkan khayal, dan lakukan action!
Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here