POTIUS AMICUM QUAM DICTUM PERDERE. LEBIH BAIK KEHILANGAN TEMAN DARIPADA KEHILANGAN SEBUAH JANJI YANG BERPELUANG

0
402

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Dalam menjalani kehidupan ini kita memiliki banyak sekali teman atau sahabat. Ada teman sekantor, teman kuliah, teman seperjalanan, teman sepermainan dan sebagainya. Konon ada yang menyatakan bahwa kata ‘sahabat’ lebih dalam maknanya ketimbang ‘teman’. Sahabat lebih memiliki sikap empati dibanding ‘teman’. Sahabat lebih memahami kedirian kita, lebih mau tahu pergumulan kita dari pada seorang teman. Bahkan ada yang bilang bahwa sahabat adalah “diri kita yang lain”.

Dalam banyak peristiwa yang kita alami kedekatan seorang sahabat dengan kita bisa dibuktikan dengan jelas berdasarkan pengalaman empirik. Terutama sekali tatkala kita dirundung duka pendampingan seorang sahabat amat kita rasakan. Ia menghibur dengan kata-kata penguatan dan motivasi, ia ikut membantu berbagai hal dalam kondisi kedukaan yang kita alami. Pendeknya seorang sahabat adalah seorang yang benar-benar ikut mengambil bagian dalam kehidupan kita.

Namun dalam kehidupan praktis dan mengacu berbagai pengalaman empirik, seorang teman ternyata juga juga punya makna penting dalam kehidupan sesrorang. Artinya walaupun per definisi ada perbedaan signifikan antara “sahabat” dan “teman” namun dalam pengalaman empirik dan berbagai realitas yang kasuistik keberbedaan istilah itu tidak selalu mewujud secara harafiah dan konsisten.

Agama-agama mengajarkan kepada umatnya untuk hidup membina tali-silaturahim, persahabatan antar manusia tanpa mempertimbangkan keberbedaan yang ada. Sahabat, teman mesti selalu diperbanyak dalam kehidupan kita. Kita reduksi keberbedaan yang ada, apalagi hal-hal teknis dan spele. Dalam hal ada keberbedaan tentang ideologi atau teologi kita hendaknya fahami itu sebagai wujud dari kekayaan khazanah pemikiran dan tidak usah menjadi bahan pertentangan diantara kita sebagai sesama warga bangsa; karena sebagai bangsa kita sudah memiliki ‘ideologi nasional’ yang menjadi common platform kita bersama.

Menarik sekali pepatah yang dikutip diawal tulisan ini yang mengingatkan pentingnya sebuah janji. Janji bertemu seseorang untuk bi carakan hal-hal yang prospektif lebih urgen dan bermakna ketimbang seorang teman. Pepatah ini tidak dalam kapasitas menyepelekan fungsi seorang teman, tetapi lebih dalam arti pendekatan ‘skala prioritas’. Mari kita memberi fokus perhatian pada Janji, dan tidak menyepelekan makna Janji.

Selamat Berjuang! God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here