DEUS DEDIT, ABSTULIT. TUHAN YANG MEMBERI TUHAN YANG MENGAMBILNYA

0
2183

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Intelektualitas manusia, makin majunya peradaban yang dicapai manusia acap kali membawa manusia pada sikap “lupa diri”. Lupa atau tak sadar kesiapaan dirinya, tak eling pada hakikat kefanaannya, sehingga ia merasa bahwa ia segala-galanya. Ia merasa bisa melakukan segala sesuatu, jabatan, harta benda dan segala apa yang lekat dengan kediriannya dianggapnya itu miliknya abadi.

Dalam doa-doa yang ia panjatkan kepada Tuhan memang masih mengucapkan kata-kata dan kalimat klise, kata-kata standar dalam doa, namun dalam kenyataan konkret narasi doa itu tidak memiliki kekuatan apapun; sebab dalam realitas praktis semuanya adalah milik dia, bukan milik Tuhan atau sesuatu yang Tuhan titipkan kepada dia. Ambivalensi seperti ini yaitu keberbedaan narasi dalam doa dan implentasi pada kehidupan praktis adalah khas dan typical manusia yang selalu terjadi dalam kedirian seorang beragama dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman.

Realitas ini secara kasat mata hampir setiap saat kita saksikan dalam kehidupan manusia siapapun dia. Misalnya seseorang yang berhenti dari jabatannya karena memang periodenya sudah selesai; terkadang ada yang tidak ikhlas dan ia ingin tetap menduduki jabatan itu. Ia nyaman dan menguntungkan menduduki jabatan itu srhingga ia ingin bertahan karena hanya dia yang tepat menduduki posisi itu. Padahal kita memahami benar bahwa dalam perspektif agama-agama, sesuatu jabatan itu adalah ruang dan kesempatan yang Tuhan berikan bagi seseorang itu agar ia dapat mendedikasikan dirinya dengan baik. Dan itu berarti bahwa jabatan itu tidak abadi, ada periode, adakurun waktu tertentu.

Dalam hal seseorang kehilangan orang yang ia kasihi, anak, istri atau orangtua, kita kadang berhadapan dengan seseorang yang sama sekali tidak siap menerima kenyataan itu. Akibatnya ia bukan saja amat bersedih tetapi juga “memprotes” Tuhan mengapa kondisi seperti itu mesti ia hadapi. Contoh-contoh itu ingin menjelaskan kepada kita bahwa acapkali manusia tidak lagi memahami bahwa apa yang ada padanya sebenarnya bukan milik mutlak dirinya. Itu semua titipan dari Yang Diatas agar kita dapat mendayagunakannya secara optimal.

Pepatah yang dikutip di awal tulisan ini menegaskan ulang bahwa apa yang ada pada kita ini adalah pemberian Tuhan, termasuk nafas hidup yang ada pada kita, yang menghidupi kita. Tuhan memiliki kebebasan penuh kapan Ia mengambil apa yang ada pada kita. Tugas kita adalah menggunakan semua yang Ia beri itu secara optimal!

Selamat Berjuang! God bless!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here