LITTERA SCRIPTA MANET. YANG SUDAH TERTULIS AKAN TETAP TERTULIS

0
468

Oleh: Pdt.Weinata Sairin

Tulisan memiliki makna dokumentatif yang amat kuat. Tulisan tentang biografi, tentang sejarah seseorang atau juga sejarah sebuah lembaga tidak terlalu mudah untuk disusun. Kesalahan data atau ketidaktepatan menuliskan kisah kehidupan bisa menimbulkan persoalan besar dikemudian hari. Penulisan tentang ketepatan nama dan ketepatan tanggal lahir pada dokumen riwayat hidup amat penting. Pernah ada kasus seseorang sulit mengurus surat pensiunnya karena nama yang tertulis pada akta kelahiran berbeda dengan yang ada dalam KTP.

Memang dibutuhkan kehati-hatian yang ekstra dan kecermatan yang amat sangat dalam menyelenggarakan dokumen tertulis. Apapun bentuk dokumen itu : notulen/risalah rapat, surat, berbagai teks peraturan pada level apapun peru dibaca ulang dengan tingkat kecermatan yang tinggi. Kesalahan bisa terjadi pada pengetikan, bisa terjadi pada penggunaan kata/istilah yang salah dan atau yang bisa menimbulkan multi tafsir.

Dalam teks peraturan perundang-udangan akan lebih rumit dan sulit jika didalamnya trdapat kesalahan tik baik pada batang tubuh maupun pada Penjelasannya. Sebagai contoh, misalnya dalam Penjelasan PP 55 tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan disebutkan bahwa RUU tsb merupakan kesepakatan bersama pihak-pihak yang mewakili 6 lembaga keagamaan di Indonesia. Istilah RUU disitu agak janggal karena Penjelasan itu berbicara tentang UU dan bukan tentang RUU. Selain itu dari berbagai penelusuran ada beberapa lembaga keagamaan yang ternyata tidak terlibat dalam pembahasanawal RUU tersebut.

Kasus ini lebih rumit oleh karena kesalahan terjadi pada konten dan bukan pada aspek teknis. Mekanisme perbaikan/revisi adalah dengan membuat Ralat atau tulisan baru yang telah mengalami perbaikan. Masalahnya adalah biasanya publik jarang membaca ralat sebuah tulisan apalagi jika ralat itu terlalu lama baru hadir di ruang publik.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

Sebagai umat beragama kita amat berharap agar tulisan tentang agama-agama benar benar ditulis cermat, seksama tidak menimbulkan multi tafsir. Pepatah yang dikutip dibagian awal mengingatkan kita bahwa yang sudah tertulis tetap tertulis. Oleh karena itu kita mesti amat berhati-hati, menulis teks pidato, menulis teks kampanye, menulis teks tausyiah, kultum, kotbah dan sebagainya.

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here