LALU KATA MALAIKAT ITU KEPADA MEREKA : ‘JANGAN TAKUT, SEBAB SESUNGGUHNYA AKU MEMBERITAKAN KEPADAMU KESUKAAAN BESAR UNTUK SELURUH BANGSA’ (Lukas 2:10)

0
1226

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

LALU KATA MALAIKAT ITU KEPADA MEREKA : ‘JANGAN TAKUT, SEBAB SESUNGGUHNYA AKU MEMBERITAKAN KEPADAMU KESUKAAAN BESAR UNTUK SELURUH BANGSA’ (Lukas 2:10)

NATAL ADALAH

Oleh : Weinata Sairin

Natal adalah hari lahir Yesus
Natal adalah bayang-bayang sengsara Yesus
Natal adalah simfoni perdamaian
Natal adalah kidung sukacita
Natal adalah tembang lagu cinta
Natal adalah lagu pembebasan
Natal adalah nyanyian penebusan
Natal adalah wujud nyata kasih Allah

Natal adalah wujud nyata ketidakmampuan manusia
Natal adalah kata yang mendaging
Natal adalah kelahiran baru
Natal adalah rekonsiliasi langit dengan bumi
Natal adalah pemulihan komunikasi
Natal adalah tekad kuat untuk bertobat
Natal adalah ketika Allah datang menyapa manusia:
mari mendekatlah, bangkitlah dari kesia-siaan kita ukir sejarah baru !

Bandung, Adven IV, 1983
(Dari : “Disebuah Perjalanan” – serangkai puisi, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003)

Hidup umat manusia dalam beberapa waktu terakhir ini diwarnai oleh ketakutan. Dan ini terjadi hampir diseluruh bagian dunia dalam berbagai bentuk dan varian. Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman; takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup yang dasariah yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus tertentu seperti rasa sakit atau ancaman dan bahaya. Selain kesedihan dan kebahagiaan takut adalah emosi dasar manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini ketakutan makin meningkat dan hal itu berkaitan dengan aktivitas keagamaan kristiani yang acap dicap “agama minoritas”. Label “kelompok mioiritas” yang diberikan kepada umat Kristiani secara nasional, memposisikan umat Kristiani sebagai warna negara kelas dua yang acapkali kehilangan hak konstitusionalnya.

Pelabelan bahkan stigma yang inkonstitusional itu lebih diperparah lagi dengan pengenaan predikat “kafir” kepada umat Kristiani ditinjau dari perspektif suatu agama dan yang diungkapkan oleh sebuah lembaga keagamaan. Walaupun pengenaan predikat “kafir” dikalangan internal agama tsb belum bulat, namun mengangkat isu itu ke ruang publik telah menimbulkan polarisasi yang tidak sehat dalam masyarakat, dan telah mencederai keutuhsatuan kita sebagai bangsa dalam wadah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945.

Ketakutan bernuansa agama seperti itulah yang melanda sebagian umat Kristiani diberbagai wilayah yang sama sekali tidak menolong dalam menyambut perayaan Natal 2016. Kasus-kasus pembubaran ibadah Natal, pencabutan izin gedung tempat pelaksanaan perayaan Natal, pelarangan menyanyikan lagu Natal disebuah mal, pelarangan penggunaan “atribut Natal”, sweeping tehadap penggunaan atribut natal oleh ormas mempertontonkan kenaifan kita dalam beragama dan dalam menghidupi kebhinekaan di negeri ini yang selama puluhan tahun dirawat dan dijaga.

Realitas keberagamaan yang tidak kondusif, naif dan distortif seperti ini sungguh mencemaskan dan menakutkan terutama sekali jika difahami sebagai bagian dari upaya untuk mengganti Pancasila dengan dasar lain yang berbasis agama.

Kata-kata malaikat “Jangan Takut” seperti yang direkam Injil Lukas adalah sebuah breakthrough dan penjungkirbalikan dari kondisi kekinian yang mencengkeram kedirian kita. Yesus yang lahir ditengah sejarah bukan saja menghapus segala ketakutan kita, tapi menjadi power dan spirit baru bagi kita untuk melawan segala bentuk ketidakadilan,diskriminasi, arogansi kekuasaan, intervensi terhadap agama, nafsu berkorupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pendangkalan/penggerogotan Pancasila yang masih hadir dalam perjalanan kita membangsa dan menegara. Natal adalah harapan-harapan baru berpijar binar. Natal adalah tatkala ketakutan pupus dan sirna diganti oleh sukacita yang meluap, membahana dalam ruang waktu.

Selamat Natal. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here