.”ALL HUMAN ACTIONS HAVE ONE OR MORE OF THESE SEVEN CAUSES : CHANCE, NATURE, COMPULSIONS, HABIT, REASON, PASSION, DESIRE” (Aristotle)

0
379

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Aktivitas dan tindakan sosok manusia tak pernah terjadi otomatis dan robotic, tanpa ada dasar dan latarbelakang. Manusia bukan benda mati, atau sejenis robot yang aktivitasnya terjadi karena dikendalikan oleh teknologi. Manusia memiliki panca indera, akal budi dan pikiran yang selalu berperan dalam melatarbelakangi berbagai aktivitas dan tindakannya. Manusia karena sosoknya yang istimewa memang memiliki nilai yang amat tinggi, dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain.

Seorang filsuf misalnya menyatakan bahwa manusia itu adalah “makhluk berakal budi dan berbahasa”. Pernyataan itu memiliki makna yang amat dalam. Dengan berakal budi maka manusia mampu menggunakan bahasa dengan baik. Ekspresi kedirian manusia diungkapkan dengan bahasa. Disitulah beda signifikan manusia denga binatang. Binatang menghidupi dirinya dengan naluri instingtif, tanpa pikiran, akal budi dan nir bahasa.

Kemanusiaan manusia dicerminkan dan ditandai dengan pemberdayaan akal budi yang ia miliki. Akal budi itu yang memandu manusia dalam brfikir, menetapkan pilihan untuk bertindak, dan tentunya bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yang telah diambil. Dalam diri manusia yang berakal budi itulah elemen tanggungjawab menjadi bagian integral dari kedirian manusia. Dalam konteks itulah mengapa seorang teolog pernah menegaskan bahwa ‘manusia adalah makhluk yang ditanggungi jawab’. Manusia harus memberi jawab, manusia harus mengungkapkan bahasa, ia tak bisa membisu dan berdiam diri. Ia tak bisa melarikan diri dari tindakan yang pernah ia lakukan. Ia mesti bertangunggjawab.

Agama-agama telah memberi uraian yang amat jelas tentang siapakah manusia itu. Manusia adalah tokoh sentral dalam penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan. Itulah sebabnya ia diberi mandat oleh Tuhan untuk mengelola alam dengan penuh tanggung jawab. Manusia dengan berbagai kelemahan (dan juga arogansinya) telah berusaha untuk menjalankan mandat itu di sepanjang zaman.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

Sebagai orang yang berpegang pada ajaran agama maka secara logis dan standar maka seluruh tindakan kita dimotivasi oleh ajaran agama yang kita anut. Bahwa ada nilai edukasi budaya, local wisdom, intelektuakitas dan sebagainya yang juga ikut memberi peran dalam tindakan kita, itu sah-sah saja sejauh tidak kontradiksi dengan ajaran agama.

Aristoteles dalam perspektif berfikirnya mendaftarkan tujuh butir isu yang bisa menjadi alasan bagi manusia untuk bertindak dan melakukan aktivitas. Kita bisa setuju atau tidak setuju dengan pikiran itu, tapi bagaimanapun ketujuh butir yang dikemukakan Aris Toteles itu penting untuk menjadi bagian dari diskursus kita.

Mari terus bertindak sesuai dengan nilai luhur yang kita miliki, berkaryalah tanpa jemu bagi banyak orang sebelum dijemput maut.

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here