Komarudin Hidayat : Neo Dinasti Jadi Evaluasi Penting Demokrasi

0
565

Komarudin Hidayat : Neo Dinasti Jadi Evaluasi Penting Demokrasi

Jakarta, Suarakristen.com

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Komarudin Hidayat sebutkan pada tahun 2024 adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi dan tata ulang demokrasi reformasi Indonesia. Evaluasi yang penting jadi perhatian adalah neodinasti. Isu ini diangkat oleh Prof. Komarudin dalam Jakarta Geopolitical Forum V (21/10).

Untuk bicara neo dinasti perlu ditinjau kembali bagaimana kondisi para pejabat dan tokoh public masa pra-kemerdekaan. “Ternyata reformasi ini telah melahirkan neodinasti dan sumber korupsi karena biaya politik yang mahal,” kata Prof. Komaruddin.

“Mengapa sejak dari pusat sampai daerah muncul neo dinasti dari suaminya menjadi bupati, ganti istrinya, ganti anaknya,” lanjut mantan rector UII tersebut. Akibat neo dinasti dan ongkos politik terlalu mahal, bahkan pelaku korupsi adalah kerabat para tokoh public itu sendiri. “Bahkan kemudian yang korupsi ayahnya, anaknya, Karena ongkos politik terlalu mahal,” tutur Komarudin.

Permasalahan neo dinasti bila tidak diselesaikan akan berdampak pada konstitusi dan partai politik, bahkan hingga ke penggunaan dukungan massa untuk kepentingan politik.

“Modal massa ini salah satu instrumennya adalah simbol-simbol emosi agama,” kata Komaruddin. Penggunaan simbol agama ini berdampak pada pendangkalan dan pembusukan pada proses demokratisasi di indonesia.

Tantangan selanjutnya bagi demokrasi di masa depan adalah belum adanya sosok membanggakan bagi karakter milenial saat ini. Milenial saat ini tak lagi terikat kuat pada tradisinya contohnya bahasa. “Generasi saat ini tidak bisa bahasa daerah, tapi mereka juga sayangnya belum menemukan bangunan rumah Indonesia secara kokoh dan membanggakan,” kata Komarudin.

Bagi Komarudin pemuda saat ini sulit mencari tokoh yang menginspirasi. “Kita sulit mencari tokoh-tokoh yang menginspirasi dan kalau kita bicara Indonesia. Sekali-kali kita perlu membaca Indonesia dari pinggiran, dari papua, dari perbatasan, maka wajah Indonesia akan lahir,” lanjut Komaruddin.

Baca juga  Jimmy Bernando Panjaitan (Direktur Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT): BPODT Dukung Film "Harta,Tahta, Wanita Boru ni Raja" untuk Perkembangan Wisata  Danau Toba dan Adat Batak

Menjadi bangsa Indonesia adalah hasil imajinasi ulang. “Jadi yang namanya Indonesia itu satu imajinasi tidak ada peristiwa physical to be Indonesia sebagaiana orang datang ke Amerika,” kata Prof. Komaruddin. Selain itu millennial saat ini adalah hasil perkawinan silang yang melahirkan generasi baru.

Prof. Komarudin Hidayat menjadi narasumber dalam Jakarta Geopolitical Forum V yang mengangkat tema Culture and Civilization: Humanity at the Crossroads. JGF adalah forum yang diinisiasi oleh Lemhannas RI merupakan session sharing bagi para pakar geopolitik dunia dalam menelaahn situasi kawasan di dunia. JGF 2021 mengundang narasumber budaya dan geopolitik terkemuka dunia untuk membahas budaya dan peradaban manusia. Harapannya forum strategis dapat dimanfaatkan bagi pembicara (speaker) maupun peserta untuk mendiskusikan isu geopolitik di tingkat dunia.

“**

(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here