Gerakan “Pulih Kembali”: Ramai Masyarakat Donasikan ‘Uang Rokok’ untuk yang Terdampak Pandemi

0
248

Gerakan “Pulih Kembali”: Ramai Masyarakat Donasikan ‘Uang Rokok’ untuk yang Terdampak Pandemi

Jakarta, Suarakristen.com

 

Gerakan Pulih Kembali di tahun 2021 mengajak masyarakat untuk mengalokasikan ‘uang rokok’ yang biasanya dikeluarkan oleh keluarga untuk disumbangkan ke kelompok-kelompok terdampak pandemi secara ekonomi atau kesehatan melalui situs https://saweria.co/pulihkembali2021. Donasi juga dapat diikuti oleh mereka yang tidak merokok. Gerakan ini diinisiasi oleh para pemuda yang mewakili tiga organisasi peduli pengendalian tembakau, yakni Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), dan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT). Berbagai konten kreatif dan penjelasan mengenai gerakan “pulih kembali” juga tersedia pada https://www.pulihkembali.org/.

Setahun lebih pandemi COVID-19 melanda dunia, saat situasi di Indonesia justru mengalami perburukan. Di bulan Juli 2021, masyarakat di Jawa mengalami krisis tabung oksigen untuk membantu pengobatan pasien COVID-19 yang parah. Selain itu, Indonesia juga masih berkutat dengan berbagai permasalahan kesehatan lainnya. Jumlah perokok dewasa di Indonesia masih sangat tinggi (62,9%), sementara perokok anak usia 10-18 tahun juga terus meningkat dari 7,2% di 2013 menjadi 9,1% di 2018 (Riskesdas, 2018). Para pakar kesehatan pun mengingatkan bahwa kebiasaan merokok berisiko meningkatkan keparahan kesakitan karena COVID-19, belum lagi kebiasaan merokok yang dianggap normal di Indonesia menyebabkan penyakit-penyakit ‘katastropik’ yang menjadi komorbid COVID-19. Dapat dikatakan, tingginya konsumsi tembakau di Indonesia berkontribusi dalam memperparah situasi COVID-19 di Indonesia saat ini.

 

Upaya menekan konsumsi rokok saat ini dapat menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko kesakitan dan fatalitas penyakit COVID-19 yang virusnya mungkin masih terus bermutasi dengan berbagai varian di masa depan. Selain itu, mengurangi konsumsi rokok juga akan berdampak positif pada pengeluaran rumah tangga, yang dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, termasuk membantu mereka yang sedang berjuang di tengah keterpurukan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Untuk itu, CISDI, PKJS-UI, dan Komnas PT menginisiasikan sebuah gerakan yang bertajuk “Pulih Kembali: Sisihkan Uang yang Kamu Bakar untuk Mereka yang Sedang Berjuang.”

Baca juga  DEKLARASI LASKAR AMAN: HADIRNYA BAPAK TENUN KEBANGSAAN MENJADI AKHIR POLEMIK POLITIK IDENTITAS

 

Perwakilan dari Komnas PT, Manik Marganamahendra pun turut khawatir dengan konsumsi rokok masyarakat saat ini. Tingginya risiko terkena COVID-19 akibat merokok dan dampaknya terhadap ekonomi rumah tangga tidak membuat para perokok mengurangi konsumsinya. “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa sebanyak 49,8 persen responden yang merokok mengaku memiliki pengeluaran tetap untuk membeli rokok selama pandemi COVID-19. Selanjutnya 13,1 persen responden perokok bahkan mengaku pengeluaran untuk membeli rokok meningkat. Mayoritas dari mereka, yaitu 77,14 persen, merupakan responden dengan penghasilan kurang dari Rp5 juta. Sebanyak 9,8 persen berpenghasilan di bawah Rp2 juta dan 17,8 persen berpenghasilan Rp2 juta hingga Rp5 juta,” jelas Manik.

Harga rokok yang murah dan terjangkau menjadi salah satu faktor tingginya konsumsi rokok di Indonesia. Ditambah rokok masih dapat dibeli secara batangan/ketengan. Dr. Renny Nurhasana, salah satu peneliti dari PKJS-UI menyatakan bahwa gerakan “Pulih Kembali” ini mengajak mereka untuk mengalokasikan uang rokok untuk hal yang lebih bermanfaat. “Kalau saat ini mereka bisa mengalokasikan uang rokok untuk hal yang lebih baik, apalagi nanti ketika harga rokok tidak terjangkau. Untuk itu, kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) yang dibarengi penyederhanaan struktur tarif CHT adalah salah satu alat pengendali yang efektif untuk mengurangi konsumsi rokok. Selain itu, masyarakat dapat menggunakan uangnya untuk hal yang lebih berguna”, tambah Dr. Renny.

Tiga influencer muda juga turut mendukung gerakan “Pulih Kembali” dan menyampaikan keresahannya mengenai harga rokok yang masih mudah dijangkau, di antaranya Rinaldi Nur Ibrahim, Felicia Putri Tjiasaka, dan Andhika Sudarman. Rinaldi yang juga CEO Youth Ranger Indonesia menyampaikan bahwa salah satu penyebab masyarakat bisa merokok adalah harga yang murah. Rinaldi menyetujui bahwa jika cukai rokok dinaikkan, maka dapat menurunkan konsumsi rokok. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Felicia Putri (founder Ternak Uang) bahwa jika pengeluaran untuk rokok satu tahun sebesar Rp4.500.000, dan merokok sudah dari usia 17 tahun, kalau dia sampai umur 30 tahun merokok, jika uang rokoknya diinvestasikan, dipastikan sudah bisa beli rumah subsidi. Andhika Sudarman sebagai founder & CEO Sejutacita sepakat bahwa harga rokok di Indonesia sangat murah dibandingkan dengan negara lain. Rokok menjadi sesuatu yang buruk, namun dibungkus dengan keren, ditambah dijual dimana-mana sehingga dapat dengan mudah diakses. Ketiga influencer muda, Rinaldi, Felicia, dan Andhika sangat mendukung harga rokok dinaikkan sehingga mengurangi keterjangkauan masyarakat dalam membeli rokok.

Baca juga  Natal Rukun Sumuluun Dihadiri Pengurus KKK

Gerakan ini pun didukung oleh organisasi-organisasi pemuda yang juga turut berdonasi, di antaranya Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), Aksi Kebaikan, Pemuda Penggerak Solo, TenD for youth, Tata Muda, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, North Sumatera Youth Tobacco Control Movement, 9CM, Smoke Free Agents (SFA), Ikatan Lembaga Mahasiswa Kebidanan Indonesia (IKAMABI), Forum Indonesia Muda Regional Bogor (FIM Bogor), dan Forum Anak Banjarmasin. Sebagai perwakilan anak muda, mereka mengajak untuk saat ini baik perokok dan non-perokok harus satu suara dan saling mengalokasikan uangnya. Selain itu, organisasi pemuda juga mendorong agar pemerintah dapat membuat kebijakan pengendalian konsumsi rokok yang lebih kuat. Donasi ini juga diikuti oleh Ibu PKK di RW 6, Kelurahan Sewu, Jebres, dan TP PKK Kecamatan Jebres, Solo. Para ibu ini menyampaikan bahwa jika suami berhenti merokok, uang rokoknya dapat menjadi uang tambahan dapur mereka, bahkan bisa mengalokasikan pada donasi ini untuk mereka yang terdampak akibat COVID-19.
***

Tentang Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI):

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong kebijakan kesehatan berbasis bukti untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, sehat, dan sejahtera dengan menerapkan paradigma sehat. CISDI melaksanakan riset dan manajemen program serta advokasi kebijakan untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata. Info: https://cisdi.org/id/

Tentang Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT):

Merupakan organisasi koalisi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang penanggulangan masalah konsumsi produk tembakau, didirikan pada 27 Juli 1998 di Jakarta, beranggotakan 23 organisasi dan perorangan, terdiri dari organisasi profesi kesehatan, organisasi masyarakat, dan kelompok peduli akan bahaya produk tembakau bagi kehidupan, khususnya bagi generasi muda dan keluarga miskin. Info: https://komnaspt.or.id/

Baca juga  PERAYAAN NATAL WANITA GEREJA GERAKAN PIMPINAN ROHUL KUDUS, PAPANGGO, SUNTER JAKARTA UTARA 1 DESEMBER 2002

Tentang Pusat Kajian Jaminan Sosial, Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (PKJS-UI):

Institusi yang bergerak pada pelatihan, konsultasi, dan penelitian seputar Jaminan Sosial secara luas termasuk menangani isu ekonomi dan kesehatan, untuk berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. Info: https://pkjsui.org/

***

(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here