Bentuk GT-PKP Segera atau Petaka itu Benar Nyata Datang Melanda

0
218

Bentuk GT-PKP Segera atau Petaka itu Benar Nyata Datang Melanda

 

Oleh : Aznil Tan

 

Banyak faktor sangat mendasar sehingga menjadi urgensi negara untuk segera bentuk *Gugus Tugas Penanganan Krisis Pangan GT-PKP.* Tidak ada alasan buat negara untuk menunda apalagi mengabaikannya.

Isu ancaman krisis pangan itu bukanlah hoax atau paranoid. Jika tidak sedia payung dari sekarang, petaka kelaparan tak pelak lagi akan melanda Indonesia.

Berdasarkan jurnal yang dirilis oleh INFUDS (Indonesia Future Development Study) yang membedah ketersediaan stok dan keberlangsungan produksi pangan nasional, bahwa ditemukan potensi krisis pangan Indonesia sudah di depan mata. Stok pangan Indonesia akan kosong paska Agustus 2020 dan potensi penurunan hasil produksi pangan bisa 50% selama wabah virus Corona berjangkit.

Tak kalah lebih penting dari itu adalah peringatan FAO (Badan Pangan dan PertanianPBB) yang diunggah dalam situs resminya tanggal 30 Maret 2020 mewanti-wanti potensi krisis pangan akan melanda dunia. Gangguan pangan diprediksi akan muncul pada April dan Mei 2020. Permasalahan pandemi Covid-19 bukan saja menimpa kesehatan masyarakat tetapi juga ancaman bagi ketahanan pangan global.

Presiden Jokowi pun mengakui potensi krisis pangan akan melanda Indonesia. Pada rapat terbatas melalui video conference dari Istana Merdeka pada 13 April 2020, Presiden Jokowi mengintruksikan jajarannya untuk menjaga ketersediaan bahan pokok. Jokowi tidak ingin terjadi kelangkaan sehingga membuat harga pangan melonjak.

Ditinjau fakta di lapangan, memang krisis pangan belum terasa signifikan menyentuh masyarakat. Dampak yang baru terasa langsung oleh masyarakat sejak awal tahun 2020 sampai tulisan ini dibuat adalah dari segi ekonomi.

Ekonomi masyarakat terpukul dahsyat dan lumpuh. Masyarakat banyak menjerit tidak punya uang lagi untuk bisa beli bahan kebutuhan pokok.

Baca juga  Optimisme Penemuan Vaksin

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semakin memperparah perekonomian masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan. Beberapa bahan pangan mulai merangkak naik sehingga semakin membuat masyarakat tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sementara kelangkaan pangan diprediksi akan terjadi pada Agustus 2020 berpatok pada laporan Kementerian Pertanian tentang stok 11 komoditas bahan pokok.

Pertanyaan berikutnya, apakah pasca Agustus 2020 dan seterusnya produksi keberlangsungan pangan tetap aman dan stabil ditengah wabah yang melanda sekarang?

Faktanya dengan diberlakukan PSBB atau lockdown menimbulkan berkurangnya produksi pangan. Sektor pertanian pun terhambat dari hulu sampai ke hilir Industri pengolahan makan juga terkendala dalam memproses produk pertanian.

Sedangkan berharap pasokan dari impor adalah sebuah kemustahilan dimana negara produsen tersebut juga dalam kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya sendiri. Impor tidak bisa lagi berlangsung normal, karena semua negara mengunci diri. Pelabuhan-pelabuhan dunia memblokir keluar-masuk logistik sehingga mengganggu rantai pasokan pangan.

Kondisi itulah menjadi perhatian besar Presiden Jokowi atas peringatan FAO tersebut. Presiden Jokowi meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan para kepala daerah untuk menjaga ketersediaan bahan pokok. Jokowi berharap tak terjadi kelangkaan yang membuat harga pangan melonjak.

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu yang berbicara atas nama tiga badan pangan PBB (FAO, WFP dan IFAD) menyebutkan negara anggota G20 -termasuk Indonesia di dalamnya – untuk memperkuat produksi pangan lokal dan mempersingkat rantai distribusi.

Sedangkan dari laporan dari Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperingatkan bahwa virus corona Covid-19 akan berada di tengah manusia dalam jangka waktu lama. Ini lantaran beberapa negara baru mencapai fase awal penyebaran penyakit ini.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers hari Rabu (22/4) mengatakan beberapa wilayah di dunia seperti Afrika dan Amerika Latin baru menunjukkan tahap awal penyebaran virus. .

Baca juga  Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S.: Refleksi Ke-75 Kemerdekaan RI Sebagai Upaya Memberdayakan Hukum Adat Suku Mendukung Harapan Indonesia Maju Tahun 2045

“Jalan masih panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama,” kata Tedros dilansir dari Reuters, Kamis (23/4). Dia tak menyebut pasti, kapan pandemi ini akan berakhir.

*Merubah Mindset dari Solusi Normatif*

Jika negara sudah sepakat bahwa ancaman Krisis Pangan itu nyata akan terjadi. Bahwa negara tidak mau berspekulasi apalagi lengah atas ancaman potensi krisis pangan tersebut.

Untuk mengantisipasinya dan menghadapi saat krisis pangan berlangsung selama wabah berjangkit maka perlu dilakukan langkah luar biasa (extra ordinary). Negara harus all out bergerak untuk menyelamatkan pangan nasional agar tidak krisis dan lalu terdistribusi dengan baik.

Disaat wabah berjangkit, produksi pangan pun berubah cara penanganannya. Ketika pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau _social distancing_ akan mempengaruhi semua mata rantai produksi. Bahwa rantai pasokan makanan itu melibatkan interaksi yang kompleks, seperti di sektor pertanian melibatkan petani, benih, pupuk, anti-hama, pabrik pengolahan, pengiriman, pengecer dan lainnya. Begitu juga jaringan yang kompleks terdapat di sektor peternakan dan perikanan.

Maka untuk itu, negara tidak bisa lagi hadir dengan menghandalkan mekanisme yang ada sekarang. Tidak bisa lagi dengan pendekatan normatif. Mindsetnya harus dirubah.

Masa pandemi Corona adalah masa kondisi darurat. Solusinya bukan lagi dengan cara pendekatan normatif. Cara penanganannya harus dilakukan secara khusus dan menggunakan alat khusus juga. Cara bertindaknya pun cara luar biasa _(extra ordinary)_.

Pemerintah tidak boleh berlama-lama untuk segera bentuk Gugus Tugas Penangan Krisis Pangan (GT-PKP). Seperti negara membentuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), meskipun sudah ada Kepolisian dan Kejaksaan. Seperti membentuk Gugus Tugas Penangan Covid-19, meskipun ada Kementerian Kesehatan.

Kehadiran Gugus Tugas ini dapat bergerak cepat lintas sektoral untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman petaka kelaparan. Gugus Tugas yang memiliki wewenang besar untuk mengatasi permasalahan-permasalahan terjadi di lapangan selama masa darurat bencana wabah Corona berlaku.

Baca juga  SOGO Bersama Beautyparty.id Hadirkan Inspirasi Makeup dan Skincare untuk Hadapi New Normal

Mengenai konsep dan desain GT-PKP ini sudah kami siapkan.

Semoga bangsa kita selamat dan segera keluar dari wabah Corona ini.

(Penulis : Direktur Eksekutif INFUDS/Indonesian Future Development Study dan Koordinator Nasional Poros Benhil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here