DBS Group Research: ‘Indonesia: Melihat di luar Defisit”

0
175

 

Oleh Dr Masyita Crystallin, Kepala Ekonom DBS Indonesia.

Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar USD161 juta; kegiatan ekspor dan impor terus berkontraksi.

Perkiraan neraca perdagangan berfluktuasi antara surplus dan defisit, dalam kisaran ±USD500 juta, dalam beberapa bulan mendatang

Impor terkesampingkan selama tahun pemilihan umum, namun dapat tumbuh setelah pemerintah yang baru dilantik bulan ini

Impor barang modal dan bahan baku yang lemah, sementara itu, menandakan pertumbuhan investasi yang lebih lambat pada 2H19

Dampak terhadap perkiraan: Dengan pertumbuhan PDB yang kemungkinan berkurang di bawah 5% YoY pada 3Q19, terdapat kemungkinan penurunan suku bunga 25bps pada 4Q19 dan dapat segera terjadi dalam bulan ini.

Dampak terhadap investor: Kami tetap positif pada obligasi dan ekuitas dari kebijakan ekonomi makro yang bijaksana, yang memberikan penurunan suku bunga tanpa volatilitas rupiah

Memandang defisit perdagangan lebih jauh

Sejalan dengan ekspektasi kami, ekspor dan impor berkontraksi sebesar 5,7% YoY dan 2,4% pada September serta berdampak pada defisit perdagangan sebesar USD161 juta. Memandang angka-angka yang lemah belakangan ini, pertumbuhan ekspor dan impor bisa jadi telah mencapai titik terendah (lihat grafik di bawah).

Khususnya, defisit perdagangan kumulatif USD1,9 miliar dalam 9 bulan pertama adalah setengah dari kekurangan USD3,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Ini mudah dikaitkan dengan fakta bahwa impor (-9,1%) turun lebih cepat dari ekspor (-8,0%) selama periode yang sama. Neraca perdagangan cenderung berfluktuasi antara surplus dan defisit (dalam kisaran ±USD500juta) dalam beberapa bulan mendatang. Ekspor dan impor diperkirakan masih lemah. Ekspor akan terus terbebani oleh perlambatan global.

Impor akan terjaga relatif rendah pada 1Q20 karena investor menunggu pemerintah baru (yang akan dilantik akhir bulan ini) serta inisiatif mereka.

Baca juga  KPAI : BAHAYA KONTEN PORNOGRAFI DI SOAL SEKOLAH DARING

Volume ekspor sesungguhnya meningkat

Mengupas efek harga dari perlambatan global, ekspor meningkat dari sisi volume, yaitu 7,5% YoY di Januari-September dibanding 13,4% pada periode yang sama di tahun lalu. Sebaliknya, volume impor berkontraksi meskipun lebih kecil 4,1% dibanding 8,1% untuk periode yang sama.

Diarahkan oleh perlambatan aktivitas investasi secara keseluruhan, kontraksi impor kemungkinan akan berlanjut. Pertumbuhan investasi telah menurun menjadi 5,0% di 1H19 dari 6,9% di 1H18 selama tahun pemilihan umum ini. Investasi pemerintah telah melambat karena lebih banyak proyek yang diselesaikan daripada proyek baru yang dimulai. Investasi swasta sudah tidak terlalu aktif namun harus segera dimulai setelah Presiden dan Wakil Presiden dilantik pada akhir bulan ini. Perlambatan pada impor bersifat umum; ketiga kategori — barang konsumsi, bahan mentah dan barang modal – berkontraksi (grafik dibawah).

Impor barang-barang konsumsi melemah oleh depresiasi rupiah pada 2017-2018, kebutuhan biodiesel pemerintah 20% (B20) (efektif 1 September 2018), dan tarif tambahan untuk lebih dari 1000 barang konsumsi (efektif 12 September 2018). Apresiasi terhadap rupiah (secara nominal dan dalam hal nilai tukar) (lihat grafik di bawah) pada tahun lalu telah membantu impor barang-barang konsumsi pulih menjadi 6,8% YoY pada September dari 2,0% pada Agustus.

Meskipun ada peningkatan pada impor barang konsumsi dan modal, pertumbuhan pada bahan mentah dan barang modal tetap negatif di -8,8% YoY dan 4,3% dalam 9 bulan pertama.

Lemahnya impor modal dan bahan baku secara umum, menyiratkan lebih banyak perlambatan pertumbuhan investasi dalam 1-2 kuartal berikutnya. Impor yang lebih rendah akan merugikan ekspor karena tingginya konten ekspor terhadap impor. Karenanya, segala tindakan pembatasan impor yang melibatkan bahan mentah dan barang perantara untuk mempersempit defisit perdagangan akan menjadi kontraproduktif.

Baca juga  SOGO Bersama Beautyparty.id Hadirkan Inspirasi Makeup dan Skincare untuk Hadapi New Normal

Dengan fokus Bank Indonesia diseimbangkan antara mendukung pertumbuhan dan menjaga stabilitas rupiah, kami memperkirakan akan ada pemotongan suku bunga 25bps pada 4Q19, yang kemungkinan dapat segera terjadi dalam bulan ini.

Dr Masyita Crystallin
Kepala Ekonom DBS Indonesia

masyita@dbs.com

***

Tentang DBS

DBS adalah grup jasa keuangan terkemuka di Asia, dengan kehadiran di 18 pasar. Berkantor pusat dan terdaftar di Singapura, DBS memiliki pertumbuhan dalam tiga sumbu pertumbuhan utama Asia: Cina, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Peringkat kredit “AA-” dan “Aa1” bank termasuk yang tertinggi di dunia.

Dikenal dengan kepemimpinan globalnya, DBS telah dinobatkan sebagai “Best Bank in The World” oleh Euromoney, “Global Bank of the Year” oleh The Banker dan “Best Bank in the World” oleh Global Finance. Bank ini berada di garis terdepan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk membentuk masa depan perbankan, diberi nama “World’s Best Digital Bank” oleh Euromoney. Selain itu, DBS telah diberikan penghargaan “Safest Bank in Asia” oleh Global Finance selama sebelas tahun berturut-turut dari tahun 2009 hingga 2019.

DBS menyediakan berbagai layanan lengkap untuk nasabah, SME dan juga perbankan perusahaan. Sebagai bank yang lahir dan dibesarkan di Asia, DBS memahami seluk-beluk berbisnis di pasar paling dinamis di kawasan ini. DBS berkomitmen untuk membangun hubungan yang langgeng dengan nasabah, dan berdampak positif terhadap masyarakat melalui dukungan perusahaan sosial dengan cara bank-bank Asia. DBS juga telah mendirikan yayasan dengan total dana senilai SGD 50 juta untuk memperkuat upaya tanggung jawab sosial perusahaan di Singapura dan di seluruh Asia.

Dengan jaringan operasional yang ekstensif di Asia dan menitikberatkan pada pada keterlibatan dan pemberdayaan stafnya, DBS menyajikan peluang karir yang menarik. Bank ini mengakui gairah, komitmen, dan semangat dari 27.000 karyawan kami, yang mewakili lebih dari 40 kebangsaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com.

Baca juga  Penyandang Diabetes Harus Mencapai Target Gula Darah agar Terhindar dari Risiko Perparahan COVID-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here