Di Bawah Naungan Pancasila

0
30

*EDITORIAL MEDIA INDONESIA*

*Di Bawah Naungan Pancasila*

*PARA pendiri telah berkonsensus bahwa pijakan ideologi yang dipegang teguh bangsa Indonesia ialah Pancasila*. Pancasila menjadi dasar hidup yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia meskipun berbeda latar belakang, adat istiadat, agama, budaya, serta suku.

*Tidak ada alternatif lain sebagai perekat bangsa dengan masyarakat yang beragam ini selain Pancasila*. Pancasila satu-satunya ideologi yang harus diestafetkan dari generasi ke generasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

*Suluh Pancasila inilah yang juga menjadi roh dalam pidato Visi Indonesia yang disampaikan presiden terpilih Joko Widodo*. Dalam kerangka ideologi Pancasila, Jokowi menegaskan setiap anak bangsa harus hidup dalam Bhinneka Tunggal Ika. *Tidak boleh ada lagi orang Indonesia yang tidak toleran terhadap perbedaan.*

*Sikap intoleran ialah pangkal perpecahan*. Penolakan terhadap keberagaman dan perbedaan ibarat bom waktu yang kapan pun siap meledak memorak-porandakan persatuan bangsa. *Oleh karena itu, Jokowi menyerukan kepada kita untuk hidup bersatu, rukun, dan penuh persaudaraan. “Rukun itu indah. Bersatu itu indah. Bersaudara itu indah,” ucap Jokowi.*

*Dalam hal ini, Jokowi hendak menegaskan jangan sampai ada upaya mengganti Pancasila dengan ideologi lain*. Upaya mengganti ideologi Pancasila pasti akan memecah belah bangsa majemuk ini. Mereka yang menolak Pancasila minggir saja dari Indonesia. *Tidak ada toleransi secuil pun bagi mereka yang menolak Pancasila.*

*Di bawah naungan Pancasila, Indonesia milik bersama yang untuk memajukannya membutuhkan tetesan keringat setiap warganya*. Tidak ada golongan yang merasa paling berperan. Tidak perlu ada dikotomi mayoritas dan minoritas. Semua punya peran dan tanggung jawab setara untuk bangsa dan negara. *Majunya sebuah negara tidak lain karena peran seluruh anak bangsa.*

Baca juga  Komnas Perempuan Merespon Konflik Lahan di Batanghari Jambi: Komitmen Wakapolda Jambi dan Pemda Kabupaten Batanghari Harus Dijalankan

*Akan tetapi, kemajuan sebuah bangsa bisa dicapai hanya oleh sumber daya berkulitas*. Oleh karena itu, di periode kedua kepemimpinannya, Jokowi mengedepankan peningkatan kualitas SDM. *Dalam konteks ideologi, penting pula menanamkan Pancasila ke dalam hati dan pikiran setiap manusia Indonesia.*

*Tentu tidak mudah mewujudkan semua itu dalam konteks kekinian yang berubah cepat*. Butuh aktualisasi nilai-nilai Pancasila yang adaptif, produktif, dan inovatif untuk menghadapi berbagai kondisi masyarakat dan perubahan zaman. *Kondisi negara Indonesia sudah sangat jauh berubah dari semenjak Pancasila digali Bung Karno.*

*Perubahan struktur sosial di masyarakat serta perkembangan teknologi yang begitu pesat telah mendatangkan manfaat sekaligus dampak buruk bagi masyarakat*. Di sinilah peran pemangku kebijakan untuk bisa menginterpretasikan Pancasila sesuai dengan zamannya.

*Jangan sampai bangsa ini kembali terpuruk hanya menjadikan Pancasila sebagai teks hafalan murid-murid di sekolah*. Jangan sampai Pancasila menjadi alat indoktrinasi untuk memberangus lawan politik seperti di zaman Orde Baru. *Metode semacam itu tidak hanya akan menghadirkan trauma, tetapi juga membuka celah untuk dirongrong ideologi lain.*

*Pancasila sebenarnya merupakan sebuah ideologi yang hidup, tidak jumud atau beku dan statis*. Pancasila harus menjadi sebuah sistem nilai kebaikan universal yang bisa diterapkan dalam konteks apa pun, baik pada hari ini, besok, maupun masa yang akan datang.

*Jika ingin menjadikan Pancasila sebagai energi positif bangsa, Pancasila harus memberikan harapan untuk masa depan, khususnya dalam merealisasi visi dan misi bangsa Indonesia*. Pancasila dengan basis filosofinya yang mendalam mesti mampu menjawab setiap problematik yang ada.

*Tidak kalah penting juga teladan dari para elite bangsa ini. Penguatan ideologi Pancasila tidak bisa hanya dipanggul Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Indonesia*. Prinsip-prinsip Pancasila akan sulit merasuk dalam sendi kehidupan berbangsa jika para pejabat negara masih diliputi keserakahan yang berpadu dengan oportunisme akut.

Baca juga  SETARA Institute: Perkuat Langkah Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here