Self-Disruption

0
449

Oleh: HMT Oppusunggu.

Buku berjudul SELF DISRUPTION- Mei 2018- tulisan dari Prof. Dr. Rhenald Kasali.

Rhenald Kasali adalah  seorang lulusan PhD dari University of  Illinois at Urbana & Champaign, USA, dan sekarang menjadi guru-besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sedianya mutu ilmiah dari buku tersebut diharapkan akan sangat tinggi. Namun, kita sangat kecewa membaca isi buku tersebut, karena seluruh isinya jauh menyimpang total dari dasar-dasar ilmiah, khusus  dari teori  ekonomi-mikro yang  menjadi keahlian dari Prof. Rhenald. Sama mutu ilmu ekonomi Prof. tersebut dengan yang umumnya dimiliki semua ekonom Indonesia dewasa ini. Mereka semua –ahli ekonomi-mikro atau ekonomi-makro, tidak lain dan tak bukan mereka melulu menonjol sebagai  ekonom TEH-BOTOL (Tehnokrat Bodoh dan Tolol) melulu… seperti  telah berkali-kali kami kemukakan di waktu yang lalu, khususnya diwarnai oleh  Gubernur  Bank Sentral BI, Menteri Bappenas dan Menteri Keuangan  yang bekerja tinggal pukul lalat belaka.

Aneh bin durhaka sekali judul buku Rhenald tersebut diberi nama Self Disruption yang diartikan Rhenald sendiri  -seperti dikemukakannya langsung dalam sampul-muka dari bukunya- sebagai cara ‘Bagaimana perusahaan keluar dari perangkap masa lalu dan mendisrupsi dirinya menjadi perusahaan yang sehat’.

Istilah self disruption pada prinsipnya justru mengandung arti negatif, yakni: ‘mengacaukan atau merusak diri sendiri’. Tapi, kita tidak bisa menemukan dari isi seluruh uraian buku tersebut apa yang diartikan Rhenald dengan  istilah self disruption tersebut. Justru sebaliknya, self disruption dianggapnya mengandung makna yang sangat positif dan berfaedah, karena seperti dikemukakannya dalam sampul-muka dari bukunya, istilah self disruption tersebut dianggapnya dengan konotasi arti yang sangat positif, karena self disruption tadi dianggapnya sebagai suatu cara bagaimana sebuah perusahaan bisa keluar dari perangkap masa lalu dan mendisrupsi dirinya menjadi perusahaan yang sehat.

Namun, apa perangkap-masa-lalu tersebut dan hubungannya dengan mendisrupsi-diri, sama sekali tidak dijelaskan atau diuraikan oleh Rhenald sendiri dalam bukunya, tapi tinggal kabur bahkan keliru malah.

Pada hal. 6, Rhenald menyajikan sebuah kurva-permintaan dari “dunia yang telah mengalami disruption”. Tapi kurva permintaan tersebut aneh dan keliru dilukiskannya, karena kurva tersebut walaupun biasanya selalu merupakan satu garis saja tanpa -seperti dilukiskan Prof. Rhenald- diselingi di dua tempat oleh gelembung-2-garis, seolah-olah pada gelembung tersebut bisa terjadi korelasi antara berbagai perubahan-perubahan tingkat P (Price barangkali) pada skala-vertikal, tapi Q-nya(Quantity barangkali) pada skala-horizontal tetap KONSTAN SAMA saja tidak berubah. Kurva permintaan tadi membuktikan, bahwa Prof. Rhenald tidak memahami sama sekali apa Ilmu Statistik.

Pada hal. 7 s/d 9  kita membaca pula penjelasannya yang aneh dan tidak ada artinya:

‘Ya, semua usaha (maksud Rhenald: perusahaan) dan bidang non-industri (maksud Rhenald dengan non-industri adalah pertanian, peternakan, perdagangan, transportasi, infrastruktur dan sektor-ekonomi lainnya.) akan terdampak. Namun, besar atau kecilnya sangat beragam. Ada yang sangat cepat terdampak dengan effek menghancurkan dan ada yang sangat lembut. Ada yang melenakan, ada yang kuat dan tak bisa diatasi.

Reaksi para pihak juga beragam. Ada yang langsung mengambil inisiatif memimpin revolusi pada industrinya, tetapi tak sedikit yang hanyut dalam orkestrasi yang disampaikan pihak lain  dan menyalahkan keadaan. Mereka menyalahkan daya beli yang lemah (ketimbang membenahi ketidakberdayaan diri sendiri), regulator atau competitor. Padahal, rules of the games bisnis mereka telah berubah.

Begitulah sifat manusia. Sewaktu muda gemar mencari terobosan-terobosan baru. Begitu nyaman , semakin tua semakin ingin mempertahankan legasi yang dibangun saat muda dulu. Perusahaan yang demikian dan dikuasai kaum tua pasti mengalami proses penuaan yang sulit dihindari. Menjadi Lazy Company dan tidak inovatif lagi.

Disrupsi selalu diawali dengan inovasi yang memutus mata rantai pendekatan-pendekatan lama, membuat batas-batas perusahaan memudar, mengurangi beban atau menyederhanakan rantai pasokan (supply chain), dan memaksa pembuat kebijakan ekonomi harus menulis kembali hukum-hukum baru perekonomian. Bahkan, mengubah cara pandang birokrasi dan para penegak hukum’. Etc. Etc. Etc.

Ya, bahkan dikutippun seluruh isi buku sampai akhir… Kesemuanya –seperti dikutip di atas-membuktikan bla, bla, bla melulu, di mana Rhenald sendiri membuktikan dirinya menulis asal-asalan dan omong kosong doang… dia sendiri sama sekali tidak mungkin sanggup mengertikan apa yang dituliskannya… =  Ke-TEH-BOTOLan melulu dari Rhenald sunngguh sangat menonjol sekali.

Akhirulkalam:

1. Semua buku yang ditulis Prof. Rhenald selama ini dan dibeli oleh mahasiswanya atau dijual-umum harus ditarik dari peredaran dan uang-belinya dikembalikan.

2. Ke-teh-botolan para ekonom Indonesia sekarang ini harus dihilangkan secara total, paling sedikit dari Kabinet-Jokowi dan khususnya dari Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Menteri Pendidikan atau Rektor UI seyogianya harus segera mengirim untuk belajar ke luar negeri sebuah rombongan besar dari calon-calon – yang berlatar belakang ilmu pasti atau matematika- untuk menjadi tenaga pengajar baru dari teori atau ilmu ekonomi-makro atau masuk kelak sebagai Menteri ahli dalam Kabinet Indonesia.

21-9-2018.

HMT Oppusunggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here