Asian Games dan Energi of Asia

0
200

Oleh: Jeannie Latumahina

Asian Games dan Energi of Asia kiranya menjadi semangat yang melecut kita untuk berjuang menjadi yang terbaik, tidak hanya dalam event olahraga, tapi juga dalam banyak arena hidup.

Baru saja, event olahraga terbesar se-Asia itu berakhir. Tentu ada banyak cerita menarik tentang hal ini. Cerita tentang bagaimana persiapan Asian games, acara pembukaan yang sangat megah mempesona, serunya berbagai pertandingan, ada Isak tangis kemenangan dan kekalahan, dll. Barangkali, ada yang terperanjat kaget melihat prestasi mengkilap dari atlet-atlet tertentu yang sama sekali tidak diperhitungkan.

Begitu banyak cerita yang mengalir tentang prestasi sukses dan kemewahan Asian Games. Satu hal yang pasti bahwa semua itu tidak datang dan terjadi begitu saja. Menteri PUPR beserta stafnya misalnya bekerja sangat keras untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur yang mutlak bagi even olahraga akbar tersebut. Beberapa koreografer harus mengatur tarian dan tontonan yang menarik dan berkualitas yang melibatkan ribuan peserta. Ada yang sangat sibuk siang dan malam mengatur hal-hal teknis detail seperti pengaturan tata lampu, kebersihan arena,dll.

Para atlet pun telah berjuang maksimal memenangkan setiap cabang olahraga yang dipertandingkan; ada yang mempersiapkan dirinya selama belasan tahun. Prestasi mereka pun mendapatkan penghargaan yang pantas dari pemerintah. Sudah selayaknya dan sepantasnya demikian. Merupakan hal yang sangat tidak adil jika mereka yang mengharumkan nama bangsa tidak diberi penghargaan yang konkret seperti finansial, material, dll di tengah banyaknya aksi pencurian uang negara oleh para koruptor baik kelas teri maupun kakap.

Asian games yang mengusung tema Energi of Asia sungguh sangat relevan untuk konteks Indonesia saat ini. Untuk sebuah prestasi, perlu ada energi yang dikorbankan.

Semakin besar prestasi yang ingin dicapai, semakin besar pula energi yang diperlukan untuk mewujudkannya. Energi yang besar itu diarahkan untuk tujuan-tujuan yang besar melalui kerja, kerja dan kerja!! semboyan Presiden Jokowi sejak pelantikannya pada 2014 yang lalu. Prestasi datang melalui kerja; dan bukan hanya karena omongan kosong.

Tahun politik kita diawali dengan event Asian Games yang sukses. Spirit fair play yang diterapkan pada semua cabang olahraga sudah semestinya menjadi spirit utama bagaimana kita berpolitik; memenangkan pemilu dengan jujur, adil, bebas, terbuka dan setara. Menghabiskan energi untuk hal-hal negatif seperti mencaci maki lawan, mengumbar slogan-slogan yang tidak masuk akal dan memancing bentrokan sesama warga negara sangat tidak kita harapkan. Itu bukan kontestasi elegan yang diharapkan.

Elegan atau tidaknya suatu kontestasi sangat bergantung pada sejauh mana pihak-pihak yang berkontestasi dalam alam demokrasi yang bebas dan setara menghadirkan prestasi-prestasi kerja yang nyata, bisa dilihat banyak orang, diakui kebenaran dan kualitasnya. Di situ, bisa kelihatan, mana kontestan yang betul-betul berprestasi, dan mana pihak yang mengobral omongan kosong (tanpa bukti) dan suka mencibir orang lain.

Omongan sebagai bagian dari bahasa memang punya energi juga membentuk manusia. Omongan yang positif bisa memicu semangat yang positif untuk terus berjuang. Demikian sebaliknya. Politik sebagai arena untuk mengartikulasikan itu semua sangat berpengaruh pada persepsi masyarakat akan siapa kandidat yang layak dan pantas untuk menjadi pemimpin bangsa dan negara ini ke depannya.

Tentang ini, pepatah klasik yang berbunyi: “alah bisa karena biasa” sangat penting artinya. Seseorang yang dikenal sebagai orang baik dan berprestasi karena ia terbiasa berbuat baik dan mengejar prestasi. Demikian pula sebaliknya. Seorang pemimpin pun demikian. Pemimpin tidak dilahirkan, tapi dibentuk oleh praktik-praktik yang membentuk dia jadi seorang pemimpin.

Mari kita belajar dari para atlet yang sudah bertarung di Asian Games 2018 untuk mewujudkan mimpinya dan mengharumkan nama bangsa masing-masing, terutama para atlet di negara kita. Bagi yang berhasil meraih medali, tetaplah mempertahankan itu menjadi yang terbaik; bagi yang belum, berjuanglah terus menerus dengan semangat untuk mencapai yang terbaik. THE PAIN YOU FEEL TODAY IS THE STRENGTH YOU FEEL TOMORROW

Kediri 3 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here