30 Tahun GKI : Bersama Mengukir Narasi  Bagi Bangsa

0
277

Oleh : Timboel Siregar

Hari ini, tangal 26 Agustus, Sinode GKI (Gereja Kristen Indonesia) merayakan ulang tahunnya yang ke-30, yaitu berdasarkan tanggal penyatuan ketiga Sinode Wilayah menjadi satu gereja pada tahun 1988. Pada awalnya, GKI terdiri dari tiga gereja yang terpisah, yaitu GKI Jawa Timur yang didirikan pada tanggal 22 Februari 1934, GKI Jawa Barat yang didirikan tanggal 24 Maret 1940, dan GKI Jawa Tengah yang didirikan tanggal 8 Agustus 1945. Dengan semangat kebersamaan dan persatuan, sejak tahun 1962 ketiga gereja itu berusaha meleburkan dirinya menjadi satu wadah Sinode Am GKI. Semangat dan cita-cita tersebut barulah terwujud terwujud pada 26 Agustus 1988 dengan ditandai pengikraran satu GKI oleh ketiga gereja tersebut.

Tentunya selama 30 tahun berkiprah, sudah banyak hal yang telah dilakukan oleh Sinode GKI beserta 3 Sinode Wilayah, 19 Klasis dan 226 Jemaat untuk mewujudkan Visinya yaitu GKI menjadi mitra Allah yang melaksanakan karya keselamatan dengan mewujudkan keadilan dan damai sejahtera di dunia. Dengan menggerakkan sejumlah lembaga pendidikan, kesehatan dan lembaga sosial lainnya yang berafiliasi dengan GKI, membangun jejaring dengan sesama gereja dalam naungan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), bekerja sama secara aktif dengan lembaga keumatan, serta bergabung di Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), Persekutuan Gereja-gereja Reformasi Se-dunia/World Communion of Reformed Churches (WCRC) dan Dewan Gereja-gereja se-Dunia/World Communion of Churches (WCC), menjadi strategi mengimplementasikan Lima Misi GKI kepada seluruh jemaat GKI pada khususnya, dan umat Kristiani serta rakyat Indonesia pada umumnya.

Permasalahan bangsa yang terus terjadi seperti kemiskinan, pengangguran, lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan hingga persoalan radikalisme dan politik aliran yang mengancam keutuhan NKRI merupakan rangkaian tangisan Ibu Pertiwi yang memang harus disikapi oleh GKI. Panggilan untuk menghadirkan Syalom Allah di tengah-tengah masyarakat menjadi dasar untuk turut melayani masyarakat yang termarjinalkan. Jemaat harus dibekali dengan pentingnya peran sosial agar jemaat menyatakan kasihnya melalui tindakan untuk menegakkan keadilan dan membela orang yang tersisih, seperti orang asing (Ulangan 2 : 12 -22)  GKI harus memposisikan jemaat sebagai subyek dalam menghadirkan Syalom Allah tersebut.

Baca juga  Sekolah Harus Jadi Tempat Aman Bagi Siswa

Dengan sikap inklusif-pluralis, GKI pada setiap tingkatannya yaitu di level Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah dan Sinode Am membangun kebersamaan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengukir bersama narasi  bagi bangsa dalam koridor Pancasila dan UUD 1945. Tentunya GKI tidak melakukan politik praktis tapi GKI harus ikut terlibat secara pro aktif dalam kehidupan politik untuk mempertahankan NKRI. GKI mulai berperan dengan mendididk seluruh umat untuk terlibat dalam berpolitik secara santun, adil dan bermartabat.

Dalam menghadirkan Syalom Allah tersebut tentunya sikap eksklusif-tradisional GKI yang memposisikan sebagai doubel minority harus ditinggalkan. Memang benar kita minoritas secara jumlah tapi GKI harus mampu membangun diri sebagai Creative Minority Society, yang mampu untuk mencari solusi atas berbagai kesulitan tantangan peradaban bangsa, menggerakkan dan menentukan sejarah peradaban yang kemudian akan diikuti oleh komunitas masyarakat lain (Arnold J. Toynbee). GKI harus mampu mengukir bersama narasi yang inovatif untuk kemajuan dan keberlanjutan bangsa Indonesia di dunia ini.

Selamat ulang tahun GKI. Eksistensi dirimu sebagai umat pilihan Allah ditentuan oleh pola pikir, pola sikap dan pola tindak jemaatmu. Jemaat GKI sebagai subyek kehidupan beriman yang peduli terhadap masyarakat marjinal dan keberlangsungan NKRI akan menentukan arah kehidupanmu. Pemberdayaan jemaat menjadi kunci eksistensimu ke depan. Jemaatmu ingin GKI hidup lebih dari 1000 tahun lagi.

Tabik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here