Jejak Zionisme di Jawa

0
836

Oleh: Monique Rijkers

Zionisme atau kembalinya orang Yahudi ke Tanah Israel identik dengan sejarah kelahiran negara Israel pada tahun 1948. Di mata dunia yang buta sejarah, Zionisme adalah penyerobotan terhadap orang Arab yang mendiami Palestina, nama yang diberikan oleh Romawi saat menjajah Tanah Israel pada tahun 100 Masehi. Nama Palestina merujuk pada kawasan Yudea yang menjadi bagian dari area yang didiami orang Yahudi sejak Nabi Musa membawa bani Israel eksodus dari Mesir.

Mungkin akan banyak orang Indonesia kaget jika mengetahui ide Zionisme teryata turut bersemai di Nusantara. Saat Belanda masuk ke Nusantara di awal abad 16, gagasan Zionisme mulai digulirkan di antara orang-orang keturunan Yahudi yang berasal dari Belanda. Menurut Profesor Rotem Kowner, peneliti pada Departemen Studi Asia di Universitas Haifa di Haifa,Israel, banyak pegawai asal Belanda yang bertugas di Dutch East Indies adalah orang Belanda keturunan Yahudi atau disebut juga Yahudi Askenazi (Yahudi Eropa). Pada tahun 2013, Rotem Kowner sempat ke Indonesia dan bertemu Oma saya yang ayahnya adalah seorang Yahudi keturunan Belanda yang bekerja di Surabaya dan Blitar sebagai apoteker.

Pada 2016 saya mengundang ke Jakarta dan mewawancarai peneliti Yahudi asal Padang Romi Zarman terkait masuknya orang Yahudi ke Nusantara. Menurutnya, Zionisme pertama kali masuk di Nusantara lewat kedatangan Mr Isidore Hen pada 1909 di Jawa.Isidore Hen adalah pengurus aktif Nederlandsch Zionistenbond (Asosiasi Zionis Belanda) di Amsterdam. Isidore Hen inilah yang berperan aktif dalam membangun kehidupan agama Yahudi (Yudaisme) di kalangan orang Yahudi di Jawa. Hal itu terungkap dalam tulisan R.J Spitz yang berjudul, “In Memoriam Mr Isidore Hen” pada 14 Februari 1947. Saya sendiri menemukan sebuah buku tentang Nederlandsch Zionistenbond, ditulis oleh Gedenkboek yangmenyebutkan organisasi Yahudi ini berdiri sejak 1899 hingga 1924.

Meski Isidore Hen adalah seorang Zionis, namun kegiatan penggalangan dana mulai intens pada tahun 1921, saat seorang Zionis yang bernama Israel Cohen datang ke Jawa. Israel Cohen adalah sekretaris Organisasi Zionis Dunia yang berpusat di London. Bisa dikatakan, Dutch East Indies menarik para Zionis dari organisasi dunia, bukan terbatas dari Belanda. Berdasarkan riset yang mengacu pada “Israel Cohen Paper”, milik Centre for Jewish History sejak 1918 hingga 1921, Israel Cohen tercatat menjalani serangkaian misi diplomatik dan pengumpulan dana ke Polandia, Hungaria, Australia, Hong Kong, India, China, Jepang dan Dutch East Indie. Saat itu dana yang ia kumpulkan dikenal dengan sebutan Palestine Restoration Fund. Dari catatan Israel Cohen ditemukan informasi adanya Palestina Fondsen (cikal bakal Keren Hayesod) di Surabaya yang bertugas mengumpulkan dana dari kalangan Yahudi dan simpatisan untuk mewujudkan cita-cita Zionisme di Tanah Israel. Israel Cohen memprediksikan jumlah orang Yahudi di Jawa saja saat itu sebanyak 2000 orang. Nederlandsch Indie Zionistenbond (Asosiasi Zionis Dutch Indies) dan Palestina Fondsen kemudian bekerja sama dengan kelompok Masonik di Jawa yang terdiri dari orang-orang non Yahudi yang berjiwa sosial.

Baca juga  Yerry Tawalujan, Moderator FK-OK: Penolakan Wadah Pegawai Terhadap Pimpinan KPK Insubordinasi, Harus Dipecat

Penelusuran informasi lebih lanjut dari artikel berjudul “Jews At The Frontier” yang ditulis oleh L. Eprafas di situs Academia.edu, perwakilan Keren Hayesod bernama S.I van Creveld yang bermukim di Batavia telah merilis majalah “Erets Israel” atau Tanah Israel pertama kali di Padang pada bulan September 1926. Tahun 1928, lokasi Erets Israel berpindah-pindah ke Bandung, Batavia, Surabaya, Lawang dan terakhir di Malang. Meski mengalami perpindahan lokasi penerbitan sebanyak 13 kali, majalah tersebut bertahan hidup hingga 1939. Tahun 1939 majalah “Erets Israel” berhenti terbit dan hadir kembali pada 1940. “Erets Israel” didistribusikan gratis di kalangan Yahudi di Hindia Belanda agar mendukung terwujudnya negara Yahudi. Pada tahun 1942, menurut Profesor Rotem Kowner dari Departemen Studi Asia, Universitas Haifa di Haifa, Israel “Erets Israel” ditutup oleh Jepang. Universitas Monash di Australia menyimpan 139 edisi dari EretsIsrael setebal 1400 halaman. Sayangnya tebitan tahun 1928 dan 1930 sebagian hilang dan edisi 1929 hilang seluruhnya.

Selain memiliki cabang di Dutch East Indies, petinggi organisasi Yahudi dunia pun datang ke Nusantara. Salah satunya adalah Keren Hayesod, organisasi Yahudi yang hingga kini masih hidup. Dahulu Keren Hayesod berpusat di London dan memiliki jaringan di Eropa, Amerika dan Asia. Pada 1927, Dr. Alexander Goldstein, pendiri Keren Hayesod datang ke Batavia, Bandung, Jogyakarta, Semarang, Malang dan Surabaya. Informasi ini diberitakan oleh Jewish Telegraphic Agency pada tanggal 5 Juni 1927. Pada 15 Januari 1928, Jewish Telegraphic Agency kembali memuat perjalanan Goldstein ke Batavia, Bandung dan Surabaya dalam peranannya sebagai pengumpul dana dari Singapura (organisasi Yahudi di Singapura bernama Singapore Zionist Society) hingga Australia. Goldstein memandang serius keberadaan orang-orang Yahudi di Dutch East Indies sehingga ia merancang Keren Hayesod Campaign atau Kampanye Keren Hayesod tahun 1928. Goldstein sendiri adalah seorang wartawan koran Zionis berbahasa Rusia “Rasvet” dan ia menjadi tokoh Zionis utama di Rusia. Ia kemudian menetap di Palestina pada tahun 1933. Organisasi yang mengatur pertemuan demi pertemuan antara Goldstein dengan orang Yahudi lokal adalah Kunstkring, asosiasi Eropa paling berpengaruh di Hindia Belanda. Gubernur Hindia Belanda termasuk pihak yang mendukung cita-cita Zionisme untuk mewujudkan negara Yahudi di Palestina. Pada akhir 1920-an, nama Palestina Fondsen lebih sering digunakan daripada Keren Hayesod. Selain Keren Hayesod, Nederlandsch Indie Zionistenbond juga membuka cabang di sejumlah tempat seperti Batavia, Surabaya, Bandung, Jogyakarta, Semarang, Malang dan Pasuruan.

Baca juga  EKSPONEN ORMAS TRI KARYA GOLKAR GELAR DISKUSI: MERAWAT GOLKAR SEBAGAI RUMAH BESAR KEBANGSAAN INDONESIA

Kemudian organisasi Yahudi lain hadir yakni Vereeniging of Jewish interests in Dutch-Indies bekerja sama dengan dua organisasi Yahudi yang telah terbentuk sebelumnya dalam menggalang dana dan peringatan-peringatan tragedi yang menimpa orang Yahudi. Pertemuan tahunan rutin berlangsung saban Juli atau Agustus d Batavia. Ajakan donasi dikelola oleh Vereeniging of Jewish interests in Dutch-Indies dan Jewish National Fund demi berdirinya negara Israel di Palestina terekam pada sebuah poster berbahasa Belanda. Donasi diadakan di Bandung tahun 1930. Poster ini dipublikasikan pada sebuah pameran oleh Museum Yahudi Belanda.

Pada September 1929, Profesor Rotem Kowner dari Departemen Studi Asia pada Universitas Haifa menyatakan terbentuk Dewan Pusat Yahudi (Centrale Joodsche Raad) di Batavia. Pada tahun 1934 diadakan Rapat Umum Zionistenbond di Batavia guna membahas naiknya Hitler di Jerman pada tahun 1933.

Meski ada kesadaran pentingnya bagi orang Yahudi untuk memiliki Tanah Israel, namun pemeluk Yahudi Ortodoks dan Ultra-Ortodoks menolak Zionisme dengan alasan tidak sesuai janji Hashem (TUHAN). Yahudi Ortodoks dan Ultra Ortodoks percaya yang akan membawa mereka ke Yerusalem adalah Messiasch(Mesias) bukan gerakan politik. Meski banyak sekali ayat pada Tanakh (Kitab Suci Yudaisme) yang mencantumkan aliyah (kembali ke Zion atau Israel), kelompok Ortodoks tidak mengimani ayat-ayat tersebut. Tak heran cukup banyak rabbi atau denominasi Yahudi yang tidak mendukung Zionisme.

Namun dari jejak kehadiran organisasi Yahudi di Nusantara yang memperjuangkan terwujudnya sebuah tanah bagi bangsa Israel dan gagasan agar orang Yahudi mendiami Tanah Israel (Erets Israel) dapat menjadi bukti Zionisme bukan muncul pasca Holocaust tetapi sejak dahulu kala. Bukti sejarah bukan hanya bisa ditelusuri lewat arsip dokumentasi tertulis namun juga bisa dilihat dari peninggalan benda masa lalu seperti ukiran perak Jogya dengan tulisan Zionistbond Djakarta. Sebuah kenang-kenangan untuk keluarga Bapak B. van Tjin pada Agustus 1951 dalam rangka kepulangan ke Belanda. Benda ini merupakan koleksi dari Phillip van Tijn yang dipublikasikan oleh Museum Yahudi Belanda pada sebuah pameran. Dari organisasi Zionis yang ada di Nusantara, kita bisa meneropong ke masa lalu tentang sebuah gagasan yang diwujudkan dari jauh. Dari Nusantara yang kini menjadi Indonesia, negari Muslim terbesar yang belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, yang terwujud pada 1948 berkat Zionisme yang turut disemai dari Nusantara.[]

Baca juga  7 Ormas  Bentuk "Forum Cinta Pancasila" untuk Merevitalisasi dan Membumikan Kembali Pancasila

Keterangan Foto milik Museum Yahudi Belanda:
1. Piring perak bertulis Zionistbond Djakarta, 1951.
2. Majalah Erets Israel terbit di Padang.
3. Poster penggalangan dana di Bandung, 1930

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here