Donald Trump dan Eropa Serikat

0
432

Oleh: Darwin Pangaribuan

Donald Trump, presiden terpilih USA dari platform konservatif tradisional, akan memimpin USA sampai 2021. Kebijakan Trump lebih mengarah kepada proteksionis 4 tahun kedepan. Kebijakan introvert ini akan menggeser kebijakan USA sebelumnya yang lebih liberal. Perubahan pendulum policy ini tidak bisa lepas dari Fakta Brexit sebelumnya. Inggris memberikan resonansi kepada sesama negara Anglo-Saxon untuk lebih berwawas ke dalam. Kebijakan ini adalah akibat frustrasi melihat perlambatan ekonomi dunia. Frustrasi ini dipertegas lagi oleh keluarnya USA dari kemitraan strategis perdagangan internasional seperti dari Kemitraan Asia Pasifik.

Ruang kosong yang disediakan oleh USA dan sekutunya Inggris, dan juga Australia, dengan meninggalkan peran aktif dalam sebagai polisi dunia, justru mengundang kekuatan lain untuk masuk. Tiongkok, negara superpower yang telah memiliki kapal induk nuklir sendiri bersiap untuk masuk mengisi kekosongan tersebut. Ekspansi investasi ke beberapa negara di Afrika diiringi dengan menguatnya mata uang Yen, menambah kepercayaan diri Tiongkok untuk menjadi superpower dunia. Putin Rusia dan sekutunya Irak dan Turki menunggu sambil mengintip untuk memanfaatkan kelengahan musuh. Turki dengan hasil referendum nya yang akan menghantarkan presiden Erdogan sebagai presiden otoriter, adalah situasi yang sudah lama ditunggu oleh sekutunya Putin. Putin sadar apabila Iran dan Turki dibawah kendali seorang otoriter, akan lebih memuluskan rencana ke depan Rusia untuk menohok ke jantung Timur Tengah.

Eropa terkejut dan seolah tidak siap dengan Brexit dan protectionism policy USA. Seolah anak induk kehilangan ayam, presiden Perancis dan Jerman berpacu untuk mencari peluang siapa pemimpin Eropa sebenarnya. Bibit-bibit pertempuran perang dunia II seperti berkecambah lagi. Kekosongan kekuasaan atau vacuum of power di benua Eropa ini yang akan membangkitkan sebuah kepemimpinan baru atau seorang pemimpin baru bagi Eropa Serikat. Pertarungan kekuasaan ini akan sangat sengit oleh karena hendak mengisi vacuum of power yang ditinggalkan oleh USA.

Dunia sedang bergeser dalam pendulum kekuasaannya. Sedikit demi sedikit warga dunia harus menyesuaikannya. Diplomasi Twitter Donald Trump membuktikan hal itu. Panggung baru dunia sudah mulai disusun bata demi bata. Sayangnya, Indonesia masih belum sadar apa yang perlu diantisipasi dengan telah mulai dibangunnya panggung tatanan dunia baru. Status Jerusalem yang baru saja dirapatkan oleh 75 negara anggota PBB minus Israel tidak mendapat perhatian khusus oleh negara-negara non-blok. Justru yang ada adalah manuver petinggi MUI memenuhi undangan presiden Israel. Warga dunia, termasuk warga Indonesia harus bersiap dengan menyempitnya ruang gerak ekonomi akibat perubahan pendulum politik.

Bandar Lampung, 22 Januari 2017
Sehari setelah pelantikan Donald Trump
By Darwin Pangaribuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here