Starvision Umumkan Segera Memproduksi Film Terbarunya, ‘Hati Suhita’

0
46

 

 

Starvision Umumkan Segera Memproduksi Film Terbarunya, ‘Hati Suhita’

 

Jakarta, Suarakristen.com

Film layar lebar produksi Starvision ini adalah adaptasi dari novel best-seller karya Khilma Anis berjudul HATI SUHITA, yang telah berkali-kali naik cetak saking larisnya.

Hadirnya novel dengan latar belakang pondok pesantren ini mampu menghipnotis banyak orang dan meledak di pasaran. Cerita yang memikat dan terasa sangat dekat, lantaran sang penulis, Ning Khilma, memang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Saat MTs, Ning Khilma mondok di Pondok Pesantren Al-Amien Sabrang, Ambulu, Jember. Masa Aliyah ia habiskan di Pesantren Assaidiyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Dan saat kuliah, ia nyantri di Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.

HATI SUHITA merupakan salah satu karya sastra Khilma Anis yang menarasikan perempuan dengan latar belakang pesantren. Novel tersebut menggiring pembaca kepada kemegahan pesantren dengan hiruk-pikuk domestifikasi rumah tangga. Ia juga berkisah tentang bagaimana relasi pesantren dengan dunia luar yang dipotret secara apik melalui hadirnya aktivis perempuan, Ratna Rengganis. Novel ini membicarakan kekuatan cinta, relasi laki-laki dengan perempuan dalam kehidupan pesantren modern, juga pesantren dengan transformasi pengembangannya.

Pesan tersirat yang disampaikan Khilma Anis di novel Hati Suhita adalah bagaimana seharusnya konsep cinta yang dihadirkan oleh Alina Suhita yang tidak begitu saja mudah menyerah dengan keadaan.

Sebagai perempuan Alina Suhita memiliki daya juang yang bahkan jauh melebihi laki-laki. Mikul dhuwur, mendhem jero mutlak diterima Suhita tanpa penolakan. Dalam bahasa Indonesia, pepatah ini bisa diartikan, mengangkat tinggi dan mengubur dalam. Pepatah mikul dhuwur, mendhem jero memiliki makna bahwa sebagai anak, kita diwajibkan mengangkat tinggi derajat orangtua, serta menutup rapat-rapat aib keluarga, dalam hal ini termasuk menutup aib suami.

Alina Suhita yang diperlakukan buruk oleh Gus Birru, suaminya, mampu bertahan dan membalikkan keadaan dengan cara yang baik. Sebab baginya, menjadi wanita juga harus berani bertapa. Sebagaimana dalam bahasa Jawa, wani-ta, memiliki arti wani tapa atau berani bertapa. Berkat kesabaran, keikhlasan, dan pengabdian yang begitu tulus, serta keimanannya pada Sang Maha Kuasa, akhirnya Alina Suhita berhasil mendapatkan cinta yang selama ini ia inginkan. Cinta Gus Birru.

Film layar lebar Hati Suhita akan membawa penonton kedalam kisah cinta Alina Suhita, Gus Birru dan Ratna Rengganis.

Kisah perjuangan seorang perempuan yang gagah berani dan pantang menyerah, untuk mendapatkan cinta suaminya sendiri!

Sinopsis

Alina Suhita menerima takdirnya untuk menikah dengan Gus Birru, pewaris pesantren Al-Anwar.

Baca juga  Hadirkan Program #bodrexMerahPutihBeraksi, Cat Ratusan Musholla di Indonesia dan Memperkenalkan Rossa sebagai Keluarga Baru Bodrex

Abah dan Ummik telah menyerah pada pilihan hidup Gus Birru, yang lebih menyibukkan diri dengan kegiatan pergerakan dan cafenya. Mereka percaya bahwa Alina Suhita adalah pilihan menantu yang tepat. Kemampuan manajemen dan kecerdasannya cocok untuk mengelola pesantren.

Namun semua rahasia tersimpan di balik kamar. Sejak menikah, Gus Birru tidak sekali pun menyentuh Suhita. Gus Birru menyatakan secara terbuka, bahwa dia menikahi Suhita karena terpaksa, sekedar untuk menenangkan hati orangtuanya. Gus Birru mencintai perempuan lain, Ratna Rengganis, yang telah mendampinginya selama ini. Cara apa pun yang dilakukan oleh Suhita, diyakini oleh Gus Birru, tidak akan mampu meluluhkan hatinya.

Sementara Ratna Rengganis sendiri masih mencoba untuk melanjutkan hidup dari kehancuran hatinya, setelah melihat Gus Birru menyerah pada jodoh pilihan orang tuanya. Namun, Gus Birru terus memberikan harapan pada Rengganis bahwa mereka akan bersatu kembali, karena dia tidak pernah dan tidak akan mencintai Suhita. Untuk itu, Gus Birru terus menekan Suhita agar mau menyerah dan memilih untuk memutuskan pernikahan mereka. Namun Suhita bukanlah perempuan yang mudah menyerah.

Ketika Suhita dan Rengganis bertemu, Rengganis baru menyadari bahwa Suhita bukan perempuan sederhana yang lemah. Rengganis melihat kenyataan bahwa Suhita memang pasangan yang tepat untuk laki-laki seperti Gus Birru. Hal ini membuat Rengganis sadar dan memilih untuk menjauh dari Gus Birru. Penolakan Rengganis terhadap dirinya, membuat Gus Birru marah dan menuduh Suhita sengaja melakukannya. Kali ini Suhita merasa Gus Birru sudah keterlaluan, hatinya terpukul dan tersakiti. Suhita tidak tahan dan memilih pergi.

Pemain & Tim Produksi

Nadya Arina. –  Alina Suhita

Omar Daniel   –  Gus Birru

Anggika Bolsterli  –  Ratna Rengganis

Ibrahim Risyad – Kang Dharma

Desy Ratnasari – Ummik

David Chalik  – Kyai Hannan

Slamet Rahardjo –  Mbah Kung

Widyawati Sophiaan – Mbah Putri

Wafda Saifan –  Arya

Devina Aureel  – Aruna

Tutus Thomson – Zaki

Tanta Ginting      – Rizal Sihombing

Alessandro Gianini  – Gus Birru Kecil

Angelia Livie    – Alina Suhita Kecil

Ariyo Wahab. –  Ayah Suhita

Eksanti. –  Ibu Suhita

Joshua Suherman –  Permadi

Ence Bagus   – Salim

Dayu Wijanto  – Bi Siti

Produksi Starvision

Produser Chand Parwez Servia
Fiaz Servia

Sutradara Archie Hekagery

Produser Eksekutif Riza
Reza Servia
Mithu Nisar
Raza Servia
Amrit Dido Servia

Produser Lini Yaya Said

Baca juga  Patroli Perairan Rutin Pantau Perkembangan Sitkamtibmas Pulau Seribu

Penulis Skenario Alim Sudio

Penata Artistik

Oscart Firdaus

Penata Kamera

Iqra Sembiring

Perekam Suara

Trisno Bersuara

Iron Sugala

Penata Casting

Abie Prabu

Penata Rias

Tomo Sastra

Penata Busana

Aldie Harra

Still Photo

Muhammad Bayu Rahutomo

Produser – Chand Parwez Servia

Chand Parwez Servia lahir di Tasikmalaya pada 18 Februari 1959. Dia memulai karirnya di industri film pada usia 8 tahun, ketika saudaranya menyewa bioskop di kampung halamannya. Pada usia 15 tahun, ia mengelola 5 bioskop. Chand Parwez Servia kemudian memulai PT Kharisma Jabar Film pada tahun 1985, ia mengelola dan mendistribusikan film di Jawa Barat.

Pada tahun 1987, bersama rekan-rekannya yang terdiri dari praktisi budaya, media, dan intelektual lainnya, ia mendirikan Festival Film Bandung yang selama 35 tahun terakhir menilai dan merekomendasikan film lokal dan impor kepada masyarakat penonton, sebagai bentuk apresiasi.

Pada tahun 1989, ia memproduksi film pertamanya: Si Kabayan Saba Kota yang menjadi film paling sukses pada tahun 1989, dan juga menerima penghargaan untuk Film Komedi Terbaik di Festival Film Indonesia 1990. Tertarik dengan kegiatan sosial, Chand Parwez Servia menerima medali Paul Harris Fellow dari Rotary Club. Pada tahun 1995 ketika industri film menurun karena pembajakan, ia memulai PT Kharisma Starvision Plus, dikenal sebagai Starvision, yang telah menghasilkan berbagai program televisi yang meraih sukses di Indonesia. Dari 2004 hingga 2007, ia menjadi ketua Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Pada tahun 2015 Chand Parwez menjadi salah satu pendiri dan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), dan ia juga menjadi ketua umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) dari tahun 2017 hingga 2022.

Kiprahnya di film diawali dengan 3 tahun berturut-turut film-film yang ia produksi mencapai Box Office: Virgin (2005), Heart (2006) dan Get Married (2007). Selain itu, karya Starvision kerap menjadi trendsetter dengan berbagai genre dan meraih kesuksesan, seperti The Tarix Jabrix (2008), Perempuan Berkalung Sorban, Get Married 2 (2009), Laskar Pemimpi, Kabayan Menjadi Milyuner (2010), Purple Love, Get Married 3, Hafalan Shalat Delisa (2011), Perahu Kertas (2012), Cinta Brontosaurus (2013), Marmut Merah Jambu (2014), Ngenest (2015), Koala Kumal dan Cek Toko Sebelah (2016), Critical Eleven, Sweet 20 (2017), Yowis Ben, Milly & Mamet (2018), Yowis Ben 2, Ghost Writer, Dua Garis Biru, dan Imperfect (2019).

Kreasi Starvision dikenal karena nilai abadinya, dan bukan sekedar daya tarik komersialnya, sehingga memenangkan penghargaan secara lokal maupun internasional.

Baca juga  Polri Paparkan Upaya Maksimal Amankan Pelaksanaan Presidensi G20

Sutradara – Archie Hekagery

*Tetangga Masa Gitu – NET TV (2014-2017)

* Ok Jek – NET TV (2015 – 2018)

* Film layar lebar “Wedding Agreement” (2019)

* Film layar lebar “Tarung Sarung” – Netflix (2021)

* Wedding Agreement The Series – Disney+ Hotstar (2022)

“Potret betapa tegarnya seorang perempuan dalam menghadapi masalah rumah tangganya akan sangat menarik untuk diikuti! Karena ini akan mematahkan stereotype bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Sebaliknya, di HATI SUHITA ini karakter Alina Suhita digambarkan sebagai wanita modern, religius yang sangat kuat dan tidak kenal kata menyerah dalam memperjuangkan kebenaran! Dengan latar belakang pesantren di Jawa Timur yang kental akan membuat film ini memiliki kebaruan yang sangat menarik”

Penulis Novel – Khilma Anis

Penulis novel best-seller Hati Suhita juga novel Wigati dan Jadilah Purnamaku, Ning menulis berbagai cerpen juga naskah film independen. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Jember, Guru Diniyah Ponpes Annur, Guru Bahasa Indonesia dan Sosiologi MA Ma’arif Annur dan owner Omah Suhita. Pendidikan formal: MI Ma’arif Ambulu, Mts Al Amin Ambulu, MAN Tambakberas Jombang, Jurusann komunikasi penyiaran Islam Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Pendidikan nonformal: Ponpes Al Amin Ambulu Jember (3 Tahun selama MTs), Ponpes Assaidiyah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang (3 tahun selama Aliyah), Ponpes Ali Maksum komplek Gedung Putih Krapyak (selama kuliah).

Penikmat Wayang, Keris dan Budaya Jawa.

Penulis Skenario – Alim Sudio

Penulis buku dan cerita pendek Kembang Api, Gita Cinta. Penulis skenario film: Rahasia Bintang, Ada Kamu Aku Ada, The Perfect House, Pupus, Brandal Brandal Ciliwung, Tampan Tailor, Crazy Love, 99 Cahaya Di Langit Eropa Part 1, 99 Cahaya Di Langit Eropa Part 2, Assalamualaikum Beijing, Bulan Terbelah Di Langit Amerika 1, Surga Yang Tak Dirindukan 1, Jilbab Traveller, Surga Yang Tak Dirindukan 2, Cinta Laki-Laki Biasa, Ayat-Ayat Cinta 2, A : Aku Benci & Cinta, Chrisye, Takut Kawin, Ananta, Dimsum Martabak, Kuntilanak, Walet Hitam, Buku Harianku – Musikal, Twivortiare, Mariposa, Taufiq – Laki-Laki, Yang Menantang Badai, Buya Hamka, Ranah 3 Warna dan Layla Majnun. Penulis skenario TV Series: ARISAN The Series (with Kalyanashira Production) –ANTV, ENJAH (with kalayanashira Production) – DAAI TV, SISSY AJAH (with Frame Ritz) – SCTV, Mini Seri
– PULANG KAMPUNG (with Valiant Pictures) dan Serial KEPOMPONG – SCTV.

(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here