Mempertahankan Pancasila Ditengah Perang Idiologi

0
75

Mempertahankan Pancasila Ditengah Perang Idiologi

 

Penulis : Jeannie Latumahina
Ketua Relawan Perempuan dan Anak Perindo

 

Senin 25 April 2022

 

Sebelumnya mungkin ada baiknya dijelaskan antara idiologi dan peradaban, karena ada sementara yang menyatakan bahwa munculnya gerakan terorisme internasional disebabkan oleh perang peradaban, atau benturan peradaban antara peradaban masa lalu dengan dengan peradaban global. Benarkah demikian?

Rasanya tidak tepat disebutkan demikian, karena seumpama dengan contoh lainnya seperti peradaban manusia modern dengan manusia purba, tentunya tidak akan memunculkan gerakan manusia purba melakukan teror terhadap manusia modern. Yang terjadi malah sebaliknya perbedaan peradaban yang lebih maju akan secara naluri mengajarkan kepada peradaban yang lebih rendah. Dan yang lebih rendah akan dengan senang hati mempelajari peradaban yang lebih maju.

Hal yang berbeda dengan idiologi, sejarah bangsa telah mencatat adanya perang idiologi sejak awal kemerdekaan, tentu kita ingat benar bagaimana upaya memecah kesatuan bangsa dengan berbagai macam pembrontakan mulai PRRI, Permesta, DI/TII, PKI yang bertujuan memperluas idiologinya yang pada akhirnya adalah merebut kekuasaan sebesar-besarnya melalui idiologi yang di usung sebagai alat.

Adapun idiologi itu sendiri adalah bentuk imaginasi yang ditawarkan untuk mencapai tujuannya, kepada siapapun sehingga akhirnya dipercaya menjadi kepentingan bersama dalam kelompok.

Imajinasi adalah satu-satunya yang dimiliki manusia dan tidak ada dimiliki oleh mahluk hidup lain. Se-ekor kera tentu tidak bisa berimajinasi terbang ke bulan, bahkan kera tidak bisa melakukan kebohongan kepada kelompoknya seakan ada musuh yang datang.

Dalam satu kelompok kera, baik jantan maupun betina bisa hidup bersama dipimpin oleh kera yang paling perkasa, dan ketika dirasakan ada ketidak puasan dalam pembagian maka muncul faksi-faksi dalam kelompok dan kemudian rame-rame mengalahkan yang perkasa, atau kelompok kuat mengalahkan kelompok kera yang lemah.

Baca juga  *Surat Terbuka Komite Aksi Solidaritas Untuk Kasus Munir*

Manusia jelas bukan kera, dengan imajinasi komunal melahirkan idiologi yang menjadi sarana dalam mencapai tujuan bersama. Bangsa Indonesia sudah sangat jelas dan final melalui Proklamasi Kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar 45, menetapkan bahwa Pancasila sebagai idiologi bersama.

Pancasila dengan Kelima Sila yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial menjadi azas dasar arah pergerak dalam membangun rakyat bangsa Indonesia.

Pancasila adalah idiologi yang ditawarkan oleh Bapak Bangsa, dan kemudian diterima oleh seluruh komponen masyarakat, suku-2 bangsa dan kerajaan-2 di wilayah Hindia Belanda yang memiliki masalah dan tujuan yang sama untuk merdeka dan membangun bangsa sebagaimana peradaban bangsa yang hidup.

Mencapai tujuan bersama sebagaimana digariskan Pancasila, tentu saja tidak semudah membalik tangan terlebih mengingat luasnya wilayah, beragamnya suku bangsa dan bahasa dengan jumlah penduduk lima besar dunia.

Selalu ada kepentingan pribadi, kelompok yang tidak terpuaskan oleh berbagai macam sebab dan ada di semua strata masyarakat yang merasakan tidak terakomodasi dalam mewujudkan tujuannya setelah Indonesia merdeka.

Berbagai ketidak puasan yang lahir inilah yang kemudian menjadi peluang masuknya Idiologi Transnasional, yaitu idiologi yang berasal dari luar yang tidak terbatas oleh sebab wilayah. Mengapa idiologi Transnasional??

Karena memang hingga sekarang ini tidak ada satupun idiologi yang lahir dan tepat untuk bangsa Indonesia yang beragam dan majemuk selain Pancasila.

Dan jalan masuk idiologi transnasional ke Indonesia tentu saja melalui sosial politik, ras dan agama, dimana jelas transnasional tidak memberikan keuntungan untuk kehidupan bangsa Indonesia, karena adalah idiologi asing yang tentunya masuk dengan kepentingan asing.

Dan tentu saja pihak asing juga yang membackup serta membiayai seluruh penyebaran idiologi transnasional untuk mengganti Pancasila.

Baca juga  Kerjasama dengan AVSEC, Karantina Merauke Berhasil Gagalkan Pengiriman Awetan Burung Cenderawasih

Segala hal telah dicoba menghancurkan dan merubah idiologi bangsa terlihat dari jejak-jejak sejarah pembrontakan dan upaya makar terhadap keutuhan bangsa Indonesia.

Sebagaimana bunyi sila Pertama, Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa karena memang bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius dengan mayoritas umat Islam terbesar dunia. Maka tentu saja masuknya idiologi transnasional akan lebih mudah melalui dogma keyakinan iman agama.

Meracuni semua pemikiran atau imaginasi rakyat untuk tidak lagi percaya kepada Pancasila, dimana sebenarnya bertujuan menghancurkan bangsa dan negara Indonesia. Memporak porandakan dengan tujuan untuk dikuasai melalui upaya adu domba dari dalam.

Kita mengetahui sekarang bahaya terorisme, tidak hanya terdapat pada masyarakat marginal saja namun juga pada masyarakat yang secara ekonomi mapan, masyarakat berpendidikan, namun tidak terpuaskan oleh keyakinan kepada idiologi Pancasila.

Maka tentunya untuk menjaga keutuhan bangsa tentu saja dengan memperkuat percaya kepada Pancasila sebagai idiologi bangsa Indonesia. Dan ini harus terus menerus dilakukan oleh seluruh masyarakat secara mandiri atau melalui berbagai kelompok organisasi dengan dukungan kuat pemerintah dan juga perundangan yang berlaku.

Tentu saja kita tidak ingin arah perjuangan bangsa terus menerus diganggu oleh kepentingan-kepentingan lain yang menghancurkan kesatuan bangsa dan kesepakatan bersama yaitu Pancasila. Harus terus menerus diperkuat oleh segenap rakyat.

Senin 25 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here