Perjuangan Yesus Demi Perdamaian

0
69

 

Perjuangan Yesus Demi Perdamaian

Jakarta, Suarakristen@gmail.com

 

 

Diskusi tentang politik selalu saja bicara Politik Kotor atau Politik Suci. Hal itulah yang muncul dalam diskusi Webinar bertajuk; “Politik Yesus Perjuangan Untuk Perdamaian,” pada, Jumat, 13 Agustus 2021.

Webinar ini berkaitan refleksi HUT ke-76 RI.
Tentu jika belajar sejarah di masa Yesus, pun perjuangan politik sudah ada, paling tidak di jaman itu ada empat kelompok punya kepentingan politik. Pertama, kelompok yang Herodian yang setia dengan Herodes. Kelompok Saduki, kelompok Aristokrasi, para cedikia yang ingin Yahudi asli tetapi mempraktekkan kelompok pragmatisme.

Lalu ada kelompok Farisi, yang memeliharq Taurat, kelompok agamawan Yahudi, dan kelompok terakhir Zelot, kelompok pebangkang, kelompok penentang kekuasaan. Kelompok empat ini sebenarnya selalu saja ada di jaman modern ini. Empat kelompok politik.

Dalam Webinar yang dihadiri banyak tokoh-tokoh diantaranya Prof Dr Payaman Simanjutak, Pdt Saut Sirait. Diskusi zoom yang menampilkan empat pembicara dan tiga penanggap. Pembicara pertama Pdt. Dr. Ronny Mandang, M.Th yang merupakan Ketua Umum Aras Nasional Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII).

Pembicara kedua, Pdt. Dr. Richard M Daulay, mantan Sekretaris Umum PGI ini juga dosen politik dan menulis buku tentang politik. Pembicara ketiga Matius Ho sebagai salah satu pendiri Institut Leimena, sekarang Direktur Eksekutif Institut Leimena. Pembicara keempat, Dr Stefanus Roy Rening, SH.MH, Dewan Pembina Yayasan I.J.

Kasimo, seorang pengacara dan pernah memimpin partai.
Ho dan Rening menceritakan kisah pemikiran dan gagasan dua tokoh masa lalu Johannes Leimena dan IJ Kasimo. Tentu dalam perjalanan sejarah bangsa ini tokoh-tokoh politik Kristiani selalu juga memberi peran besar. Johannes Leimena, disebut sosok negarawan sejati dan seorang politis yang berhati nurani.

Baca juga  MRIN-UPH Berpartisipasi Temukan Antiserum IgY Sebagai Alternatif Pengobatan Covid-19

Leimena pernah mengatakan, “politik bukan alat kekuasaan, tetapi etika untuk melayani.”
Sementara sosok politisi kristiani masa lalu dari Katolik, Ignatius Joseph Kasimo, sebagai politisi I J menyakini, bahwa soal dasar negara ini merupakan soal hidup dan mati bangsa.

Kasimo berkeyakinan, bahwa hanya dengan Pancasila sebagai dasar negara, maka di Indonesia akan terjamin kesetaraan antarwarganya serta kebebasan agama.
Sementara penanggap pertama, Mangasi Sihombing mantan Duta Besar, sekarang Wakil Ketua Partai Indonesia Damai (PID). Penanggap kedua, Kamaruddin Simanjutak SH, pengacara senior sekaligus Pendiri dan Ketua Umum Partai Demokrasi Rakyat Indonesia Sejahtera (PDRIS).

Penanggap terakhir Dr. Drs. Bambang Radsudiman Utoyo, M.Th, dosen STT Sunsugos dan mantan birokrat DKI Jakarta. Ternyata Utoyolah yang dulu memilih judul diskusi karena disertasi saat menggambil doktor di STT Ikat, bertajuk “Politik Yesus Perjuangan untuk Perdamaian.”

Polarisasi dan Politik Salib
Ronny Mandang dalam pemaparannya menyebut, di umat Kristenten terjadi polarisasi, bahwa gereja berusaha untuk bagaimana mengubah dunia ini percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Tetapi pada waktu yang bersamaan dunia juga sebenarnya sedang berusaha untuk sekularisasi kan gereja, orang-orang percaya. Kedua, pernyataan Yesus sendiri tentang dirinya memang tidak secara eksplisit dikatakan bahwa dia adalah Tuhan, tetapi kita semua pernah membaca dan mengerti.

“Saya meyakini ibu bapak sering juga menyampaikan hal-hal isi, Alkitab ini kepada banyak orang dimana Yesus pernah mengatakan berkali-kali Aku dan Bapa adalah satu satu kesatuan yang tidak terpisahkan itu juga mengatakan aku datang bukan dari dunia ini, dan juga pernah mengatakan, di dalam Injil Yohanes pasal 6 sampai pasal 8 sama seperti bapak mengutus aku demikian juga aku mengutus kamu ada kata sama-sama seperti bapa mengutus aku demikian aku mengutus kamu,” jelasnya.

Baca juga  GMDM DPW Kab Bogor Pasang Plang Lokasi Pendirian Panti Asuhan dan Rehabilitasi Narkotika

Bagi Mandang kalimat seperti ini beberapa kali muncul sama seperti bapa mengasihi aku demikian aku mengasihi kamu yang maknanya bahwa anak-anak Tuhan dipanggil untuk panggilan mulia.
Sementara itu, Pendeta Richard Daulay menyebut politik moral. “Yesus memperjuang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here