Berani,Tangguh Dan Beriman

0
308

Berani,Tangguh Dan Beriman

 

Nama saya Michael Thimoty Sandi Pratama Fenat, biasanya dipanggil Michael. Saya adalah seorang frater Serikat Misionaris Xaverian. Saya lahir di Jakarta, 21 Juni 1997. Saya besar di beberapa tempat karena mengikuti perantauan ayah, yakni masa Taman Kanak-Kanak (TK) di Pondok Gede, masa Sekolah Dasar di Jayapura, Papua, masa Sekolah Menengah di Makassar, Sulawesi Selatan, masa Seminari kecil di Magelang, Jawa Tengah dan pendidikan lanjutan hidup membiara di Serikat Misionaris Xaverian yang berlokasi di Jakarta Pusat.

Ayah saya bernama Krisantus Maximus Fenat dan ibu saya bernama Wilfrida Widiarti. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama adik saya adalah Matthew Alexander William Fenat. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang harmonis.

Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan perkuliahan semester V di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Apabila dihitung dari masa Seminari kecil, saya sudah hidup dalam kemandirian panggilan ini selama 5 tahun. Tetapi, terhitung menjadi frater adalah ketika saya memasuki masa Novisiat. Saya mengawali masa hidup mandiri ini di Seminari St. Petrus Canisius, Magelang, Jawa Tengah setelah menyelesaikan masa Sekolah Menengah di Makassar.

Perjumpaan saya dengan sahabat seperjalanan membantu saya untuk memilih jalan panggilan sebagai seorang imam. Imam seperti apa? Saya tertarik dengan imam misionaris yang memliki tugas unutk mewartakan Kristus ke segala bangsa. Ketertarikan itu semakin berkobar ketika membaca biografi dari pendiri Serikat Misionaris Xaverian, yakni St. Guido Maria Conforti. Kisah panggilan dan karya kerasulan yang dijalankan oleh St. Guido mendorong saya untuk terlibat dalam rencana misinya. Akhirnya, saya memilih untuk menjadi seorang misionaris, tepatnya Misionaris Xaverian.

Saya telah resmi menjadi bagian dalam keluarga Misionaris Xaverian tertanggal 31 Juli 2018 dengan mengikarkan kaul-kaul religius. Semasa saya menjadi seorang frater Xaverian, saya merasa beruntung karena diberkati dan dicintai oleh Tuhan melalui berbagai macam tantangannya. Pengalaman dicintai oleh Tuhan ini saya rasakan saat kedua orangtua saya mau menerima dengan rela keputusan saya untuk menjadi seorang misionaris. Hati mereka yang sebelumnya tidak menerima keputusan itu, akhirnya diubah oleh rahmat Tuhan.

Baca juga  *Surat Terbuka Komite Aksi Solidaritas Untuk Kasus Munir*

Kemudian, saya merasa diterima dalam keluarga Misionaris Xaverian dengan segala kelemahan dan kelebihan yang saya miliki. Keterbukaan hati dan sikap docibilitas (taat untuk dibentuk) menjadi satu cara yang membantu saya untuk semakin setia pada panggilan suci ini.

Apabila direnungkan mengenai duka dalam panggilan ini, saya merefleksikannya sebagai sebuah tantangan untuk menerima kenyataan tidak menikah, meninggalkan orangtua, sanak saudara, kebudayaan sendiri dan tugas-tugas kerasulan yang sulit. Perasaan sedih, kecewa atau bahkan kekeringan batin (desolasi) terkadang muncul ketika mengalami hal-hal yang sulit. Sebagai manusia beriman, saya percaya bahwa pilihan untuk menjadi imam misionaris ini adalah pilihan yang penuh risiko sekaligus berlimpah berkat. Berbagai macam tantangan dan kesulitan menjadi pemantik untuk maju dalam karya panggilan ini. “Ia yang setia memanggil manusia, Ia pula yang akan menyelesaikannya,” begitulah kutipan dari doa dalam Sakramen Imamat.

Semua pengalaman yang saya miliki begitu berlimpah, namun beberapa yang sudah bagikan di atas adalah bagian-bagian penting dalam perjalanan panggilan saya. Dengan itu, saya mengundang, dengan rendah hati, para pemuda-pemuda yang BERANI untuk mengambil bagian dalam rencana besar Tuhan untuk mewartakan Kristus kepada banyak orang melalui panggilan imamat ini. Jangan takut untuk memilih jalan ini, sebab risiko-risiko yang membuat kita ragu-ragu atau takut tidak akan membunuh kalian, melainkan akan MEMBENTUK kalian menjadi murid Yesus yang TANGGUH dan BERIMAN.

Bagi teman-teman yang merasa sudah mantap dengan jalan panggilannya masing-masing, jangan jemu-jemunya untuk memancarkan wajah Yesus yang baik dan murah hati. Wartakanlah itu dalam setiap pekerjaan dan karya-karya kalian. Jangan takut, Tuhan tetap setia untuk hidup Anda!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here