PIKI: MENCERDASKAN BANGSA MEMPERSATUKAN NEGARA

0
132

PIKI: MENCERDASKAN BANGSA MEMPERSATUKAN NEGARA

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), berdiri lima puluh enam tahun lalu. Hari ini, mungkin sekali ada banyak orang Kristen Indonesia dan warga Indonesia lain yang tidak tahu atau tidak mengenal PIKI. Organisasi yang berdiri tahun 1963 ini mungkin telah kalah pamor dari Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang baru berdiri pada tahun 1990. Kita patut mengakui, seiring dengan berkibarnya ICMI, di sisi lain, keberadaan dan kiprah PIKI semakin redup. Secara acak, saya bertanya mengenai PIKI kepada beberapa milenial Kristen yang saya temui dan mereka tidak tahu, apalagi mengenal PIKI.

Beberapa mahasiswa di Universitas Kristen Maranatha tahu atau pernah mendengar nama PIKI, sebab nama tersebut selalu terdengar saat profil UK. Maranatha ditayangkan melalui video. Mereka mendengar bahwa berdirinya UK. Maranatha tidak terlepas dari andil dan peran PIKI. Namun, selebihnya mereka tidak begitu mengetahui seluk-beluk dan kiprah PIKI hari ini.

Lebih jauh, kalau kita mencari profil PIKI di Mba Google, kita tidak akan menemukan profil agak lengkap dari PIKI. Yang ada hanya beberapa berita terbatas mengenai kegiatan yang diselenggarakan PIKI di Jakarta dan beberapa tempat lain. Namun, kalau kita mencari ICMI, maka profil yang cukup jelas mengenai organisasi cendikiawan Muslim itu akan langsung didapatkan di Mba Google. Ini sebuah tanda bahwa PIKI tidak cukup eksis di jagat milenial.

PIKI dan Perguruan Tinggi Kristen

Dalam sebuah percakapan ringan dengan Dr. Robert Borong beberapa jam yang lalu, saya mendengar kiprah PIKI di masa lalu yang begitu relevan dan signifikan, bukan hanya bagi kekristenan, tetapi terlebih bagi bangsa dan negara Indonesia.

Baca juga  Lima Fakta Unik tentang Tren Wisata Millennial Indonesia, Apakah Juga Kamu Lakukan?

Beberapa perguruan tinggi Kristen, selain UK. Maranatha Bandung, turut dibentuk atau didukung oleh PIKI, seperti UKI Jakarta, UKI Manado, UKI Toraja, UKI Maluku. PIKI memiliki perhatian yang besar terhadap pengembangan pendidikan dan pencerdasan bangsa Indonesia.

Para tokoh PIKI di masa lalu tentu sangat menyadari bahwa negara dan bangsa yang besar seperti Indonesia hanya bisa dibangun melalui jalan pendidikan.

Hanya dengan sumber daya manusia yang cerdas, yang dididik dengan karakter yang dijiwai nilai-nilai kristiani dan Pancasila yang berwatak universal itu, maka tubuh dan jiwa bangsa ini akan terbangun kokoh. Karena itulah, PIKI mendorong dan memelopori penguatan perguruan tinggi Kristen di Indonesia di berbagai wilayah.

PIKI dan Tantangan Masa Kini

Pada masa kini, kiprah PIKI sudah tidak terlalu dikenal dan dirasakan. Ironisnya, hal tersebut terjadi justru ketika kita begitu memerlukan gerakan pemikiran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini bangsa kita dijerat oleh soal-soal fundamentalisme, ektrimisme, bahkan terorisme. Pancasila yang menjadi fundamen, filosofi, dan jiwa bangsa terasa hanya menjadi slogan yang disampaikan secara retoris dalam forum-forum elit, tetapi tidak lagi dihidupi secara kuat dan relevan dalam keseharian.

Ekstrimisme yang sedang bangkit di Indonesia tentu bukan monopoli agama, apalagi satu agama tertentu. Benih-benih ekstrimisme itu ada hampir di semua agama. Bahkan, ekstrimisme itu bisa juga memakai jubah ultra nasionalisme, kesuku-bangsaan, dan secara ideologis ia dipakai untuk menebar kebencian dan kekerasan. Ekstrimisme bisa bekerja karena ada struktur ketakutan terhadap the others yang dibesar-besarkan dan disebarluaskan. Dan ketakutan itu berakar kuat dalam ketidaktahuan. Ketidaktahuan ini lalu dipakai sebagai alat dan senjata politik untuk merebut kuasa dan takhta dengan manipulasi kesadaran.

Baca juga  SEMINAR IDX CHANNEL, ECONOMIC OUTLOOK: SINERGI MEMBANGUN DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS

Alhasil, sejak bangsa ini merdeka dari kolonialisme Belanda, Inggris dan Jepang, kita tidak kunjung merdeka dari kuasa oligarki. Oligarki politik-ekonomi telah memusatkan kekuasaan dan kekayaan di tangan segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat hidup dalam keterbatasan, kemiskinan, dan diseret ke dalam suasana kompetisi yang tidak sehat dengan memanfaatkan ketidaktahuan. Potret semacam ini tentu menjadi ancaman bagi keutuhan dan keberlanjutan bangsa dan negara Indonesia.

Dalam konteks yang demikian itu, PIKI ditantang untuk merevitalisasi dirinya sebagai gerakan pemikiran dari kelompok epistemis Kristen. PIKI harus kembali tumbuh dan hidup di universitas, di gereja, dan di masyarakat dengan visi intelektual untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui pencerdasan, termasuk pencerdasan dan penguatan masyarakat sipil dan ekonomi, kita dapat melihat jalan-jalan baru untuk memperkuat negara. Memperkuat negara bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu pengetahuan, dengan kesadaran masyarakat yang dibentuk dan dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila. Memperkuat negara dengan kesejahteraan dan keadilan untuk semua golongan. Hanya dengan jalan itulah kita dapat melihat Indonesia yang bersatu dan kokoh berdiri.

Dalam dies natalis PIKI yang ke-56, kiranya jalan revitalisasi PIKI dan revitalisasi keindonesiaan kita dapat dirumuskan secara terang dan dikerjakan dengan penuh kesungguhan bersama golongan intelektual lain untuk Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

Selamat Rapat Kerja Nasional dan Selamat HUT untuk PIKI. Terimakasih telah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Teruslah berkarya dengan cerdas. Dirgahayu PIKI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here