20 Arsitek Profesional Jadi Reviewer di Pameran Karya Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur UPH

0
66

20 Arsitek Profesional Jadi Reviewer di Pameran Karya Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur UPH

Tangerang, Suarakristen.com

Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan 20 arsitek profesional untuk mereview lebih dari 200 karya Tugas Akhir mahasiswa Arsitektur UPH. Karya yang direview ini merupakan hasil proses studi dari mata kuliah wajib prodi Arsitektur, Studio Dasar, Studio Desain Arsitektur 1, Studio Desain Arsitektur 3, dan Studio Desain Arsitektur 5. Karya tersebut dipamerkan di galeri Gedung B lantai 4 Kampus UPH Lippo Village pada tanggal 3-6 Desember 2019.

Diantara ke-20 arsitek profesional tersebut beberapa taranya terdapat Astrid Susanti – Principal dari SAIA Architecture , Joe Willendra – Principal dari WOFF Architecture, Cahyo Candrawan – Principal dari Pavilion95, Willis Kusuma – WKA (Willis Kusuma Architect), Ardy Hartono – CoFounder Dua Studio.

Alvar Pradian Mensana, S.T., M. Arch. – Ketua Prodi Arsitektur UPH, menjelaskan bahwa pameran yang terintegrasi dari seluruh tingkatan ini bertujuan untuk menunjukkan proses studi Arsitektur yang fokus pada ‘Spaces for Cooperative Living’. Setiap karya memperlihatkan aplikasi desain sebuah ruang dari skala mikro hingga makro, mulai dari ruang terkait individu, ruang dalam skala single family, skala residensial, hingga ruang untuk memenuhi kebutuhan perkotaan. Semuannya didasari pada fenomena atau tren dan kebutuhan yang ada di lapangan.

Pameran ini disambut baik oleh para arsitek profesional, sebagai langkah yang baik untuk mengetahui penguasaan konsep berfikir mahasiswa dalam karya yang dihasilkan.

“Dengan pameran ini terlihat mahasiswa mampu berusaha menjawab persoalan yang ada. Pameran seperti ini juga sangat baik untuk review sejauh mana konsep berpikir mahasiswa. Kedepannya di dunia nyata akan banyak challenge yang berbeda, tapi dengan pameran ini menjadi langkah yang baik untuk mereka,” ucap Willis Kusuma – WKA (Willis Kusuma Architect), salah satu reviewer untuk pameran tingkat Studio Desain Arsitektur (SDN) 5.

Baca juga  Presiden Perempuan Untuk Kemajuan Indonesia.

Pameran tugas akhir ini mahasiswa ditantang untuk menghasilkan karya yang mencoba menjawab permasalahan yang ada. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa di mata kuliah Studio Desain Arsitektur (SDN) 5. Bekerja sama dengan Soongsil University, Korea Selatan para mahasiswa diajak menciptakan desain untuk menjawab permalahan yang ada pada kota-kota tertinggal di Korea Selatan.

Tidak hanya itu dengan pameran ini para reviewer dapat melihat potensi-potensi besar yang dimiliki mahasiswa Arsitektur UPH sejak di semester awal setelah mengambil mata kuliah Studio Dasar 1. Seperti yang diungkapkan Ardy Hartono – CoFounder Dua Studio, yang memuji potensi para mahasiswa 2019.

“Dilihat dari karyanya, mahasiswa sudah dapat menampilkan pemahaman dasar akan konsep ruang. Dari karya mereka dapat dilihat beberapa mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi seorang arsitektur,” ungkap Ardy.

Lebih lanjut pameran ini juga menunjukkan karya dari Studi Desain Arsitektur 2 dengan tema ‘Living With New Territory and Boundary’. Pada tingkat ini mencoba menampilkan desain ruang untuk single family. Konsep rumah tinggal 100-200 meter yang fokus pada teritori dan batasan yang ada dalam satu keluarga, disesuaikan dengan generasi Z.

Sementara karya mahasiswa semester 7 menampilkan konsep unik, “Co-Living” – suatu ruang yang mengakomodir keinginan saling berbagi antar individu namun tetap menjaga ruang privasi. Konsep ini dipilih oleh Jackie Thiodore – dosen kordinator mata kuliah Studio Desain Arsitektur 3, untuk mampu menciptakan solusi residensial yang memiliki ruang untuk pribadi sekaligus ruang komunal. Sebagai studi kasus, dosen memilih lingkungan perumahan Gading Serpong sebagai contoh, untuk para mahasiswa memikirkan konsep yang sesuai untuk Co-living.

Karya Co-living yang hasilkan mahasiswa ternyata mendapat pujian dari reviewer Maria Rosantina Principal Architect di D-Associates.

Baca juga  FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PEDOMAN PENGURUSAN JENAZAH (TAJHIZ AL-JANA’IZ) MUSLIM YANG TERINFEKSI COVID-19

“Karya mahasiswa yang ada fresh dan berani menawarkan hal yang baru. Pameran ini menjadi langkah baik untuk meminimalisir gap antara antara dunia pendidikan dan keadaan di lapangan. Untuk Konsep Co-Living ini juga menarik dan presedennya belum ada yang real, hanya menawarkan konsep co-living yang simple seperti konsep kost-kost. Jadi tema ini sangat relevan,” tutur Maria.

Melalui pameran tugas akhir mahasiswa angkatan 2016-2019, harapannya mampu memberikan gambaran bagaimana Arsitektur UPH selalu update terhadap tren dan kebutuhan yang ada di lapangan yang ditunjukkan melalui ide fresh para mahasiswa. Tidak hanya itu hadirnya para reviewer dari kalangan professional arsitektur juga menunjukkan relasi antara UPH dengan para professional, yang diharapkan semakin memperkaya mahasiswa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here