Kelemahan Ekonomi Indonesia Muncul ke Permukaan

0
121

 

● Pertumbuhan bertahan di angka 5% pada triwulan kedua 2019, didukung oleh konsumsi masyarakat dan swasta.

● Konsumsi dan investasi kemungkinan meningkat karena ketidakpastian politik akibat Pemilu tahun ini mereda. Kebijakan fiskal dan moneter ekspansif diharapkan mendukung kondisi tersebut.

● Sejumlah masalah belum teratasi, di antaranya defisit neraca berjalan yang semakin melebar, keresahan di pasar global, serta harga komoditas yang lemah.

● Kebijakan fiskal dapat menjadi lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan karena transmisi kebijakan moneter ke pertumbuhan lambat dan terkendala oleh pengetatan likuiditas.

● Implikasi terhadap perkiraan: Kami menurunkan perkiraan pertumbuhan menjadi sebesar 5,0% pada tahun 2019 serta tingkat suku bunga acuan dipangkas sebesar 50 basis poin dalam beberapa bulan mendatang.

● Implikasi terhadap investor: Kami tetap positif terhadap aset Indonesia, dengan preferensi sedikit lebih tinggi untuk obligasi pemerintah Indonesia bertenor 5-10 tahun.

Jakarta, Suarakristen.com

Pertumbuhan Kuat Pada Paruh Pertama 2019

Indonesia mencatat pertumbuhan stabil, sebesar 5%, pada triwulan kedua 2019, bertolak belakang dengan tren pertumbuhan menurun di negara lain. Penggerak utama pertumbuhan pada triwulan kedua 2019 adalah konsumsi masyarakat maupun swasta. Total konsumsi tumbuh sebesar 5,7% (jauh di atas rata-rata total konsumsi selama lima tahun terakhir, yang sebesar 4,8%). Konsumsi lembaga swasta dan nirlaba tumbuh 5,2% dan konsumsi pemerintah tumbuh 8,2%.

Pertumbuhan investasi menurun menjadi 5% pada triwulan kedua 2019 (dari 6,9% pada paruh pertama 2018). Kami berpendapat bahwa fokus pemerintah dalam bidang infrastruktur masih dapat mendukung pertumbuhan investasi meskipun tidak sekuat tahun lalu. Indeks Pembelian Manufaktur (Purchasing Manufacturing Index, PMI) terbaru masih menunjukkan wilayah ekspansi di angka 52,1.

Dalam pandangan kami, risiko terhadap neraca perdagangan masih negatif, dipicu oleh berlanjutnya ketegangan akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina serta depresiasi yuan Cina. Impor melambat dalam beberapa bulan terakhir, tetapi penurunan ekspor dapat berlanjut untuk beberapa waktu ke depan. Selain itu, tidak seperti negara lain, yakni Vietnam dan Taiwan, Indonesia belum memperoleh manfaat dari pergeseran produksi yang disebabkan oleh perang dagang.

Baca juga  REVIVO PRESENTS : Worship From Home #suarakulawancovid19

Defisit perdagangan, yang melebar pada paruh kedua 2019, lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu memburuknya ketentuan perdagangan (terms-of-trade), bukan disebabkan oleh volume. Volume ekspor (dalam hitungan tahunan dan moving average 3 bulanan, YoY 3mma) lebih tinggi daripada impor. Defisit yang semakin melebar kemungkinan akibat volume impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor karena pembangunan infrastruktur terus berlanjut.

Faktor Penunjang Peretumbuhan Ekonomi Tahun Ini

Dalam pandangan kami, meskipun sektor eksternal melambat, pertumbuhan Indonesia masih dapat bertahan sebesar 5,0% sesuai dengan potensinya. Dorongan yang timbul seusai Pemilu melalui pertumbuhan investasi lebih tinggi bisa menjadi faktor penting. Kami melakukan analisis sederhana, yang menilai empat pemilihan demokratis di era reformasi (1999, 2004, 2009 dan 2014). Kami menghitung rata-rata dan pita deviasi standar 1 (1-standard-deviation bands) di antara rata-rata variabel yang diteliti. Secara rata-rata, pertumbuhan melambat selama dua triwulan sebelum Pemilu dan menguat rata-rata sebesar 0,7% dalam dua triwulan berikutnya. Jika tren sama berlanjut tahun ini, kami masih berpendapat bahwa tingkat pertumbuhan bisa tetap berada di atas 5,0% pada tahun ini.

Studi kami tentang peristiwa (event study) juga menunjukkan bahwa konsumsi meningkat sebelum Pemilu dan kembali normal setelahnya. Investasi tumbuh lebih lambat sebelum Pemilu dan kembali meningkat setelahnya karena perilaku menunggu mereda. Secara rata-rata, investasi meningkat 0,6%, t + 2 setelah Pemilu.

Selain itu, tuas fiskal dapat menjaga momentum pertumbuhan. Secara keseluruhan, posisi fiskal sedikit lebih ekspansif pada paruh pertama 2019 jika dibandingkan dengan paruh pertama 2018. Hal ini bisa diukur dari keseimbangan primer, yang semula negatif berubah menjadi positif pada paruh pertama 2018. Namun, dibandingkan dengan paruh pertama 2017, posisi fiskal dinilai lebih ekspansif pada 2018 dan 2019. Oleh karena itu kami berpendapat bahwa kebijakan fiskal masih memiliki ruang untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan pada tahun ini.

Baca juga  Likee dan Xiaomi Berkolaborasi Hadirkan Online Live Music #MyHouseParty Bagi Milenial Saat #DiRumahAja

Bank Indonesia telah menekankan bahwa ada ruang bagi kebijakan moneter lebih akomodatif untuk mendukung pertumbuhan setelah pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan lalu. Namun, hal tersebut tidak akan memberikan dampak secara langsung terhadap pertumbuhan tahun ini karena keterlambatan transmisi kebijakan moneter. Likuiditas domestik, yang lebih ketat, dan penetapan kembali suku bunga (repricing), dan jeda selama 6 bulan antara penetapan kembali suku bunga pinjaman dan deposito, dapat membatasi efektivitas saluran suku bunga terhadap kredit sehingga mempengaruhi pertumbuhan.

Defisit transaksi berjalan (CAD) pada triwulan kedua 2019 memburuk hingga mencapai 3% dari PDB, dibandingkan dengan 2,6% dari PDB pada triwulan pertama 2019, karena repatriasi dividen musiman, pembayaran pinjaman luar negeri dan penurunan ekspor. Dengan pelebaran CAD dan ketegangan perang mata uang, yang tengah berlangsung, Bank Indonesia (BI) akan tetap berhati-hati dalam melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut. Kami berharap bahwa besarnya pemotongan suku bunga akan hampir sama sebagaimana kebijakan Bank Sentral AS sehingga dapat mempertahankan perbedaan tingkat suku bunga.

Setelah ledakan komoditas berakhir pada 2013, CAD melebar secara signifikan selama ekspansi pertumbuhan. Dalam 2 tahun terakhir, pertumbuhan, yang berada di atas 5,1%, menyebabkan defisit sebesar -7,4 miliar dolar AS (jika dibandingkan dengan defisit sebesar -4,7 miliar dolar AS untuk pertumbuhan di bawah 5,1%) dalam tiga tahun terakhir.

Guna mengurangi kecenderungan akibat CAD tersebut, kebijakan sektor riil perlu mengejar ketertinggalan ini melalui kebijakan di sisi permintaan (baik moneter maupun fiskal). Kebijakan sektor riil ini termasuk menindaklanjuti reformasi struktural, yang bertujuan untuk menurunkan biaya logistik, meningkatkan kemudahan dalam berbisnis, merealisasikan undang-undang ketenagakerjaan ramah bisnis, serta pengembangan industri berorientasi ekspor dengan nilai tambah lebih tinggi.

Baca juga  Tetap Semangat!

***

Tentang DBS

DBS adalah grup jasa keuangan terkemuka di Asia, dengan kehadiran di 18 pasar. Berkantor pusat dan terdaftar di Singapura, DBS memiliki pertumbuhan dalam tiga sumbu pertumbuhan utama Asia: Cina, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Peringkat kredit “AA-” dan “Aa1” bank termasuk yang tertinggi di dunia.

Dikenal dengan kepemimpinan globalnya, DBS telah dinobatkan sebagai “Best Bank in The World” oleh Euromoney, “Global Bank of the Year” oleh The Banker dan “Best Bank in the World” oleh Global Finance. Bank ini berada di garis terdepan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk membentuk masa depan perbankan, diberi nama “World’s Best Digital Bank” oleh Euromoney. Selain itu, DBS telah diberikan penghargaan “Safest Bank in Asia” oleh Global Finance selama sepuluh tahun berturut-turut dari tahun 2009 hingga 2018.

DBS menyediakan berbagai layanan lengkap untuk nasabah, SME dan juga perbankan perusahaan. Sebagai bank yang lahir dan dibesarkan di Asia, DBS memahami seluk-beluk berbisnis di pasar paling dinamis di kawasan ini. DBS berkomitmen untuk membangun hubungan yang langgeng dengan nasabah, dan berdampak positif terhadap masyarakat melalui dukungan perusahaan sosial dengan cara bank-bank Asia. DBS juga telah mendirikan yayasan dengan total dana senilai SGD 50 juta untuk memperkuat upaya tanggung jawab sosial perusahaan di Singapura dan di seluruh Asia.

Dengan jaringan operasional yang ekstensif di Asia dan menitikberatkan pada pada keterlibatan dan pemberdayaan stafnya, DBS menyajikan peluang karir yang menarik. Bank ini mengakui gairah, komitmen, dan semangat dari 27.000 karyawan kami, yang mewakili lebih dari 40 kebangsaan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here